Dalam percakapan antara Hawa dengan ular, kita dapati ularlah yang terlebih dahulu memulai percakapan: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Perkataan Iblis itu terkesan bodoh dan konyol, sangat mudah untuk membantahnya, sebab tidak mungkin Allah melarang Adam dan Hawa makan semua buah yang ada di Taman Eden. Perkataan setan atau Iblis tersebut menggoda Hawa untuk menjawabnya. Berbeda kalau Iblis memulai percakapan dengan perkataan: “Kalau kamu makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat kamu tidak akan mati, tetapi kamu akan menjadi seperti Allah,” tentu saja Hawa akan segera menjauhi setan atau tidak terpancing untuk berdialog.
Sekilas, setan atau Iblis seakan-akan menunjukkan ia bodoh dengan perkataan awal tersebut, tetapi justru di sinilah letak kecerdikannya. Melalui perkataan awal itu, Iblis menarik perhatian Hawa untuk bisa diajak berdialog. Mudahnya menjawab guna menangkis perkataan awal Iblis menyenderungkan Hawa membuka mulut untuk memberi respons, sehingga terjadilah dialog. Hawa memberikan jawaban atau respons terhadap perkataan awal Iblis tersebut, seakan-akan Hawa mau meluruskan apa yang salah. Dalam jawaban awal tersebut, terkesan Hawa juga sedang membela Tuhan yang difitnah, tetapi justru inilah awal kejatuhan manusia. Mestinya Hawa tidak perlu melakukan hal tersebut. Kemutlakan untuk menaati perkataan Elohim Yahweh mestinya sudah cukup membuat Hawa tidak kompromi sama sekali terhadap apa pun dan siapa pun yang dapat membuat dirinya melanggar larangan Allah. Respons atau reaksi Hawa itulah yang menjadi awal dari kejatuhan manusia.
Kalau Hawa sudah bisa diajak berdialog, maka Iblis lebih mudah menjerat Hawa dengan perkataan lain yang bisa memperdaya Hawa. Dari perkataan awal ular tersebut, pikiran Hawa dikacaukan. Iblis mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Allah. Itulah sebabnya, kita tidak boleh membuka celah sekecil apa pun untuk oknum itu. Firman Allah mengatakan: “Jangan beri kesempatan kepada Iblis” (Ef. 4:27). Kata “kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon (τόπον) yang artinya tempat berpijak (Ing. foothold). Kita tidak boleh memberi tempat berpijak sedikitpun bagi kuasa kegelapan karena hal itu akan merusak atau merendahkan martabat kita sendiri sebagai anak-anak Allah. Tanpa disadari, banyak orang Kristen sebenarnya sedang memberi tempat berpijak atau bahkan telah ada dalam pengaruh kuasa gelap karena telah memberi pijakan terhadap kehadirannya.
Kita tidak boleh kompromi sama sekali terhadap kuasa gelap. Itulah sebabnya, dalam Doa Bapa Kami Yesus mengajarkan kalimat: “Dan janganlah membawa ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Dari fragmen Hawa dan Ular tersebut, kita dapat memperoleh pelajaran bahwa kita harus sungguh-sungguh bersikap tegas menolak dan menjauhi segala sesuatu yang membuat kita bisa menyakiti hati Allah. Dalam menghadapi oknum setan, kita harus bersikap benar-benar tega, agar kita tidak terseret dalam pola permainannya. Hawa sudah terseret pada pola permainannya sehingga dengan mudah diperdaya oleh oknum tersebut. Demikianlah liciknya setan, menggunakan segala sesuatu untuk menjatuhkan manusia agar melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Iblis bisa menggunakan hal-hal sederhana, hal-hal kecil dan sepele, yang biasanya dianggap tidak membahayakan, namun ternyata merupakan jebakan dari kuasa gelap untuk membinasakan manusia.
Seperti kehidupan normal yang dijalani banyak orang Kristen hari ini, sebenarnya tanpa disadari membawa mereka kepada jebakan kuasa gelap. Kewajaran hidup adalah cara cerdik Iblis menggiring banyak orang Kristen ke dalam kesesatan yang bisa makin parah atau makin dalam, sehingga tidak dapat lagi kembali kepada Tuhan. Penyesuaian diri dengan cara hidup manusia pada umumnya sebenarnya adalah kompromi yang menempatkan banyak orang Kristen pada posisi yang sa...