Banyak pengkhotbah mengajarkan bahwa Yesus adalah pribadi yang selalu akan mengadakan kesembuhan bagi semua orang. Mereka mengesankan bahwa kuasa-Nya itulah yang mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya. Ini adalah pandangan yang salah. Yesus yang diperkenalkan demikian, sejatinya adalah “Yesus yang lain.” Mukjizat selalu dikaitkan dengan keadaan mustahil yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Oleh sebab itu, kalau manusia menghadapi masalah-masalah pelik yang melampaui kekuatannya, manusia mengusahakan mukjizat untuk penyelesaiannya. Yesus memang mengadakan mukjizat, tetapi sebagai tanda agar orang-orang Yahudi mendengarkan pengajaran-Nya (Yoh. 3:1-5).
Bagi umat Perjanjian Baru, mukjizat dilakukan untuk maksud yang berbeda dengan pemberian mukjizat dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus mengadakan mukjizat sebagai tanda untuk membuktikan bahwa diri-Nya berasal dari Allah. Jadi, mukjizat diadakan dengan maksud agar bangsa Israel pada zaman penggenapan bisa mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tanpa mukjizat, sulit bagi bangsa Israel untuk memalingkan diri dan membuka telinga untuk mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Yesus. Dalam hal ini, kita memperoleh pelajaran, bahwa seseorang dapat berpaling untuk mendengar kebenaran Injil bukan karena kuasa Allah yang menggerakkan diri seseorang datang ke gereja, melainkan melalui proses natural, yaitu melihat mukjizat. Ketika mereka melihat mukjizat, mereka tertarik untuk terus mendengar apa yang diajarkan oleh Yesus.
Mukjizat yang Tuhan lakukan pasti memiliki maksud tertentu. Ia tidak bermaksud hendak pamer kekuatan. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang masih berusaha untuk memamerkan kekuatan Tuhan Yesus, bermaksud untuk membuktikan kebesaran dan kebenaran-Nya. Tindakan ini adalah tindakan yang bodoh. Tindakan itu justru mengesankan bahwa Allah kita sejajar dengan sesembahan agama lain. Pengkhotbah dari “Yesus yang lain” mengesankan bahwa Tuhan sedang berkompetisi dengan alah-alah lain. Melalui mukjizat, “Yesus yang lain” tersebut hendak meninggikan dirinya dan membuktikan bahwa dirinya adalah Tuhan yang benar. Mestinya kebenaran Tuhan tidak dibuktikan oleh mukjizat kuasa-Nya, melainkan oleh kualitas perilaku pengikut-Nya. Yesus tidak terus-menerus melakukan mukjizat, sebab tujuannya adalah keselamatan, yaitu diubahkannya karakter seseorang untuk dikembalikan ke rancangan semula Allah.
Dalam banyak komunitas Kristen kita sering mendengar kesaksian-kesaksian mengenai keajaiban-keajaiban terkait dengan masalah-masalah jemaat. Mereka mengklaim bahwa kuasa Yesus yang ajaib, yang tiada duanya telah menolong mereka. Ironisnya, masalah-masalah tersebut juga dialami semua orang di luar gereja, dan mereka juga mendapat jalan keluar. Faktanya, orang-orang di luar Kristen juga dapat memperoleh jalan keluar dari masalah-masalah hidup yang dialami oleh orang-orang Kristen tersebut. Sudah saatnya orang percaya tidak bertindak bodoh, tetapi cerdas dan bijaksana. Kesaksian-kesaksian spektakuler yang berunsur mukjizat seharusnya tidak lagi menjadi cara untuk membuktikan bahwa Allah yang disembah orang percaya adalah Allah yang benar. Orang percaya tetap dapat membuktikan kebenaran imannya dengan mengenakan gaya hidup Yesus, Dengan cara demikian, dapat membuktikan kebenaran Allah dan Tuhan yang orang percaya sembah. Dalam hal ini orang percaya barulah efektif menjadi saksi bagi Kristus (Kis. 1:6-8).
Ketika mukjizat menjadi tujuan seperti yang diajarkan oleh “Yesus yang lain,” maksud tujuan keselamatan pun bisa meleset. Dalam hal tersebut, kesalahpengertian mengenai mukjizat bisa sangat berpotensi membangun kegagalan terwujudnya keselamatan. Kesalahpengertian mengenai mukjizat berpotensi besar menimbulkan penyalahgunaan atau manipulasi pelayanan, bukan untuk berita keselamatan. Dalam hal ini, kesalahan tersebut adalah menciptakan kondisi di mana mukjizat menjadi komoditas untuk keuntungan materi dan kebanggaan pribadi.