Men’s Talk

Toxic Positivity - Definisi dan Ciri-ciri Toxic Positivity


Listen Later

Dalam acara beberapa waktu lalu, Men’s Talk pernah membahas bahwa hal-hal yang negatif itu atau pemikiran negatif tidak selalu memberikan dampak negatif, bahkan bisa berkontribusi positif dalam produktivitas Anda.

Nah, selanjutnya, apakah mungkin ada kebalikannya, yaitu hal yang positif justru malah bisa memberikan dampak negatif? Ternyata ada lho! Namanya adalah toxic positivity.

Toxic positivity merupakan kecenderungan dalam memandang segala hal secara positif tanpa mempertimbangkan perasaan atau pengalaman negatif seseorang maupun sendiri yang mungkin juga ada di dalam diri individu. Sehingga seseorang bisa menjadi terlalu menekan habis-habisan emosi buruk dan menyebabkan disfungsi dalam aktivitas sehari-hari.

Dengan kata lain, toxic positivity adalah “Kondisi perilaku seorang individu dalam menuntut diri sendiri maupun orang lain untuk terus berpikir dan bersikap positif serta menolak emosi negatif yang sebenarnya dimiliki oleh setiap manusia. Hal ini berdampak buruk dan panjang pada kesehatan mental manusia.

Sebagai makhluk hidup yang memiliki emosi, mengutarakan sebuah emosi negatif bukanlah hal yang buruk. Ada kalanya manusia perlu mengeluarkan rasa marah, sedih, khawatir, kecewa bahkan frustasi supaya batin tidak selalu tertekan.

Orang dengan toxic positivity cenderung akan selalu memperlihatkan sisi baik dan positif dirinya namun di dalam hatinya mati-matian menahan emosi untuk keluar. Jika secara tidak sengaja dia mengeluarkan emosi maka dia akan merasa bersalah.

Pada umumnya perilaku tersebut muncul dari ucapan-ucapan orang, yang niatnya memotivasi, tetapi rupanya justru terdengar merendahkan atau berdampak buruk bagi orang lain.

Ciri-ciri secara umum:

Tidak jujur terhadap perasaan sendiri : selalu memperlihatkan sisi positif dari dalam diri dihadapan banyak orang supaya orang lain terpengaruh menjadi positif juga, tapi terlalu diforsir, bahkan ketika mengeluarkan emosi negative, ia akan merasa sangat bersalah.

Sulit mengelola emosi: alih-alih menjadi tenang, karena tidak mengeluarkan emosi diri, malah menjadi tidak tenang dan kesehatan mental beresiko terganggu.

Menghindari masalah: Untuk menekan perasaan-perasaan negatif muncul orang yang memiliki kecenderungan toxic positivity akan memilih menghindari permasalahan dan bukannya mencari solusi. Hal ini juga tidak tepat, sebab dalam hidup kita pasti akan menemui permasalahan yang serupa dan semakin sering menghindarinya hanya akan membuat kita menghadapi masalah yang jauh lebih besar.

Motivasi yang cenderung menghakimi: jika kamu sedang curhat, tapi merasa temanmu memberikan nasehat di mana seolah-olah penyebab semua masalah adalah dirimu sendiri, maka ada kemungkinan temanmu memiliki kecenderungan toxic positivity, atau bisa jadi justru kamu yang seperti itu?

Memberikan sebuah motivasi seharusnya dapat membantu seseorang menjadi bangkit lagi dari keterpurukan, atau bahkan menemukan solusi dari masalah. Bukan justru membuat orang lain merasa terbebani.

Membandingkan diri dengan orang lain: ketika Anda tanpa sadar menggunakan perbandingan supaya diri atau lawan bicaranya tampak lebih baik, terkadang hal tersebut justru menjadi sebuah racun. Contohnya: “Ah masalah segitu mah biasa, kalau aku pernah mengalami yang lebih parah tapi aku tidak pernah stres seperti kamu.”

Toxic positivity dalam dunia kerja

Menurut Harvard Business Review, toxic positivity memiliki dampak yang tidak boleh dianggap remeh oleh semua pihak baik dari pihak karyawan, rekruter hingga manajemen eksekutif,Dikarenakan dapat meningkatkan risiko kelelahan secara emosional, depresi dan kecemasan. Di samping itu, jika memaksa sesama individu untuk terus bahagia dan bersikap positif akan membuat beberapa orang merasa tidak dihargai maupun tidak didengar.

Berikut adalah beberapa tanda yang mungkin menunjukkan bahwa lingkungan kerjamu terinfeksi oleh toxic positivity:

1. Menolak atau mengabaikan perasaan dan pengalaman negatif karyawan

Jika kondisi lingkungan kerja sehat, selayaknya karyawan harus dapat merasa aman dan nyaman dalam mengutarakan masalah maupun tantangan yang mereka hadapi. Tetapi, jika karyawan merasa diabaikan atau tidak didengar opininya, maka ini pun sudah menjadi tanda bahwa lingkungan kerja kamu kurang ideal. Mengapa? Karena dengan tidak mengutarakan masalah atau tantangan, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan menganggap itu sebagai perasaan negatif dan buruk atau tidak pantas.

2. Memaksa karyawan untuk selalu bahagia dan positif

Dalam sebuah perusahaan memang ada culture dan nilai-nilai yang dianut, yang diadopsi oleh karyawannya. Namun, jika karyawan seringkali merasa terpaksa untuk selalu dalam kondisi senang, bahkan bersikap seolah tidak ada masalah atau rasa tidak nyaman yang mengganggu Ini pun termasuk tanda toxic positivity. Dengan culture yang terlalu memaksa untuk dibawa happy terus, bisa saja ada karyawan yang merasa terkekang dan tidak bebas untuk mengekspresikan diri.

3. Menyembunyikan masalah yang sebenarnya ada

Setiap masalah dan tantangan sejatinya harus dihadapi secara terbuka dan transparan agar dapat diatasi bersama secara efektif. Namun, jika organisasi maupun pimpinan bersikap abai dan menyembunyikan, maka inipun dapat termasuk kedalam tanda toxic positivity di tempat kerja.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Men’s TalkBy Yunus Hendry, Aditya Nugraha, Cindy, Linda, Rti