Di media sosial, tampak dua kelompok—yaitu orang-orang rasionalis dan mistisis—menampilkan diri. Kelompok rasionalis memiliki kecakapan berbicara dalam mengemukakan doktrin dan ajaran-ajarannya; biasanya, mereka menganggap bahwa diri mereka adalah yang paling benar. Itulah sebabnya, mereka banyak berbicara dengan alasan hendak meluruskan ajaran orang yang dianggapnya salah dan merasa berkewajiban mengajarkan ajaran mereka yang mereka klaim paling benar. Mereka suka mengkritisi dan mengomentari pandangan, ajaran, dan praktik pelayanan orang lain. Biasanya, kelompok ini juga tidak segan-segan menuding denominasi lain atau ajaran pendeta-pendeta tertentu sebagai sesat. Tidak jarang mereka menyampaikan ujaran dengan kata-kata keras kepada orang lain dengan label “sesat, pembohong, penipu, tolol, bodoh, dan lain sebagainya. Berdasarkan pemahaman mereka, gereja atau orang lain yang tidak sesuai dengan ajaran mereka, pantas disebut sebagai bidat.
Kelompok rasionalis ini juga tidak segan-segan berdebat dengan agama lain, dan merasa memiliki kewajiban untuk berapologet, artinya menjelaskan dan mempertahankan iman Kristiani melalui dialog sampai pada perdebatan. Sebaliknya, orang-orang mistisis, biasanya tidak melakukan perdebatan-perdebatan teologi atau berapologet dengan agama lain. Mereka menampilkan Allah yang mereka percaya melalui kesaksian-kesaksian, yaitu kesaksian mukjizat dan penyataan kuasa Allah yang mereka alami yang mereka klaim sebagai pengalaman bersama Tuhan. Kalau kebanggaan para rasionalis adalah kepiawaian berteologi dan berapologet, sedangkan kebanggaan kelompok mistisis adalah penyataan demonstrasi kuasa Allah atau hal-hal yang bertalian dengan fenomena spektakuler yang mereka yakini sebagai manifestasi dari karunia-karunia Roh.
Bagaimana kita harus bersikap menanggapi fenomena ini? Sikap yang paling bijaksana adalah diam. “Diam di sini adalah tidak memberi komentar apa-apa terhadap mereka atau terhadap orang lain. Kita harus menghindari menyerang ajaran atau doktrin yang diyakini oleh orang lain yang kita pandang tidak sesuai dengan kita, apalagi menyerang pribadi pengajarnya. Dengan diam, apakah berarti kita tidak bertanggung jawab? Tentu kita bertanggung jawab dengan cara yang santun. Cara santun di sini maksudnya adalah kita mengajarkan doktrin atau ajaran yang kita pahami sebagai kebenaran yang Alkitabiah kepada lingkungan kita sendiri, tanpa membenturkan secara frontal (head to head) dengan doktrin atau ajaran orang lain, apalagi menyebut nama pribadi. Memang konsekuensi logisnya, bagaimana pun ajaran kita akan bersentuhan dengan doktrin dan ajaran orang lain, serta tidak jarang pula harus bertentangan. Tetapi, hal tersebut mestinya tidak menjadi penyebab permusuhan atau pertikaian. Perbedaan harus diakui ada dan sebagai sesuatu yang wajar. Perdebatan sampai pada tingkat pertikaian tidak memberi dampak yang baik untuk semua pihak.
Pada akhirnya, perdebatan tidak menghasilkan suatu kelompok berpindah pandangan ke kelompok lain. Kelompok masing-masing, baik yang rasionalis dan mistisis, sudah mengkristal, menjadi segmen yang permanen, tidak berubah lagi. Masing-masing orang bisa menyampaikan apa yang dipandangnya baik tanpa perdebatan dan pertikaian. Masyarakat yang akan menilai atau menimbang, mana yang dianggapnya benar. Orang yang suka berdebat dan berusaha menunjukkan kesalahan orang lain dengan alasan bahwa dirinya sedang membela kebenaran—padahal belum tentu demikian—adalah orang-orang yang “belum selesai dengan dirinya sendiri.”
Memang bisa saja Tuhan memerintahkan seseorang untuk menyampaikan kebenaran dengan menunjuk kesalahan orang lain, seperti Paulus menunjuk kesalahan Petrus (Gal. 2:11-14), tetapi hal tersebut tidak boleh menjadi alasan seseorang untuk bertindak secara sembarangan. Kita tidak meragukan sama sekali kapasitas Paulus sebagai rasul dalam bertindak demikian, juga tulisan Paulus yang mengkritisi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Injil yang diberitakan oleh...