Data Suara

Data Suara

Download on the App Store

Data Suara episodes

  • Budaya Pelayanan Rumah Sakit Permata Kuningan
    Jajaran Rumah Sakit Permata Kuningan berkomitmen untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang  profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal itu dikatakan Direktur Rumah Sakit Permata Kuningan, Dr. Herman Joyo, pada Opening Rumah Sakit Permata Kuningan yang terletak di Jalan Cut Nyak Dien, Kelurahan Windusengkahan, Kecamatan Kuningan, Minggu, (8/11/2020).
    4 min
  • KH. Hasan Maolani
    KH. Hasan Maolani, sebenarnya nama yang cukup dikenal khususnya oleh masyarakat  Kabupaten Kuningan. Dia adalah salah seorang tokoh pemuka agama Islam  yang memiliki ilmu tinggi sekaligus pejuang dalam merebut kemerdekaan RI. Meskipun nama KH. Hasan Maoalani tidak tercatat dalam lembaran buku sejarah nasional, namun ia boleh dikatakan sejajar dengan Pahlawan Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro.
    Sebagaimana terungkap dalam buku sejarah Perjalanan KH. Hasan Maolani yang ditulis Tisna Werdaya, Tahun 1973, Eyang Hasan Maolani lahir di daerah Lengkong sekira tahun 1779, kini Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan.
    Dia adalah seorang Kyai yang punya ilmu tinggi. Bukan saja ilmu agama, namun punya keahlian dalam ilmu kebathinan, bela diri, seni suara, seni ukir dan seni baca Al-quran.
    Sekira tahun 1800, Kyai Hasan Maolani mulai berjuang dengan cara mendirikan pesantren Lengkong Kuningan. Di pesantren itu, dia selain mengajarkan ilmu agama Islam, juga menanamkan jiwa nasionalisme dan cinta tanah air kepada para santrinya, termasuk melakukan upaya  mendorong para santrinya untuk turut melakukan pergerakan merebut kemerdekaan dari tangan kaum penjajah.
    Rupanya, berbagai rencana Kyai Hasan Maolani tercium oleh kaum musuh, sehingga dia dibenci dan selalu dimata-matai kaum penjajah. Karena Eyang Hasan Maolani dianggap berpengaruh, akhirnya Hindia Belanda berupaya untuk mengelabui Eyang Hasan Maolani.
    Alhasil  Hari Kamis 12 Safar 1257 (1837) sekira  pukul 3. 30 WIB Eyang Hasan Maolani dibawa oleh Polisi Belanda ke Cirebon, dengan dalih hanya sekadar untuk dimintai keterangan dan diperiksa oleh Residen Cirebon, terkait dengan banyaknya pengaduan dari pihak-pihak tertentu. Namun kenyataannya Eyang Hasan Maolani ditahan di benteng tahanan Cirebon.
    Mendengar Kyai Hasan Maolani ditahan, para santrinya tidak menerima dan akhirnya punya rencana melakukan pemberontakan atau menyerang Belanda. Namun, dalam penjara Eyang Maolani meredam agar para santri dan masyarakat lainnya tidak melakukan tindakan, sebab dianggap belum saatnya.
    Dari penjara Cirebon, selanjutnya Kyai Hasan Maolani dipindahkan ke penjara di Batavia selama sembilan bulan. Dari sana lalu dibuang ke daerah Menado dengan menggunakan kapal laut, namun sempat mampir di Ternate. Dari Ternate selanjutnya diberangkatkan lagi ke Kaema Menado Datang Ke Kaema hari Minggu 17 Rajab 1260 (1840 Masehi).
    Di Menado Kyai Hasan Maoalni tidak sendirian, tapi bersama para Kyai dari pulau jawa lainnya diantaranya Kyai Holipah, Kyai Wahab, Kyai Baderan dan Kyai Gajali. Bahkan, Kyai  tersebut lebih awal dibuang karena terlibat perang Diponegoro 1825-1830.
    Di Kaema tidak lama, K. Hasan Maolani  bersama kyai  lainnya selanjutnya dipindahkan ke daerah Tondano. Di Tondano, Kyai Hasan Maoalani mendirikan pesantren, sehingga ditokohkan dan diberi gelar dengan nama Eyang Menado.
    Berdasarkan isi surat yang diterima keluarganya, Kyai Hasan Maolani wafat di Menado 3 Mei 1874, dan dimakamkan di daerah tersebut. Kendati telah wafat, namun sampai saat ini nama Kyai Hasan Maolani tetap dikenang di daerah Menado maupun di Kabupaten Kuningan.
    7 min
  • Tiga Titik Penting Dalam Perjuangan Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan
    KABUPATEN Kuningan memiliki beberapa titik penting dalam perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Indonesia. Titik-titik penting itu antara lain :
    1 Linggajati telah menjadi tempat monumental dalam perundingan antara Indonesia dengan Belanda pada tahun 1946-1947.
    Hal yang mendasari perundingan Linggajati yakni lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 telah mengundang reaksi dan hadirnya kembali Belanda di Indonesia.
    2. Ciwaru sebagai daerah yang pernah menjadi ibukota Keresidenan Cirebon dan basis pertahanan gerilya yang tangguh , posisinya memberikan andil besar dalam mempertahankan keberadaan pemerintah sipil dan militer.
    Sejak jatuhnya kota Cirebon akibat gempuran pasukan Belanda dalam Agresi Militer Tanggal 27 Juli 1947, kota itu diduduki Belanda. Pendudukan kota ini mengakibatkan lumpuhnya roda kegiatan pemerintahan, ekonomi, pertahanan dan lain-lain karena banyak prasarana dan fasilitas yang mengalami kerusakan berat.
    Subang yang menjadi basis gerilya yang mengharumkan nama putra-putra terbaik Siliwangi yang gagah berani dalam mengusir dalam mengusir penjajah Belanda. Sepanjang perjalanan revolusi Indonesia, Kuningan telah menjadi jalur penting menuju Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan dan makmur.
    Subang adalah nama sebuah desa dan juga Kecamatan di Kabupaten Kuningan yang terletak jauh di bagian selatan, berbatasan dengan Kabupaten Ciamis yang dipisahkan oleh Sungai Cijolang. Situasi Desa Subang adem, tenang, tentram dengan pola kehidupan masyarakat yang agamis.
    Kecamatan Subang tidak terusik, sehingga pemerintahan sipil darurat keresidenan Cirebon yang semula pindah ke Ciwaru karena Agresi Militer Belanda terpaksa dipindahkan ke Desa Cilebak Kecamatan Subang. Kini Desa Cilebak masuk dalam wilayah Kecamatan Cilebak.
    Sumber : Buku Perjuangan Rakyat Kuningan Masa Revolusi Kemerdekaan.
    3 min
  • Memanfaatkan Limbah Kulit Pohon Pisang
    Dibalik kekurangan dalam dirinya, ada kelebihan yang dimiliki Endi yaitu keahlian dalam membuat kerajinan tangan yang dibuat dari  bahan baku pelepah (gedebog) batang pohon pisang. .
    Barang-barang berharga yang punya nilai seni, itu diantaranya tempat tisu, miniatur kapal, motor dan banyak jenis lainnya. Dalam satu hari ia dibantu istrinya mampu membuat beberapa buah kerajinan itu. Satu buah tempat tisu dijual seharga Rp50.000.- miniatur motor Rp.100.000,-. dan miniatur kapal Rp.150.000,-.
    3 min

About Data Suara

From the publisher's feed

Podcast Kang Ajun