Dalam kesesakan, ketika tidak ada yang bisa kita harapkan lagi, kita berseru: “Tiada yang kunanti lagi, apa pun di bumi ini.” Apakah benar demikian? Benarkah kita memproyeksikan, mengarahkan, memfokuskan hidup kita pada satu ini, yang kita anggap sebagai keperluan? Atau ternyata masih banyak keperluan lain? Ini malah sebenarnya bukan sesuatu yang dipandang perlu. Kalau kita mengutarakan atau menyatakan itu kepada Tuhan, sedangkan keadaan kita tidak sesuai dengan muatan kalimat dalam doa kita, berarti kita munafik.
Tetapi doa ini juga bisa menjadi “jebakan yang positif” dimana dengan mengutarakan hal itu, maka kita diarahkan dan dikondisikan untuk memiliki tujuan hidup yang benar, untuk memiliki warna hidup yang benar. Hal ini terkait dengan seberapa tinggi tingkat keseriusan kita berurusan dengan Allah. Kita memiliki perjalanan hidup, pengalaman dengan berbagai objek dan kegiatan. Maka tentu kita mengerti bagaimana serius dalam studi, karier, bisnis, menggalang hubungan dengan relasi bisnis, dan lain sebagainya. Masalahnya, Tuhan itu seakan-akan diam. Kalau seseorang menganggap sepi Tuhan, maka sepilah Tuhan untuknya. Kalau kita menganggap Tuhan itu hidup, nyata, berpribadi, dan kita sungguh-sungguh memperlakukan Dia sebagai pribadi yang hidup, maka menjadi hiduplah Allah bagi kita.
Seorang pengusaha, demi keuntungan uang untuk hidup pribadinya, keluarga, dan berbagai cita-cita lain, dia bekerja dengan serius. Karenanya, dia selalu melihat saldo bank yang dimiliki, neraca dagang bisnisnya, untung atau rugi. Dia menggeliat terus, bagaimana mengembangkan bisnisnya supaya tidak mundur, apalagi rugi. Tetapi pernahkah kita serius mempersoalkan rekening kekekalan kita? Sudah seberapa banyak harta yang kita miliki di kekekalan? Kalau nanti kita berjumpa dengan Tuhan, seberapa puas Tuhan melihat kita?
Selagi kita masih memiliki kesempatan hidup, yaitu ketika jantung kita masih berdetak, nadi kita masih berdenyut, nafas di paru-paru kita mengembang, berarti kita masih memiliki kesempatan untuk memperkarakan hal ini. Jika kita ternyata kurang berkenan di hadapan Allah, kita masih memiliki kesempatan untuk berdamai, berekonsiliasi. Jangan kita menjadi miskin di kekekalan. Kita harus memiliki prinsip: “hanya Tuhan segalanya dalam hidup kita.” Seberapa kita merasa perlu Tuhan? Karena tingkat kesadaran kita dalam memerlukan Allah menentukan tingkat keseriusan kita dengan Dia. Dan tingkat keseriusan itu paralel dengan tingkat kesadaran perlunya kita akan Allah. Banyak orang tidak merasa memerlukan Allah, kecuali dalam kondisi kepepet, dalam kondisi krisis. Orang-orang seperti ini curang.
Ironis, kita sering memperlakukan Tuhan secara sembarangan, kita anggap remeh, dan Tuhan diam. Ini justru mengerikan. Karenanya, kita harus memiliki kesadaran dan membangkitkan gairah kita untuk merasa perlu Tuhan. Mengapa kita tidak memandang Tuhan sebagai satu-satunya yang kita perlukan lebih dari siapa pun dan apa pun? Kalau seseorang menabur kehidupan yang memerlukan Tuhan dan serius berurusan dengan Tuhan, barulah ia bisa menyanjung Tuhan, dan berkata, “Lord, I adore You.” Dia peduli bukan hanya sakit jantung, ginjal, kanker, paru-paru, bahkan selembar rambut kita pun diperhatikan-Nya. Jangan meragukan kasih Tuhan.
Bagaimana kita bisa serius dengan Tuhan, tergantung seberapa kita mengobarkan cinta kita kepada Tuhan. Bukan seberapa besar masalah kita, sehingga kita baru serius dengan Tuhan. Bukan seberapa tinggi cita-cita kita, sehingga kita melibatkan Tuhan dan serius dengan Dia. Tapi seberapa kita mencintai Tuhan.
Allah memberi kita kebebasan untuk mengelola dan mengarahkan hati kita; apakah kita mencintai Tuhan atau tidak. Dan kalau kita mencintai Tuhan, seberapa besar bara cinta kita kepada Tuhan, itu tergantung kita. Kita yang harus menetapkan hati “aku mencintai Tuhan.” Jangan sampai kita tidak pernah menemukan cinta itu. Tuhan itu mencintai kita, Tuhan itu mengasihi kita.