Lebih dari uang yang dapat kita berikan kepada Tuhan melalui kegiatan gereja, Tuhan lebih berkenan kepada kehidupan yang tidak bercacat dalam penggunaan tubuh kita ini. Kata “kudus” dalam teks aslinya di Roma 12:2 adalah hagios (αγιος). Kata ini sebenarnya memiliki pengertian “berbeda dari yang lain”. Dengan mempersembahkan tubuh sebagai korban yang kudus artinya agar dalam penggunaan tubuh, kita tidak berbuat dosa atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dalam 1 Tesalonika 4:7 Firman Tuhan berkata: Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Sejajar dengan 1 Tesalonika 4:7, dalam 1 Petrus 1:16 Firman Tuhan tegas berkata: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
Kesucian tubuh, yaitu bagaimana mengelola tubuh sesuai dengan kehendak Allah haruslah diperjuangkan, karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki orang percaya secara otomatis. Seberapa besar seseorang mencapai kesucian dalam tubuhnya sangat tergantung dari perjuangannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga harus berjuang (Luk. 13:24). Di bagian lain Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Tentu pilihan ini juga berdasarkan respon seseorang. Sangat menyedihkan, banyak orang Kristen kalau sudah merasa percaya dan menjadi orang Kristen, maka ia merasa pasti selamat masuk surga.
Secara khusus Petrus menasihati kita dengan pernyataan yang sangat jelas untuk hidup dalam kesucian Allah: Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1Ptr. 1:13-16). Orang Kristen yang tidak berani hidup suci dalam penggunaan tubuhnya, berarti tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya artinya menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayainya. Kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka ia harus bersedia untuk hidup dalam kesucian dengan tubuhnya.
Paulus dalam kesaksian hidupnya menyatakan: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Kor. 6:27). Melatih tubuh menunjukkan perjuangan Paulus untuk menjadi seorang yang berkenan kepada Tuhan, agar ia tidak ditolak oleh Allah. Paulus tidak peduli ditolak atau diterima oleh manusia (Gal. 1:9-10), tetapi ia takut ditolak oleh Allah. Itulah sebabnya Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, karena semua orang harus menghadap takhta pengadilan Allah (1Kor. 6:9-10).
Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Tuhan yang memiliki tubuh kita secara penuh. Sebenarnya, kita tidak lagi memiliki keberhakan atas tubuh kita ini. Harus dimengerti bahwa konteks 1 Korintus 6:12-20 adalah mengenai dosa percabulan. Di dalamnya Paulus mengajar kita untuk menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17). Untuk menjadi satu roh dengan Tuhan, tubuh kita harus kudus. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan dalam 2 Korintus 6:17-18, Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Dalam teks ini orang percaya dipanggil untuk keluar dari kehidupan yang tidak sesuai kehendak Allah, sejak di dunia ini dan dalam pergaulan di bumi.
Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita adalah Bait Roh Kudus.