Ida Swasti adalah pendiri sebuah brand pakaian dalam, Nipplet. Ida terinspirasi mendirikan Nipplets pada 2016 silam karena merasa sulit menemukan lingerie berkualitas bagus dengan harga yang terjangkau saat kembali ke Indonesia sepulangnya dari menempuh pendidikan di luar negeri. Selama hampir enam tahun berdiri, Nipplets telah menghadirkan koleksi lingerie dalam berbagai model, ukuran, pola, dan bahan yang berbeda-beda. Mulai dari nightgown, babydoll, bra set, sexy lingerie, crotchless, panties, hingga easy access bra.
Perhatian terhadap isu kepercayaan diri yang dihadapi banyak perempuan, menginisiasi Nipplets untuk meluncurkan kampanye Real People Real Body (RPRB). Kampanye yang sudah dijalankan sejak 2019 lalu itu bertujuan mengajak perempuan agar lebih menghargai bentuk tubuh yang dimiliki. Selain itu, kampanye ini juga bertujuan agar perempuan bisa tampil nyaman dan percaya diri saat memakai lingerie tanpa merasa insecure.
Melalui kampanye ini Ida ingin mendobrak stigma di masyarakat soal pakaian dalam perempuan, khususnya lingerie. Bahwa dengan memakai lingerie enggak lantas membuat perempuan menjadi perempuan ‘nakal’. Lingerie juga bukan cuma untuk perempuan dengan badan yang bagus dan sudah memiliki suami. Semua perempuan berhak merasa seksi untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Semua perempuan berhak merasa percaya diri memakai lingerie.
Kampanye ini digagas langsung oleh Ida yang terinspirasi dari curahan hati para pelanggannya tentang pengalaman body shaming. Selain itu, Ida juga menyebut bahwa banyak sekali permintaan dari para pelanggan untuk menunjukkan model-model yang relate dengan kehidupanya.
Sejak saat itu, Ida selalu mengajak followers Nipplet yang bersedia, termasuk mendapat persetujuan dari keluarga untuk menjadi muse atau model Nipplet. Menampilkan bentuk nyata perempuan dengan berbagai bentuk badan dan warna kulit. Juga segala hal yang sebelumnya membuat para muse merasa insecure, sekarang mereka menampilkan tubuh mereka dengan percaya diri.
Seperti ida yang dulunya merasa insecure dengan payudaranya yang kecil. Ida kerap mendapat body shaming dari orang sekitar termasuk ibunya sendiri. Awalnya Ida merasakan tekanan karena tidak bisa memenuhi standar kecantikan orang-orang di sekitarnya. Tapi akhirnya Ida berhasil keluar dari perasaan insecure-nya. Bahkan kini Ida sering kali tampil sebagai muse dari produk-produk Nipplet, menampilkan tubuh yang dia cintai apa adanya.
Sayangnya enggak semua orang bisa menerima gerakan Ida yang menyuarakan self-love dan body positivity melalui produk-produk Nipplet. Belum lagi karena Ida juga sering menyisipkan konten edukasi seks di sosial media Nipplet. Tindakan yang dianggap melanggar tabu masyarakat ini mendapat berbagai komentar negatif, dari orang terdekat sampai followers Nipplet. Bahkan Ida pernah mendapatkan kecaman melalui pesan pribadi di sosial media miliknya yang berbunyi, “Kalo mau jadi binal, jadi binal sendiri aja. Enggak usah ngajak-ngajak.”
Beberapa orang memang belum bisa menerima keberadaan bisnisnya. Tapi masih ada lebih banyak orang yang mau bergabung bersama Ida untuk menyuarakan self-love dan body positivity. Banyak followers yang membagikan cerita ke sosial media NIpplet, bahwa mereka belajar mencintai diri sendiri dan percaya diri dengan tubuhnya dengan memakai lingerie dari Nipplet. Melalui Nipplet dan kampanye Real People Real Body, Ida berharap agar perempuan di Indonesia bisa menerima dan percaya diri dengan bentuk tubuh yang dimiliki, serta bisa makin mencintai diri sendiri.