Truth Daily Enlightenment

Tingkat Keseriusan


Listen Later

Menjadi pertanyaan yang harus selalu kita perkarakan, “Apakah benar kita memfokuskan hidup kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus sebagai kebutuhan utama? Atau ternyata masih banyak keperluan lain? Bahkan ironisnya, hal itu malah sebenarnya bukan sesuatu yang kita pandang perlu dan penting. Maka, perkarakan juga, seberapa serius kita berurusan dengan Allah? Kita memiliki perjalanan hidup, pengalaman dengan berbagai objek dan kegiatan. Kita mengerti bagaimana serius dalam studi, serius dalam karier, serius dalam berbisnis, serius membangun hubungan dengan relasi-relasi bisnis, relasi-relasi pejabat yang bisa men-support bisnis kita. Tentu kita juga mengerti apa artinya serius menggalang hubungan dengan seseorang, yang dengannya kita menyatakan cinta sampai kemudian membangun rumah tangga. 
Sekarang pertanyaannya adalah seberapa serius kita berurusan dengan Tuhan? Tuhan itu Tuhan yang seakan-akan diam; the silent God; Allah yang senyap. Kalau seseorang menganggap sepi Tuhan, maka sepilah Tuhan untuknya. Kalau ia menganggap Tuhan itu hidup, nyata, berpribadi, dan sungguh-sungguh memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang hidup, maka menjadi hiduplah Allah baginya. Jadi, Allah seakan-akan mati bagi orang yang menganggap Allah itu mati, tetapi bagi orang-orang yang memperlakukan Allah itu hidup, dia pasti mengalami perjumpaan dengan Allah dan mengalami Tuhan. Pernahkah kita serius mempersoalkan berapa saldo yang kita miliki di kekekalan? Seberapa puas Tuhan melihat kita? 
Selagi kita masih memiliki kesempatan hidup, yaitu ketika jantung kita masih berdetak, nadi kita masih berdenyut, masih ada napas di paru-paru kita mengembang, kita masih memiliki kesempatan untuk memperkarakan hal ini. Jika kita ternyata kurang berkenan di hadapan Allah, kita masih memiliki kesempatan untuk berdamai, untuk rekonsiliasi. Sebesar apa pun dosa kita, Tuhan mau mengampuni. Karena firman Tuhan mengatakan, “Walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia.” Jangan sampai kita miskin di kekekalan. Kita harus memiliki prinsip “Hanya Tuhan segalanya dalam hidup kita.” Seberapa kita merasa memerlukan Tuhan? Karena tingkat perasaan dan kesadaran kita dalam memerlukan Tuhan menentukan tingkat keseriusan kita dengan Tuhan. 
Banyak orang tidak merasa memerlukan Allah, kecuali dalam kondisi terpepet, dalam kondisi krisis, baru sungguh-sungguh. Orang seperti ini curang. Kalau ada masalah-masalah berat, ia mencari Tuhan, tetapi ketika tidak ada masalah, dia tidak mencari Tuhan dengan sungguh. Pernahkah kita berkomitmen untuk setiap hari bangun sebelum pukul 5 pagi untuk doa pagi? Yang mungkin dipandang orang, itu keterlaluan. Namun, kalau kita merasa memerlukan Allah lebih dari apa pun dan siapa pun, maka jangankan pukul 5 pagi, pukul 4 pun kita bangun. Orang berkata tidak bisa bangun pagi, tetapi untuk menonton pertandingan sepak bola pukul 4 pagi, dia bangun sejak pukul 3. Karena bola itu dianggap perlu, maka dia serius soal bola. 
Tuhan kita adalah Tuhan yang senyap. Ketika kita memperlakukan Tuhan secara sembarangan, kita anggap remeh, Tuhan diam. Ini justru mengerikan. Karenanya, kita harus memiliki kesadaran, membangkitkan gairah kita untuk merasa perlu Tuhan, dan mau serius dengan Tuhan. Perhatikan kalau pria atau wanita sedang jatuh cinta. Apa pun dilakukan demi orang yang dia cintai. Kalau orang tua sayang anak, apa pun dia lakukan demi anak. Seorang wanita lemah dan penakut pun jadi pemberani, bak pendekar sakti ketika anaknya terancam. Lalu, mengapa kita tidak memandang Tuhan sebagai yang kita perlukan lebih dari siapa pun dan apa pun? Kira-kira apa yang kita mau katakan di hadapan Tuhan saat nanti bertemu dengan Tuhan? 
Jangan sampai, ketika kita mati, baru kita sadar bahwa tidak ada yang dapat menolong dan menyelamatkan, kecuali Tuhan. Sejatinya, banyak orang Kristen yang sebenarnya sudah disesatkan oleh Iblis dengan bisikan sederhana, “kamu sungguh-sungguh dalam Tuhan atau tidak, sama saja.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings