Pertanyaan yang sukar dijawab terkait dengan kisah Adam dan Hawa adalah mengapa Adam dan Hawa bersetubuh dan berketurunan setelah jatuh dalam dosa? Mengapa tidak sejak dalam taman Eden? Bukankah mereka menerima mandat prokreasi (berkembang biak) sejak ada di dalam Eden? Jawaban yang paling dekat dan tepat adalah karena Adam dan Hawa harus menyelesaikan terlebih dahulu tugas untuk mencapai kesempurnaan (menjadi corpus delicti), sehingga dapat menjadi “pokok keselamatan” bagi seluruh keturunannya. Pokok keselamatan artinya menjadi penggubah atau menjadi yang sulung untuk memotori yang lain (keturunannya) menjadi sempurna, yaitu segambar dan serupa dengan Allah. Jika Adam telah menjadi segambar dan serupa dengan Allah, memiliki keberadaan sebagai Anak Allah, sempurna seperti Bapa, maka Adam boleh memiliki keturunan. Ini adalah rancangan ideal Allah.
Seandainya Adam berhasil mencapai kesempurnaan, yaitu serupa dan segambar dengan Allah, maka keturunannya akan memiliki gen yang sempurna dan selanjutnya terbimbing oleh Adam untuk mengenakan kodrat Ilahi. Tetapi ternyata Adam gagal, oleh sebab itu pasangan manusia pertama ini harus melahirkan keturunan untuk memenuhi rencana Allah. Rencana Allah adalah bahwa salah satu keturunannya akan meremukkan kepala ular. Keturunan yang akan meremukkan kepala ular itulah yang menggantikan Adam sebagai pokok keselamatan. Dialah Adam kedua atau Adam terakhir, yaitu Anak Tunggal Bapa yang turun dari surga, Tuhan kita Yesus Kristus.
Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Kata rupa dan gambar dalam teks aslinya (Kej. 5:3) adalah tselem dan demuth (מֵ֖לְצַ תֵ֑וּמדְ). Set memiliki rupa dan gambar Adam, bukan rupa dan gambar Allah. Hal ini hendak menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan oleh Adam segambar dengan “diri Adam”, sama kualitasnya dengan Adam yang sudah jatuh dalam dosa. Tselem dan demuth-nya sama dengan Adam, yaitu kualitas manusia yang telah jatuh dalam dosa yang tidak akan pernah bisa bertumbuh atau berkembang mencapai kualitas tselem demuth seperti yang dikehendaki oleh Allah. Di sini manusia terikat dengan hukum dosa yang sama dengan hukum kemelesetan, artinya manusia tidak akan mampu mencapai standar kesucian Allah.
Penting dipahami bahwa hukum dosa yang dimaksud oleh Perjanjian Baru bukanlah kodrat yang membuat manusia tidak bisa berbuat baik. Manusia tetap bisa berbuat baik dalam ukuran manusia, bukan ukuran Allah. Sebagai contohnya, mestinya Kain tidak membunuh adiknya Habel. Ia masih bisa menghindari perbuatan itu, kalau ia mau. Tuhan mengatakan kepada Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda dirinya, tetapi Kain harus berkuasa atasnya. Dalam hal ini Kain tidak dipaksa untuk berbuat salah. Kain sebenarnya bisa menghindari tindakan atau perbuatan membunuh adiknya, tetapi ternyata Kain lebih memilih untuk membunuh adiknya.
Dalam hal ini Kain sudah mewarisi karakter dosa di dalam dirinya dan tidak memiliki role model manusia Allah yang harus diteladani. Orang tuanya sendiri telah meleset dari rencana Allah, tidak menjadi manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah. Selanjutnya keturunan Kain dan Set pun berkeadaan sama. Semua manusia tidak memiliki gambar dan rupa Allah, tetapi gambar dan rupa Adam. Gambar dan rupa Adam ini di dalam pemandangan mata Allah atau di hadapan kekudusan Allah adalah “monster”. Monster dalam pengertian umum artinya makhluk yang bentuk atau rupanya sangat menyimpang dari yang biasa atau bisa juga makhluk yang berukuran raksasa, dan sering digambarkan sebagai makhluk yang jahat.