Orang-orang yang memiliki banyak keinginan untuk memuaskan hawa nafsu adalah orang-orang yang mengarahkan selera jiwanya kepada dunia. Mereka menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4). Kata “hawa nafsu” dalam teks aslinya di Yakobus 4:1-3 adalah hedone (ἡδονή) yang artinya pleasure (kesenangan), enjoyment in an unfavorable sense (kenikmatan dalam arti yang tidak menguntungkan). Kata hedone ini dalam Alkitab bahasa Indonesia juga diterjemahkan “hawa nafsu.” Kata “mengingini” (Yak. 4:2) dalam teks aslinya adalah epithumia (ἐπιθυμέω; lust), yang artinya keinginan yang kuat atau sangat mengingini (covet, craved, longing, desire). Pada dasarnya, orang-orang yang hedonistis adalah orang-orang yang menjadikan dunia ini sebagai kebahagiaannya. Mereka tidak akan pernah bisa menjadikan Allah sebagai kebahagiaan-Nya. Jika demikian, ia tidak selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah, sebab orang yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah adalah orang yang menjadikan Allah sebagai kebahagiaannya.
Orang memahami kebahagiaan sebagai perasaan senang, sukacita karena keadaan nyaman dan aman, tidak ada ancaman, keinginannya dipuaskan, dan cita-cita tercapai. Sebenarnya, kebahagiaan tergantung dari cara seseorang memandang hidup. Kebahagiaan seseorang menjadi sangat relatif, artinya tergantung persepsi seseorang mengenai apa kebahagiaan itu dan cita rasa jiwa yang biasa dialami atau dinikmati setiap hari. Melalui berbagai sarana atau pengalaman hidup, cara berpikir seseorang terbentuk dalam memandang apa yang dapat membahagiakannya. Pada umumnya—termasuk sebagian orang Kristen—orang membangun kebahagiaan hidupnya di atas dasar materi kekayaan dunia. Cara berpikir ini telah meracuni banyak orang, termasuk Kristen dan para rohaniwan. Tanpa disadari, cara berpikir banyak orang Kristen dipengaruhi oleh cara berpikir yang salah tersebut. Kalau cara pandang hidup sudah salah—menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target—ia akan diperbudak oleh sesuatu yang menjadi target tersebut. Orang seperti ini tidak akan pernah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah. Tentu saja mereka tidak dapat diubah oleh Tuhan kalau tidak bertobat dan meninggalkan cara berpikirnya yang salah tersebut.
Suasana dunia hari ini dengan filosofinya mengondisikan banyak orang, termasuk orang Kristen, untuk memiliki kebahagiaan yang ditentukan oleh materi kekayaan dunia dengan segala hiburannya. Tidak dapat dibantah, di dunia yang materialistis ini, pikiran manusia diarahkan untuk mengakui bahwa materilah sumber kebahagiaan. Dunia juga mengondisikan manusia untuk merasakan betapa hebat kekuatan uang dan nyata dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi hampir semua orang. Dengan demikian, banyak orang dikondisi untuk menjadikan uang sebagai kebahagiaannya, sehingga uang akan menjadi tujuan hidup. Mereka berpandangan bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, akan merasa semakin memiliki kebahagiaan. Cara berpikir ini juga telah meracuni pikiran banyak orang Kristen, sehingga mereka juga tertawan oleh cara berpikir tersebut, dan hidup dalam keterikatan dengan dunia. Padahal, keterikatan dengan dunia ini adalah suatu perhambaan; artinya kepada siapa hati seseorang terikat, kepadanya ia mengabdikan dirinya. Sebagai orang percaya yang mengerti kebenaran, kita harus berani menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan dan perlindungan satu-satunya. Tidak ada yang dapat diandalkan selain Tuhan. Dengan demikian, orang percaya tidak memiliki berhala apa pun.
Kalau seseorang mengandalkan materi sebagai kebahagiaannya, ia tidak pernah bisa bersekutu dengan Allah. Keselamatan yang Allah sediakan tidak pernah terwujud dalam kehidupan mereka. Dalam hal ini, Iblis bisa menyusup dalam gereja, melalui mimbar-mimbarnya dengan mengajarkan teologi kemakmuran yang mengarahkan pikiran bahwa Tuhan bukan satu-satunya kebahagiaan hidup. Dengan demikian, jemaat terparkir di dunia sehingga tidak mengalami keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesu...