
Sign up to save your podcasts
Or


Game udah bukan sebuah hiburan yang dikonsumsi pribadi aja layaknya masturbasi. Game multiplayer jadi sarana buat ajang pamer hal-hal yang lebih fana daripada postingan Instagram. Kayak Andri yang bangga kalo KO-in orang di Tekken atau Giri yang jadi guild leader. Single player is dead? Well, dengerin argumen host-host UMG kenapa kalian harus tetep main single dan multiplayer barengan.
Gerakkan Black Lives Matter dan LGBTQ+ sudah mempengaruhi industri game untuk lebih inklusif. Dari mulai banyaknya karakter queer di game sampai penyetaraan kecerdasan moral ras-ras fantasi seperti Orc dan Dark Elf. Apakah proses ini cukup terasa natural atau sebuah agenda yang dipaksakan? Yuk, dengerin pendapat pribadi host-host UMG mengenai hal ini. Dengarkan dengan bijak ya!
Bhinneka Tunggal Ika. Kita punya genre favorit yang beda-beda, namun tetap satu jua. Giri suka game tactic yang malah mendekatkan diri dia sama bokapnya yang jago catur. Kamga ngira dia suka game RPG tapi kenyataannya berbeda. Wibi suka banget sama Horror karena membantu dia melihat keburukan manusia. Sementara Andri malah bingung genre favoritnya apa.
Perdebatan sengit bertahun-tahun yang terjadi di dunia game dibahas di sini! #TeamGraphic vs #TeamGameplay. Masing-masing host UMG punya argumen masing-masing; dari suara menu Final Fantasy series yang iconic atau pentingnya struktur bulu ketek Abby Last of Us 2 yang bikin duniannya lebih imersif. Tapi kita semua setuju Aya Brea lah yang membuat kita merasakan pubertas.
Pada ngerasa gak RPG Jepang mulai kebarat-baratan? tapi ada juga lho western RPG yang kena Waifu-nization. Sebagai orang-orang yang udah kenal banget sama game RPG dari kecil, kita bakal ngeluh dan berharap sama trend game Jepang dan Western di masa depan. Tapi kalo RPG terlalu kompleks, kita juga ada saran buat game yang cocok buat gamer-gamer yang lebih casual.
Ultimecia itu Rinoa di masa depan? Sementara Dede Yusuf itu Squall? Kali ini ngomongin series game yang paling berpengaruh di setiap fase kehidupan kita, Final Fantasy! Teori konspirasi, Kenangan, kebahagiaan, kekecewaan, emosi dan harapan bercampur aduk di episode ini. Dan pertanyaan paling penting akhirnya terjawab! Mana yang terbaik di antara Final Fantasy 1-15?
"Selesaikan apa yang kamu sudah mulai" pepatah yang menjadi prinsip banyak orang menuju kesuksesan. Tapi sama gak ya buat gamer yang udah sibuk sama real life? Perlu gak sih namatin game yang sedang kita mainin? Apa nontonin orang main game aja cukup? Bincang santuy ngebahas cara nikmatin game yang paling enak buat pribadi masing-masing.
Masih inget game pertama kalian? Selain kerjaan dan tingkat rezeki yang beda-beda, anak-anak UMG juga punya latar belakang dan alesan masing-masing buat ngegame waktu masih kecil. Dengerin nostalgia kita tentang game-game apa yang mendefinisikan kita sambil nunjukin juga bahwa stigma-stigma gamer yang negatif gak apply ke kebanyakan gamer.
Kenalan dulu yuk sama gamer-gamer gak terkenal di balik Upah Minimum Gaming ada Kamga tukang nyanyi, Andri tukang gambar, Wibi tukang nulis dan Giri tukang gerak-gerakin gambarnya Andri (?). Kayak party di game RPG, punya role beda2 tapi semuanya punya tujuan sama, "Kaya gara2 gaming"! Petualangan dimulai dari podcast ini.
From the publisher's feed