Men’s Talk

Toxic Positivity - Dampak dan Cara Mengatasinya


Listen Later

Sebelumnya, toxic positivity menjadi pembahasan, terkait dengan definisi dan ciri-ciri orang dengan toxic positivity. Kali ini, yang dibahas adalah dampak dan cara mengatasinya.

Dampak toxic positivity

Memicu stress karena emosi negatif ditekan dan menjadi overthinking, sehingga memicu stres berlebihan.

Kecemasan : di dalam pikirannya akan selalu muncul ketakutan kalau saja dia tidak menampilkan yang terbaik, kalau saja dia melakukan kesalahan hingga mengeluarkan emosinya, bahkan bisa mengalami gangguan kesehatan mental.

Merasa paling benar: Sebagian orang yang memiliki kecenderungan toxic positivity mereka ingin dianggap menjadi sosok paling positif dalam lingkungannya. Hal ini membuat orang tersebut menutup mata terhadap kenyataan-kenyataan yang sebenarnya. Dia akan selalu mencari pembenaran bahwa apa yang dia lakukan adalah hal benar.

Sulit bersosialisasi: seseorang menjadi tidak berani jujur bahwa dia sedang memiliki masalah. Hal tersebut jika terus menerus terjadi juga dapat membuat orang lain menjadi sulit bersosialisasi dengan dirinya.

Cara menghindari toxic positivity

  • Mengelola emosi:
  • Tidak selamanya menahan emosi negatif itu hal yang baik. Cobalah mengelola emosi supaya tidak tertahan di dalam hati dan menjadi penyakit. Mengeluarkan rasa marah, khawatir, antusias, sedih yang selama ini tertahan dapat membuat pikiran menjadi lebih rileks.

    • Pahami orang lain:
    • Ketika sedang berbincang atau menyampaikan curahan hati, kamu juga perlu memahami orang lain atau setidaknya mendengarkan mereka. Jika dirasa tidak mampu memberikan solusi kamu setidaknya jangan mengeluarkan kata-kata yang bersifat menghakimi.

      • Jangan suka membandingkan:
      • Berhentilah membanding-bandingkan diri sendiri maupun orang lain. Sebab, kita tidak benar-benar tahu kondisi orang yang dibandingkan tersebut.

        • Berdamai dengan diri sendiri:
        • Sebelum mulai memahami orang lain, pahamilah diri sendiri. Sebab, jika bukan dari diri sendiri yang mau memberi waktu dan berusaha memahaminya maka orang lain pun tidak akan bisa. Mencoba menghargai dan mencintai diri sendiri mulai dari hal yang paling sederhana yakni mendengarkan isi hati. Jika dirasa perlu meluapkan kesedihan, luapkan saja. Dengan begitu hati menjadi lebih tenang serta akan membantu kita menerima kenyataan yang sebenarnya.

          • Kurangi bermain media sosial:
          • Tahukah kamu bahwa terlalu banyak bersosial media dapat menyebabkan stres? Dengan melihat media sosial, kita dapat mengetahui apa saja yang terjadi atau yang dibagikan orang lain di kanal yang sama. Tentu banyak pengguna media sosial yang membagikan momen menarik, hal-hal baru, cerita inspiratif atau apapun untuk menunjukan bahwa kehidupan mereka baik-baik saja.

            Tanpa disadari terlalu banyak melihatnya membuat sebagian orang menjadi insecure terhadap kehidupannya sendiri.

            Hal ini akan meninggalkan penyakit yang tidak baik bagi kesehatan mental. Serta akan memicu sifat toxic tersebut muncul. Oleh karena itu, penting untuk kita mengetahui kapan saat yang tepat untuk bermain media sosial dan kapan saatnya berhenti.

            Berhenti dari dunia maya juga dapat memberikan mata serta pikiran kita rehat sejenak. Memberikan waktu untuk diri sendiri serta orang yang berada dalam lingkungan kita. Mengurangi bersosial media juga akan memberikan indra-indra kita lebih peka terhadap hal-hal sekitar yang secara alami mampu menstimulasi kembali indra dan pikiran.

            Cara mengatasi toxic positivity yang bisa kamu coba jika telah bekerja

            Tempat kerja merupakan tempat di mana Anda menghabiskan waktu terlama dalam sehari, selain kamar tidur yang merupakan tempat istirahat dan rekan kerja merupakan teman yang paling “dekat” dan paling lama “menemani” Anda, oleh sebab itu toxic positivity juga sebaiknya diatasi dan dihindari di tempat kerja.

            Bagaimana caranya?

            • Hindari orang dengan toxic positivity
            • Jika Anda menyadari ada rekan kerja atau lingkungan kerja yang memiliki kecenderungan toxic positivity, sebaiknya segera hindari dan pilihlah rekan kerja yang tidak keberatan jika kamu ingin membagikan pengalaman atau emosi negatif.

              Orang yang tepat bisa membantumu melewati masa sulit dengan sehat, bukan membuatmu semakin terpuruk, tapi ingat, sebaiknya jangan terlalu terpaku dengan emosi negatif yang dirasakan.

              • Jujur
              • Mungkin akan lebih mudah jika kamu menghindari percakapan yang tidak menyenangkan atau tidak menyampaikan kritik dan keluhan. Namun, nyatanya jika tidak mencoba menyampaikan masalah yang ada, kamu akan terjebak dalam toxic positivity.

                Terkadang ada situasi sulit dan perlu ditangani dengan segera dalam pekerjaan. Jika toxic positivity, biasanya percakapan seperti itu akan diabaikan, karena itu cobalah untuk proaktif. Misalnya, menyampaikan masalah yang sedang terjadi atau merasa kesulitan dan membutuhkan bantuan.

                • Coba untuk lebih mengenali emosi
                • Jika kamu merasakan emosi negatif, janganlah menyangkal ataupun menghindarinya. Namun, perhatikan juga untuk tidak berlebihan dan hiduplah secara realistis, hadapi berbagai emosi yang memang kamu rasakan.

                  • Belajar berempati
                  • Menunjukkan empati dapat membantumu memahami apa yang mereka rasakan dan membuat orang lain merasa didengarkan. Hal ini lebih baik daripada memberikan nasihat atau pendapat secara langsung, apalagi jika tidak tepat. Tidak perlu mengatakan setuju atau tidak setuju, tapi belajarlah mengakui apa yang orang lain rasakan. Misalnya, “saya paham mengapa kamu berpikir atau merasa demikian…”

                    • Membuat ruang yang aman untuk berkomunikasi
                    • Hal ini mungkin cocok untuk mereka yang menjadi atasan. Langkah ini dilakukan dengan membuat ruang yang aman sehingga anggota tim ataupun rekan kerja dapat membagikan ide atau pemikiran mereka tanpa takut diabaikan, disalahkan, atau menerima sanksi.

                      Misalnya, membuat saluran untuk menyampaikan keluhan atau tantangan, via rapat ataupun forum dan berbagai saluran lain.

                       

                      ...more
                      View all episodesView all episodes
                      Download on the App Store

                      Men’s TalkBy Yunus Hendry, Aditya Nugraha, Cindy, Linda, Rti