
Sign up to save your podcasts
Or
Kemenangan Donald Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) 2024 membawanya kembali menduduki kursi kekuasaan di Gedung Putih pasca-kekalahannya sebagai petahana pada Pilpres AS 2019. Setelah persaingan yang ketat dan penuh dinamika, Trump berhasil mengalahkan Kamala Harris dari Partai Demokrat, yang menjadi pesaing utamanya dalam pemilu kali ini.
Menurut hasil penghitungan suara, Trump memperoleh sekitar 75,1 juta suara populer, sementara Kamala mendapatkan 71,8 juta suara. Angka ini menunjukkan keunggulan Trump dalam jumlah suara populer di pemilu kali ini.
Sistem pemilihan presiden di AS memungkinkan seorang kandidat menjadi pemenang asalkan memperoleh sedikitnya 270 suara elektoral, meskipun belum tentu menang dalam total suara populer.
Dengan hasil ini, Trump berhasil meraih suara elektoral sekaligus unggul dalam jumlah suara populer, sehingga ia terpilih kembali sebagai Presiden AS pada 2024.
Meski sudah diumumkan sebagai pemenang, proses penghitungan resmi masih akan berlanjut dengan tahap penetapan suara elektoral pada 17 Desember 2024, dan hasil pemilu ini akan disahkan oleh Senat pada 25 Desember 2024.
Apakah hasil pemilihan presiden di AS ini akan memiliki dampak terhadap situasi Indonesia?
Kami membahas isu ini dalam episode SuarAkademia terbaru bersama Karina Utami Dewi, akademisi dari Universitas Islam Indonesia.
Karina menyoroti kebijakan Donald Trump pada masa presidensi pertamanya yang condong menggunakan prinsip “America First” dan terkesan kurang berminat untuk berpartisipasi dalam urusan internasional.
Ia juga menyoroti keputusan kebijakan luar negeri Trump yang kontroversial selama masa jabatan pertamanya, seperti ketika Donald Trump mengundang Taliban ke Camp David tanpa sepengetahuan pemerintah Afghanistan. Menurutnya, kebijakan yang tidak lazim ini bisa saja terjadi kembali setelah Trump dilantik dan perlu diantisipasi sejak dini.
Karina juga menyebutkan dampak potensial dari kepresidenan Trump terhadap berbagai aspek hubungan antara AS dan Indonesia, mencakup isu perdagangan, keamanan, dan diplomasi publik. Ia mengatakan adanya kemungkinan pecahnya perang dagang, yang dapat berdampak pada ekspor Indonesia ke AS, serta potensi pergeseran dalam kerjasama militer kedua negara.
Karina juga berpendapat pentingnya untuk menyadari posisi strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik dan serta perlunya membangun hubungan yang seimbang dengan AS dan Cina untuk bisa mendapatkan kerja sama yang menguntungkan dari kedua negara besar tersebut.
Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.
Kemenangan Donald Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) 2024 membawanya kembali menduduki kursi kekuasaan di Gedung Putih pasca-kekalahannya sebagai petahana pada Pilpres AS 2019. Setelah persaingan yang ketat dan penuh dinamika, Trump berhasil mengalahkan Kamala Harris dari Partai Demokrat, yang menjadi pesaing utamanya dalam pemilu kali ini.
Menurut hasil penghitungan suara, Trump memperoleh sekitar 75,1 juta suara populer, sementara Kamala mendapatkan 71,8 juta suara. Angka ini menunjukkan keunggulan Trump dalam jumlah suara populer di pemilu kali ini.
Sistem pemilihan presiden di AS memungkinkan seorang kandidat menjadi pemenang asalkan memperoleh sedikitnya 270 suara elektoral, meskipun belum tentu menang dalam total suara populer.
Dengan hasil ini, Trump berhasil meraih suara elektoral sekaligus unggul dalam jumlah suara populer, sehingga ia terpilih kembali sebagai Presiden AS pada 2024.
Meski sudah diumumkan sebagai pemenang, proses penghitungan resmi masih akan berlanjut dengan tahap penetapan suara elektoral pada 17 Desember 2024, dan hasil pemilu ini akan disahkan oleh Senat pada 25 Desember 2024.
Apakah hasil pemilihan presiden di AS ini akan memiliki dampak terhadap situasi Indonesia?
Kami membahas isu ini dalam episode SuarAkademia terbaru bersama Karina Utami Dewi, akademisi dari Universitas Islam Indonesia.
Karina menyoroti kebijakan Donald Trump pada masa presidensi pertamanya yang condong menggunakan prinsip “America First” dan terkesan kurang berminat untuk berpartisipasi dalam urusan internasional.
Ia juga menyoroti keputusan kebijakan luar negeri Trump yang kontroversial selama masa jabatan pertamanya, seperti ketika Donald Trump mengundang Taliban ke Camp David tanpa sepengetahuan pemerintah Afghanistan. Menurutnya, kebijakan yang tidak lazim ini bisa saja terjadi kembali setelah Trump dilantik dan perlu diantisipasi sejak dini.
Karina juga menyebutkan dampak potensial dari kepresidenan Trump terhadap berbagai aspek hubungan antara AS dan Indonesia, mencakup isu perdagangan, keamanan, dan diplomasi publik. Ia mengatakan adanya kemungkinan pecahnya perang dagang, yang dapat berdampak pada ekspor Indonesia ke AS, serta potensi pergeseran dalam kerjasama militer kedua negara.
Karina juga berpendapat pentingnya untuk menyadari posisi strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik dan serta perlunya membangun hubungan yang seimbang dengan AS dan Cina untuk bisa mendapatkan kerja sama yang menguntungkan dari kedua negara besar tersebut.
Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.
16 Listeners
40 Listeners
2 Listeners
8 Listeners
1 Listeners
0 Listeners
4 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
13 Listeners
59 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
5 Listeners
49 Listeners
3 Listeners