Kita harus kembali menemukan pola kehidupan menjadi orang percaya yang benar. Untuk mengikut Yesus, murid-murid-Nya harus meninggalkan segala sesuatu; antara lain: pekerjaan, keluarga, lingkungan pergaulan, dan kampung halaman. Persis seperti yang dialami oleh Abraham. Sejak mereka mengikut Yesus, peta hidup mereka berubah sama sekali, dan tidak pernah menjadi sama lagi seperti sebelumnya, sampai mereka mati. Setelah kenaikan Yesus ke surga, orang percaya meneruskan tugas penyelamatan, yaitu menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Akhir hidup murid-murid Yesus pada umumnya sangat tragis: dipancung, digoreng di belanga panas, dicabik-cabik binatang buas, disalib dengan kepala di bawah, dan berbagai penderitaan yang sangat tragis. Tetapi, justru inilah keagungan pengikut Yesus, sebab dengan demikian, mereka menghidupkan kehidupan Yesus dalam diri mereka.
Bagi orang percaya—dalam pelaksanaan yang benar untuk mengiring Yesus—pada prinsipnya adalah meninggalkan segala keterikatan yang dapat mengganggu pengiringannya kepada Yesus. Prinsip penting yang harus dimiliki dan dijalani oleh orang percaya adalah tidak terikat dengan keindahan dunia ini. Agenda hidup yang dimiliki hanyalah memfokuskan diri untuk layak dipermuliakan bersama Yesus, yang untuk itu, harus hidup tidak bercela serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Di tengah-tengah dunia yang materialistis, dibutuhkan keberanian yang tinggi untuk dapat mewujudkan kehidupan yang benar atau kehidupan yang normal sebagai orang percaya. Dalam hal ini, kita harus memiliki integritas yang tinggi atau suatu kenekatan atau sikap ekstrem atau fanatisme yang luar biasa terhadap Tuhan Yesus. Integritas itu digambarkan seperti janda yang menghadap hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli siapa pun (Luk. 18:1-8). Hanya dengan integritas yang tinggi, orang percaya dapat mempertahankan kenormalannya di hadapan Allah.
Salah satu bahaya yang tidak disadari oleh banyak orang percaya—yang mana telah mengandaskan hidup iman banyak orang Kristen—adalah “kewajaran” hidup. Kekeristenan yang tidak normal di mata Allah menciptakan kekristenan sebagai agama dengan segala atribut-atributnya, sama seperti agama-agama pada umumnya. Hal ini membangun kehidupan yang wajar seperti anak-anak dunia. Memang kelihatannya baik di mata manusia, juga tidak menyalahi hukum, beradab, dan bernorma secara umum, tetapi tidak membangun kehidupan Yesus secara benar. Di sini, kekeristenan kehilangan nafas atau jiwanya, sehingga tidak ada pesonanya sama sekali. Seharusnya, pesona kekristenan terletak pada perilaku seperti Yesus, tetapi karena tidak ada pesona ini, orang-orang Kristen seperti itu tidak pernah menjadi utusan dan saksi Kristus yang menyatakan terang Tuhan yang menakjubkan (1Ptr. 2:9).
Banyak orang Kristen berpikir bahwa kekeristenan seperti yang dikenakan oleh murid-murid atau orang percaya gereja mula-mula tidak mungkin bisa dikenakan di zaman ini, yang keadaannya sangat jauh berbeda. Ini adalah pandangan yang sangat keliru. Kekeristenan harus dipahami sebagai kebenaran yang memiliki dinamisitas dan fleksibilitas yang sempurna. Ini berarti dalam segala keadaan, di segala tempat dan di sepanjang zaman, kebenaran dalam kekristenan—yaitu kehidupan Yesus—bisa dikenakan. Dinamisitas dan fleksibilitas kebenaran Injil mestinya dapat dikenakan oleh orang percaya zaman sekarang. Tetapi kalau terjadi kompromi—artinya praktik penyesuaian diri dengan keadaan—maka dinamisitas yang sejati menjadi mati.
Dalam hal tersebut, fleksibilitas tidak boleh diganti dengan sikap kompromi. Ketika terjadi kompromi antara orang Kristen dengan cara hidup anak-anak dunia—dimana kelihatannya orang Kristen masih memiliki dinamika hidup sebagai orang beragama Kristen—sejatinya, dinamika kekristenan tidak memuat nafas atau jiwa kebenaran Injil yang sejati. Mereka masih bisa melakukan berbagai kegiatan keberagamaan yang di“label” sebagai pelayanan, tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan pekerjaan Allah s...