
Sign up to save your podcasts
Or


Di episode kali ini, dr. Riyanti Windesi adalah seorang dokter spesialis anak yang bertugas di RS Selebesolu Sorong, hobi memotret dan melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok wilayah terpencil, membuat buku foto dan menulis cerita anak bersama anak laki-lakinya yang bekerja sebagai ilustrator.
Memiliki hobi fotografi, bersama suami menerbitkan Buku Edukasi/panduan "Birds of Raja Ampat" yang memotret lebih dari 100 burung yang ada di Raja Ampat. Baginya mendokumentasikan cerita yang beliau temukan dalam cerita anak menjadi pintu masuk bagi anak-anak Papua mengenal dunia luar dan budayanya.
Timor Moringa mengkreasi daun kelor yang penuh gizi dalam berbagai varian produk yang digemari oleh berbagai kalangan.
Lewat program Moringa as Feed, Moringa as Food, Moringa as Fertilizer, dan Moringa as Farm berupaya memanfaatkan semua unsur kelor untuk kepentingan masyarakat. Selain sudah memiliki kelompok petani binaan, Timor Moringa juga sudah memberikan berbagai macam pelatihan kepada puluhan petani lokal kelor. Seperti motto yang diemban Timor Moringa is Equal with Moringa's Farmers.
Dari tahun ke tahun, dampak mulai terlihat khususnya dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi dan peningkatan gizi keluarga.
Di episode kali ini, menghadirkan narasumber seorang wirausaha social dari Kupang, Nusa Tenggara Timur yaitu Meybi Agnesya Neolaka, CEO dan Founder Timor Moringa. Sebuah perusahaan bergerak meningkatkan kesejahteraan petani di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui inovasi produk daun kelor. Timor Moringa menepis stigma yang selama ini melekat di masyarakat di NTT bahwa kelor itu identik dengan makanan orang miskin, dengan memproduksi berbagai varian kelor mulai dari coklat kelor, teh kelor hingga serbuk kelor yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Bagaimana bambu bisa mensejahterakan masyarakat? Yayasan Bambu Lestari memperkenalkan metode 333 model desa bambu.
1 kelompok petani yang terdiri dari 30 kepala keluarga. Mengelola 300 hektar, apabila dikalkukasi plus minus 1 KK mengelola 10 hektar. Maka dari pengelolaan bambu ini akan menghasilkan 3 ton per hari. Dengan sistem tersebut, menghasilkan 6-10 juta per KK per bulan. Menjanjikan bukan?
Seperti apa potensi bambu untuk industri di Indonesia?
Simak perbincangan kami bersama Arief Rabik (Yayasan Bambu Lestari) mengenai konsep Hutan Bambu Lestari yang dapat menyokong beragam industri di masa depan melalui pemanfaatan bambu yang lestari.
Anda dapat mendengarkan podcast BaKTI pu Suara - Basuara di Spotify bit.ly/basuara dan Apple Podcast.
Podcast Basuara dengan subtitle Bahasa Indonesia dapat dinikmati juga di kanal youtube Yayasan BaKTI www.youtube/baktifoundation.
Selamat menikmati..
Podcast Basuara kali ini mengangkat kegiatan pelestarian lingkungan hidup yang unik dari kawasan timur Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Sekolah Lapang Bambu yang dikelola oleh Yayasan Bambu Lestari di Nusa Tenggara Timur.
Bambu telah banyak digunakan sejak jaman dahulu kala dan bahkan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat di kawasan timur Indonesia. Selain manfaat ekonomi, bambu semakin dikenal dengan manfaat ekologisnya. Sekolah Lapang Bambu di Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu dari beberapa inisiatif besar yang dikembangkan oleh Yayasan Bambu Lestari karena mereka percaya bahwa pendidikan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dapat menjadi katalisator dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya dalam mitigasi perubahan iklim.
Serial podcast 'Bambu untuk Masa Depan Indonesia' bersama Arief Rabik dari Yayasan Bambu Lestari, mengangkat berbagai hal yang menjadi dasar terbentuknya Sekolah Lapang Bambu antara lain: nilai ekologis dan ekonomis bambu serta potensinya untuk upaya pelestarian lingkungan; bagaimana memanfaatkan bambu secara berkelanjutan; dan bagaimana memberdayakan masyarakat khususnya perempuan melalui pemanfaatan bambu dan pelestarian alam secara berkelanjutan.
Indonesia dengan keberagaman suku, bahasa, budaya, adat istiadat merupakan suatu anugerah bagiperkembangan dan kemajuan sekaligus berpotensi mendatangkan konflik dan perpecahan yang mengakibatkan ketidakharmonisan bahkan perpecahan bangsa dan negara.
Menghadapi pandemi COVID-19 setahun lalu, hampir semua orang merasakan berada di situasi yang bingung, ketakutan serta tidak tahu kita harus berbuat apa, apalagi untuk perempuan yang kelas menengah ke bawah yang memang menggantungkan kebanyakan menggantungkan hidupnya pada penghasilan suami, harus memutar otak agar kebutuhan rumah tanga tetap terpenuhi di saat suami sebagai pencari nafkah turut terimbas pemutusan hubungan kerja atau dirumahkan.
Ruang Kolaborasi Perempuan turut merespons pandemi COVID-19 melalui program Support our Sisters merangkul memberdayakan perempuan-perempuan yang sudah, maupun yang belum ataupun sedang merencanakan kewirausahaan namun terhambat karena pandemi, dengan memberikan akses dan meningkatkan kemampuan perempuan berbekal potensi yang dimiliki untuk bangkit bersama.
Siapkah kita menghadapi pandemi-pandemi lainnya di masa depan? Setahun pandemi COVID-19 membuka mata kita akan pentingnya laboratorium biomolekular
Seperti apa pembelajaran jarak jauh di daerah yang minim akses listrik dan internet?
From the publisher's feed