
Sign up to save your podcasts
Or


“Dan karena setiap manusia memiliki anasir psikologis ke-Sengkuni-an,
maka secara naluriah ia ingin menyembunyikan diri dari
Sengkuninya masing-masing, dengan cara mencari siapa saja orang lain yang bisa dituduh Sengkuni.
“apa Sengkuni”pada kehidupan ber-Negara dan bermasyarakat kita. Bukan “siapa Sengkuni”. Karena pada ukuran tertentu, tidak tertutup kemungkinan bahwa pada hakikinya kita semua atau masing-masing adalah Sengkuni.
Sekedar flashback kecil: seluruh ummat manusia di muka bumi didera epidemi kesempitan, kedangkalan, dan kesumbu-pendekan di dalam pengalaman kejiwaan, intelektual, mental, serta kultural. Dimulai pada abad ke-14 di belahan bumi sebelah Barat, seabad dua abad kemudian penyakit massal itu menular ke dunia Timur. Persisnya Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Pemimpin kesempitan itu justru di wilayah utara.
Peradaban yang infrastruktur keilmuannya lahir abad ke-14, memuncak kehebatan dan kemewahannya di abad ke-20-21. Canggih di kasat mata, tapi amat sempit dan mengkhawatirkan kalau dilihat dari substansi apa dan siapa manusia ini sebenarnya. Mewah, megah, gemerlap, menakjubkan, tetapi sangat menggelisahkan bagi siapa saja yang memahami Sangkan Paraning Dumadi. Seluruh penduduk dunia merasa sedang sukses, hebat, dan lebih maju dibanding seluruh era-era sejarah sebelumnya.
Cerita tentang pengalaman mengelola konservasi komodo di Taman Nasional Komodo Flores Nusa Tenggara Timur.
Cerita perjalanan karya bangsa, tentang kejeniusan wastra nusantara.
Kegelisahan seorang designer grafis, tidak menyadari bahwa dirinya ikut andil berperan menciptakan limbah yang tidak raman lingkungan, juga ikut mempengaruhi opini masyarakat (konsumen) terhadap suatu produk. Sebaliknya seorang designer grafis juga semestinya ikut mendidik masyarakat agar kritis terhadap suatu produk.
“Komodifikasi Merdeka Belajar”
Belum genap sepekan setelah dilantik jadi menteri, Nadiem berkunjung sekolah elite Cikal di Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Dari sana ia memboyong gagasan “Merdeka Belajar” dan menjadikannya sebagai dasar kebijakan Kemendikbud. Tidak tahunya “Merdeka Belajar” telah dipatenkan sebagai hak milik perusahaan sekolah swasta.
Apa sih yang dimaui dengan gagasan “Merdeka Belajar”? Benarkah konsep “Merdeka Belajar” diturunkan dan sesuai landasan pemikiran Ki Hadjar Dewantara? Dan setelah hampir setahun berjalan, apakah ada tanda-tanda perubahan arah pendidikan kita?
Lalu, layakkah sebagai merk dagang, “Merdeka Belajar” dikibarkan sebagai dasar kebijakan pendidikan nasional? Apakah “Merdeka Belajar” akan memerdekakan anak dan memerdekakan pendidikan kita, ataukah ini hanya sekadar slogan atau jargon untuk menyembunyikan kebijakan pendidikan instrumentalis, yang tunduk pada kehendak pasar dan industri?
Lantas bagaimana guru dan komunitas pendidikan harus menyikapinya?
Cerita tentang perjalanan karya bangsa Nusantara tentang dunia texstil, tenun dll
From the publisher's feed