
Sign up to save your podcasts
Or


“Tajuk Rasil”
Kamis, 10 Ramadhan 1445 H/ 21 Maret 2024
Wajah Ramadhan Kita; Sebuah Refleksi
Artikel Hidayatullah.com, Oleh : Muhammad Syafii Kudo
Menurut Imam Ghazali, ruh dan rahasia dari ibadah puasa adalah melemahkan kekuatan (nafsu) lewat ‘laku berlapar diri’. Kekuatan nafsu itu adalah wasilah setan untuk menjerumuskan kepada keburukan-keburukan. Dan tidak akan tercapai pelemahan kepada wasilah-wasilah setan itu kecuali dengan mempersedikit atau melakukan pengurangan terhadap kegiatan makan (yakni dengan berpuasa). Karena melalui wasilah makanan inilah setan mengalir di dalam diri setiap anak Adam. Disebutkan di dalam hadis yang berbunyi, “Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia pada tempat jalannya darah. Maka sempitkanlah tempat jalannya itu dengan lapar.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Di dalam khazanah sastra Nusantara, ada sebuah Gurindam masyhur yang disebut dengan Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang mana disebutkan di dalam Gurindam ketiga pada baris (pasal) kelima, “Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fi’il yang tiada senonoh. Yang maknanya kurang lebih adalah jika perut diisi penuh dengan makanan maka akan berpotensi membuat orang yang bersangkutan berbuat hal-hal yang tidak patut (buruk). Senada dengan hal ini, Sahabat Sahl Radiyallahu Anhu mengatakan, “Siapa saja yang makan makanan yang haram, maka akan bermaksiat anggota tubuhnya, mau ataupun tidak mau.” Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda, “Tidaklah yang baik itu mendatangkan sesuatu kecuali yang baik pula.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari penjabaran beberapa dalil di atas, penulis berasumsi bahwa berbagai kelakuan kelewat batas orang-orang saat ini baik di tengah masyarakat seperti tawuran antar remaja yang belakangan terjadi di beberapa kota di Indonesia, maupun di media sosial semisal dengan menyerang privasi orang, ghibah lewat komentar, tajassus dengan cara stalking, salah satu faktornya adalah ihwal berlebihan dalam perkara makanan. Sebab perut yang dibiarkan terlalu kenyang justru akan menumpulkan akal sehat sehingga kelakuan serampangan tanpa pertimbangan akal sehat mudah dilakukan..........
By Seila fm Batam“Tajuk Rasil”
Kamis, 10 Ramadhan 1445 H/ 21 Maret 2024
Wajah Ramadhan Kita; Sebuah Refleksi
Artikel Hidayatullah.com, Oleh : Muhammad Syafii Kudo
Menurut Imam Ghazali, ruh dan rahasia dari ibadah puasa adalah melemahkan kekuatan (nafsu) lewat ‘laku berlapar diri’. Kekuatan nafsu itu adalah wasilah setan untuk menjerumuskan kepada keburukan-keburukan. Dan tidak akan tercapai pelemahan kepada wasilah-wasilah setan itu kecuali dengan mempersedikit atau melakukan pengurangan terhadap kegiatan makan (yakni dengan berpuasa). Karena melalui wasilah makanan inilah setan mengalir di dalam diri setiap anak Adam. Disebutkan di dalam hadis yang berbunyi, “Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia pada tempat jalannya darah. Maka sempitkanlah tempat jalannya itu dengan lapar.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Di dalam khazanah sastra Nusantara, ada sebuah Gurindam masyhur yang disebut dengan Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang mana disebutkan di dalam Gurindam ketiga pada baris (pasal) kelima, “Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fi’il yang tiada senonoh. Yang maknanya kurang lebih adalah jika perut diisi penuh dengan makanan maka akan berpotensi membuat orang yang bersangkutan berbuat hal-hal yang tidak patut (buruk). Senada dengan hal ini, Sahabat Sahl Radiyallahu Anhu mengatakan, “Siapa saja yang makan makanan yang haram, maka akan bermaksiat anggota tubuhnya, mau ataupun tidak mau.” Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda, “Tidaklah yang baik itu mendatangkan sesuatu kecuali yang baik pula.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari penjabaran beberapa dalil di atas, penulis berasumsi bahwa berbagai kelakuan kelewat batas orang-orang saat ini baik di tengah masyarakat seperti tawuran antar remaja yang belakangan terjadi di beberapa kota di Indonesia, maupun di media sosial semisal dengan menyerang privasi orang, ghibah lewat komentar, tajassus dengan cara stalking, salah satu faktornya adalah ihwal berlebihan dalam perkara makanan. Sebab perut yang dibiarkan terlalu kenyang justru akan menumpulkan akal sehat sehingga kelakuan serampangan tanpa pertimbangan akal sehat mudah dilakukan..........