
Sign up to save your podcasts
Or


Terlepas dari Gross Transaction Value (GTV) yang sampai Jutaan Dollar atau Trilliunan Rupiah, kabarnya, eCommerce atau online retail merupakan kategori industri dengan margin yang tipis?
Mungkin benar, namun ada satu model bisnis eCommerce yang memiliki margin sedikit lebih sehat dibanding yang lain, apa itu?
Dan apakah ada cara untuk memperlebar margin dalam berjualan di eCommerce?
Please enjoy.
---
Revisi :
Mohon maaf, saya ada kekeliruan menghitung margin Tokopedia, harusnya ada di angka 4% atau 3.6% di 9M23, bukan 1.62% sebagaimana yang saya sampaikan di episode ini.
---
Tautan ke berita #2 :
Obrolan ini mungkin tidak muncul ke permukaan, tidak ramai di sosial media, tapi topik yang kurang menyenangkan ini cukup sering terhembus belakangan ini.
Apakah benar demikian adanya?
Apakah ada cara menanggulanginya?
eCommerce kalau ga ada dia, kaya ngaku anak skena tapi ga ngopi gula aren, atau ga pake celana kargo, kaya ada yang ga lengkap.
Bahkan saking pentingnya, beberapa entitas ini berusaha me-lobby supaya bisa dianggap "kerabat".
Siapa dia dan seberapa penting peran yang satu ini terhadap bisnis eCommerce.
Dengarkan selengkapnya di sini.
Enjoy.
Hari ini, kita akan membahas topik yang sebetulnya udah agak basi, tapi biar temen temen pendengar ini punya gambaran tentang salah satu toko online retail fashion yang ramainya bahkan melebihi amazon.
Produksi atau pabriknya ada di banyak negara, dan sudah melayani lebih dari 200 negara, atau lebih tepatnya 220 negara.
Sesekali dipenuhi kontroversi, karena kualitas produknya, plagiasi, dan tentunya isu pencemaran lingkungan.
Siapa dia?
Episode bonus sebagai tambahan dari episode sebelumnya.
Congrats untuk Tokopedia dan TikTok atas kerjasama yang akhirnya bisa terjadi, sehingga TikTok bisa come back dengan menggandeng Tokopedia.
Sepertinya beberapa parameter berikut ini akan terjadi penyesuaian bagi pengguna.
Apa saja?
Please enjoy.
Kalau dalam waktu kurang dari 30 menit setelah Anda melakukan pembelian online ada abang paket memanggil "Misi pakeett", kita hampir ga menyangka kalau itu adalah pesanan kita.
Bahkan ada Quick Commerce yang rata rata pengirimannya itu 10 menit, alias setara kurang lebih dengan 1/3 episode One Piece.
Kenalan dengan Quick Commerce yang sangat emak-emak-friendly ini yuk.
Ada wawancara menarik bulan Desember 2019 tentang penurunan omset pedagang di pusat perbelanjaan terbesar se Asia Tenggara, dengan akumulasi penurunan 60% sejak 3 tahun terakhir.
Marketplace Daring (Online) diduga salah satu penyebab hal tersebut terjadi.
4 Oktober 2023 lalu, TikTok Shop menutup layanannya di aplikasi, kabarnya juga karena keinginan dari para pedagang karena semakin menurunnya pendapatan mereka.
Dinilai kurang, beberapa waktu lalu bahkan beberapa pedagang meminta tidak hanya TikTok Shop, namun juga aplikasi online shopping lainnya.
Bagaimana seharusnya para pedagang menyikapi gempuran online shopping ini?
Apakah pemerintah memang perlu melakukan hal serupa ke semua aplikasi belanja online?
Atau mungkin justru malah pembelinya yang tidak "pro" terhadap pedagang lokal?
Dengarkan selengkapnya di sini.
----
Wawancara kompas TV : https://youtu.be/k8hOUx5xkiM?si=gxKgo5Sq2s8T06N6
Live Streaming Shopping oleh platform TikTok menjadi topik obrolan paling hangat di kalangan pebisnis dengan menawarkan oportunity pembelian sampai miliaran sebagaimana para Influencer yang sudah "membuktikannya" dengan mendapatkan GMV sebesar 40 miliar dalam sehari, sampai 5 miliar dalam 10 menit.
Sepertinya terlalu indah untuk didengar, dan muncul pertanyaan, apa iya sebesar itu peluangnya?
Beneran ada duitnya, atau jangan-jangan sesuai dengan apa yang kita khawatirkan selama ini, ya, settingan?
Kita obrolin dalem banget tentang apa sih yang sebenarnya influencer dan platform lakukan dari "penampilan" tersebut.
Dengar selengkapnya di episode ini.
----
*edit : mohon maaf, setela kami konfirmasi, Raffi Ahmad tidak live di TikTok, melainkan di Shopee Live, thanks.
Project S TikTok dianggap membahayakan para pebisnis UMKM kalau sampai dilakukan di Indonesia. | Kementerian Koperasi dan UMKM sudah berkoordinasi dengan TikTok Indonesia supaya mereka tidak melakukan Project S tersebut di Indonesia. | Dengan track record kesuksesan dan volume transaksi yang besar di Asia Tenggara khususnya Indonesia, apa iya TikTok tidak melakukannya di Indonesia? | Sebetulnya apa itu Project S TikTok, kenapa mereka melakukannya, dan perusahaan mana lagi yang melakukan hal ini? | Simak episode berikut untuk penjelasan lengkapnya.
WHO sudah resmi mencabut status pandemi global dan pemerintah Indonesia secara berangsur juga mencabut peraturan PPKM per Desember 2022 dan pada akhirnya juga mencabut status pandemi COVID-19. | Telemedicine pada masa itu cukup populer dilakukan dan pharmaceutical ecommerce seolah menjadi objek baru yang kita pesan melalui internet yang selama ini mungkin dikuasai oleh makanan dan fashion. | Dengan market yang begitu besar serta fleksibilitas internet yang sangat memudahkan, Pharmaceutical eCommerce ini menjadi kue besar yang diperebutkan oleh banyak perusahaan baik itu perusahaan Farmasi sendiri, raksasa ecommerce hingga para pebisnis lainnya. | Apa saja tantangan yang harus dihadapi kalau ikut juga masuk ke Pharmaceutical eCommerce ini? | Yuk dengarkan selengkapnya di sini.
From the publisher's feed