Dewasa ini banyak orang Kristen yang tidak mengenal Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru. Mereka memandang Yesus seperti orang-orang kafir memandang allah atau dewanya. Di antaranya, menganggap dan memperlakukan Tuhan Yesus seperti jin yang terdapat pada lampu ajaib milik Aladin dalam kisah seribu satu malam. Kalau lampu digosok-gosok akan muncul jin yang menyediakan diri melayani keinginan majikannya, yaitu seseorang yang menggosok-gosok lampu tersebut. Apa pun permintaan majikannya tersebut akan dikabulkan. Praktik ini juga ada pada kehidupan orang-orang Kristen yang menganggap atau berkeyakinan bahwa kalau mereka percaya kepada Tuhan Yesus, dengan menggunakan nama-Nya, maka mereka dapat memperoleh apa saja yang mereka yakini. Dalam hal ini iman hanya dikaitkan dengan permintaan atas kebutuhan jasmani.
Karena pemahaman salah tersebut, maka banyak orang Kristen yang menggunakan nama Yesus secara sembarangan. Mereka berpikir bahwa nama Yesus seperti nama ajaib yang dapat dijadikan semacam mantera. Mereka berkeyakinan bahwa kalau mereka menggunakan nama Yesus, maka apa pun yang diingini yang dianggap sebagai kebutuhan, pasti dapat terjadi atau kemungkinan besar terwujud. Yesus yang dipercayai seperti ini sesungguhnya bukan Yesus yang asli. Itu seperti sosok jin yang diberi nama Yesus. Itulah jin Yesus, artinya Yesus yang asli dianggap seperti jin. Sesungguhnya Yesus yang asli tidaklah demikian.
Terkait dengan hal ini kita harus bisa membedakan antara iman dan berpikir positif. Keyakinan terhadap sesuatu yang diyakini pasti terjadi, bukanlah iman. Itu hanya keyakinan dalam nalar yang juga disebut sebagai berpikir positif. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Untuk memiliki iman, seseorang harus mengenal kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah tersebut. Dalam hal ini iman adalah kesediaan untuk diatur oleh Tuhan, bukan sebaliknya, mencoba mengatur Tuhan. Jika Tuhan Yesus bisa diatur oleh “keyakinan nalar” atau yang juga disebut sebagai berpikir positif, berarti Tuhan bisa diatur oleh manusia. Ini adalah kesalahan yang fatal.
Hendaknya kita tidak berpikir bahwa dengan nama Yesus Kristus, maka kita dapat mengatur Allah sesuka kita sendiri. Penggunaaan nama Yesus harus benar. Nama Yesus adalah nama Juruselamat yang harus dijunjung tinggi. Bukan sembarangan digunakan untuk kepentingan diri sendiri. Menggunakan nama Yesus berarti kesediaan mengakui adanya pemerintahan Allah. Kita tidak boleh bertindak di luar kehendak dan rencana Allah. Selanjutnya, penggunaan nama Yesus harus untuk kepentingan Kerajaan Allah.
Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa kalau orang percaya meminta dalam nama-Nya, maka Tuhan Yesus akan menjawab atau mengabulkan, harus dimengerti dalam konteks yang benar. Tuhan Yesus mengatakan: … dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh. 14:13-14). Konteks ayat ini adalah ketika seseorang mengerjakan pekerjaan Bapa, bukan hidup untuk kepentingan diri sendiri, maka permintaannya ditanggapi. Tentu saja orang yang mengerjakan pekerjaan Bapa, segala sesuatu yang diminta untuk kepentingan pekerjaan-Nya. Dalam Yohanes 16:24, tertulis perkataan Tuhan: Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Konteks ayat ini adalah kegembiraan orang percaya bukan karena harta dunia, tetapi karena Tuhan. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak akan meminta sesuatu yang digunakan untuk kepentingan duniawi. Dan banyak ayat lagi yang berbicara mengenai doa yang akan dikabulkan oleh Tuhan Yesus, tetapi pasti ada konteksnya secara jelas.