
Sign up to save your podcasts
Or
Ekonomi Indonesia saat ini sedang mengalami tantangan besar yang berdampak langsung pada masyarakat. Harga barang kebutuhan pokok seperti makanan, energi, dan transportasi terus naik akibat inflasi tinggi, ketidakpastian pasar global, dan melemahnya nilai tukar Rupiah. Hal ini membuat banyak orang harus lebih berhemat dan bersiap mengorbankan tabungan mereka untuk menutup pengeluaran wajib mereka sehari-hari.
Namun, ada hal menarik yang terjadi. Meskipun konsumsi untuk kebutuhan dasar berkurang, beberapa sektor non-dasar malah mengalami lonjakan konsumsi. Fenomena ini disebut “lipstick effect,” yaitu kecenderungan orang tetap membeli barang atau layanan yang memberi kepuasan instan atau meningkatkan citra sosial, meskipun kondisi keuangan sedang sulit.
Contohnya, konser musik internasional tetap ramai oleh penonton yang rela membayar mahal untuk menyaksikan langsung performa sang artis. Pun, gawai ponsel premium seharga puluhan juta masih diminati. Begitu juga produk kecantikan seperti skincare serta kosmetik yang sedang berada di tren positif penjualannya. Ini menunjukkan bahwa di tengah krisis, banyak orang masih mencari kesenangan atau mempertahankan gaya hidup mereka.
Lantas, bagaimana menurut ahli mengenai situasi ini?
Dalam episode SuarAkademia terbaru, kami membahas dinamika ini bersama Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Huda melihat situasi ekonomi Indonesia saat ini mencerminkan tantangan besar dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga dan perubahan pola konsumsi. Fenomena efek lipstik menunjukkan bahwa konsumsi masih bertahan di beberapa sektor tertentu, tetapi ada risiko meningkatnya ketergantungan pada pembiayaan alternatif.
Huda mengatakan dinamika ini menggambarkan kontra-naratif terhadap penurunan ekonomi, di mana sebagian masyarakat tetap mempertahankan gaya hidup konsumtif, meskipun secara finansial menghadapi kesulitan. Di satu sisi, angka statistik makroekonomi mencatat penurunan daya beli yang mengkhawatirkan. Namun di sisi lain, gelora konsumerisme di segmen tertentu justru mengisyaratkan resistensi terhadap narasi kemerosotan ekonomi.
Ia juga menyoroti bagaimana platform dan media digital mendorong masyarakat untuk mempertahankan citra tertentu yang mengalahkan kebutuhan primer mendasar. Hal ini terlihat dalam kebiasaan konsumsi yang tetap tinggi di segmen tertentu, seperti fashion, elektronik, dan hiburan.
Meskipun demikian, kelas bawah lebih merasakan dampak kenaikan harga dan pengurangan pendapatan dibandingkan kelas atas yang cenderung kebal dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Huda juga berpendapat bahwa bagaimana masyarakat modern menggunakan konsumsi sebagai mekanisme koping terhadap stres finansial. Dengan kata lain, di tengah ketidakpastian, pembelian barang “penghibur” menjadi cara untuk mempertahankan ilusi normalitas, meski konsekuensi jangka panjangnya berpotensi memperburuk kondisi keuangan individu.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam mengelola kebijakan ekonomi agar dapat menstabilkan harga, memperkuat daya beli, dan mengurangi ketimpangan ekonomi. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan strategi yang cermat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia— ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.
Ekonomi Indonesia saat ini sedang mengalami tantangan besar yang berdampak langsung pada masyarakat. Harga barang kebutuhan pokok seperti makanan, energi, dan transportasi terus naik akibat inflasi tinggi, ketidakpastian pasar global, dan melemahnya nilai tukar Rupiah. Hal ini membuat banyak orang harus lebih berhemat dan bersiap mengorbankan tabungan mereka untuk menutup pengeluaran wajib mereka sehari-hari.
Namun, ada hal menarik yang terjadi. Meskipun konsumsi untuk kebutuhan dasar berkurang, beberapa sektor non-dasar malah mengalami lonjakan konsumsi. Fenomena ini disebut “lipstick effect,” yaitu kecenderungan orang tetap membeli barang atau layanan yang memberi kepuasan instan atau meningkatkan citra sosial, meskipun kondisi keuangan sedang sulit.
Contohnya, konser musik internasional tetap ramai oleh penonton yang rela membayar mahal untuk menyaksikan langsung performa sang artis. Pun, gawai ponsel premium seharga puluhan juta masih diminati. Begitu juga produk kecantikan seperti skincare serta kosmetik yang sedang berada di tren positif penjualannya. Ini menunjukkan bahwa di tengah krisis, banyak orang masih mencari kesenangan atau mempertahankan gaya hidup mereka.
Lantas, bagaimana menurut ahli mengenai situasi ini?
Dalam episode SuarAkademia terbaru, kami membahas dinamika ini bersama Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Huda melihat situasi ekonomi Indonesia saat ini mencerminkan tantangan besar dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga dan perubahan pola konsumsi. Fenomena efek lipstik menunjukkan bahwa konsumsi masih bertahan di beberapa sektor tertentu, tetapi ada risiko meningkatnya ketergantungan pada pembiayaan alternatif.
Huda mengatakan dinamika ini menggambarkan kontra-naratif terhadap penurunan ekonomi, di mana sebagian masyarakat tetap mempertahankan gaya hidup konsumtif, meskipun secara finansial menghadapi kesulitan. Di satu sisi, angka statistik makroekonomi mencatat penurunan daya beli yang mengkhawatirkan. Namun di sisi lain, gelora konsumerisme di segmen tertentu justru mengisyaratkan resistensi terhadap narasi kemerosotan ekonomi.
Ia juga menyoroti bagaimana platform dan media digital mendorong masyarakat untuk mempertahankan citra tertentu yang mengalahkan kebutuhan primer mendasar. Hal ini terlihat dalam kebiasaan konsumsi yang tetap tinggi di segmen tertentu, seperti fashion, elektronik, dan hiburan.
Meskipun demikian, kelas bawah lebih merasakan dampak kenaikan harga dan pengurangan pendapatan dibandingkan kelas atas yang cenderung kebal dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Huda juga berpendapat bahwa bagaimana masyarakat modern menggunakan konsumsi sebagai mekanisme koping terhadap stres finansial. Dengan kata lain, di tengah ketidakpastian, pembelian barang “penghibur” menjadi cara untuk mempertahankan ilusi normalitas, meski konsekuensi jangka panjangnya berpotensi memperburuk kondisi keuangan individu.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam mengelola kebijakan ekonomi agar dapat menstabilkan harga, memperkuat daya beli, dan mengurangi ketimpangan ekonomi. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan strategi yang cermat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia— ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.
10 Listeners
40 Listeners
2 Listeners
8 Listeners
1 Listeners
0 Listeners
4 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
14 Listeners
55 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
0 Listeners
5 Listeners
45 Listeners
3 Listeners