
Sign up to save your podcasts
Or


Memasuki peringatan Natal tahun ini kita tidak hanya dipanggil untuk merayakan peristiwa kelahiran Yesus Kristus tetapi melalui apa yang Tuhan lakukan kita dapat memaknai Natal dengan benar.
Sehingga kita bukan hanya bersukacita karena merayakan Natal, akan tetapi kita mengerti betul betapa hebatnya kasih Kristus bagi kita semua.
Dalam peristiwa kelahiran Yesus terdapat tokoh-tokoh yang turut berperan. Salah satunya adalah para gembala di padang.
Sebagaimana kita tahu, pekerjaan sebagai seorang gembala kala itu selalu dipandang sebelah mata. Tuhan Yesus sendiri datang untuk orang-orang yang dipandang sebelah mata dan para kaum marginal.
Saat Malaikat Tuhan datang menampakkan diri kepada mereka, para gembala ini pun ketakutakan. Namun kabar baik yang disampaikan malaikat itu telah menghilangkan ketakutannya dan menjadikan mereka taat akan perintah itu dan pergi menjumpai Sang Juruselamat itu.
Firman Tuhan dalam episode kali ini mengingatkan akan gambar Allah tidak kelihatan yaitu Yesus Kristus. Yesus sendiri sudah ada sebelum dunia ini dijadikan. Namun dia menyatakan diri sebagai seorang bayi untuk menebus dosa dan pelanggaran kita.
Apakah dasar pengharapan kita saat ini?
Keyakinan yang kokoh akan siapa Tuhan yang kita sembah itulah yang akan menimbulkan pengharapan.
Pengharapan adalah sesuatu yang kita rindukan namun belum kita dapatkan. Firman Tuhan menyatakan, diberkatilah mereka yang menaruh harapannya kepada Tuhan.
Saat ini, kepada siapa kita menaruh pengharapan?
Dengan kasih karunia, kita bermegah dalam pengharapan.
Tuhan Yesus tidak hanya memberikan pengajaran ketika ada di dunia ini melainkan Dia juga mengerjakan mujizat-Nya. Bahkan Yesus datang kepada orang-orang yang berdosa. Motivasi Yesus mau melakukan ini adalah karena belas kasihan.
Yesus rela mengalami maut agar kita memiliki pengharapan yang sejati. Dia melakukannya supaya kita pun juga memiliki belas kasihan bagi sesama kita.
Kita perlu membaca situasi dengan menggunakan kacamata rohani.
Waktu yang kita jalani seharusnya kita jalani dalam waktu Tuhan.
Waktu Tuhan bukan waktu kita. Waktu yang Tuhan sediakan ternyata mengalami pembaruan-pembaruan.
Dalam waktu yang berjalan kesempurnaan digenapi.
Kita perlu instropeksi, apakah perjalanan yang kita jalani sepanjang tahun ini apakah waktu kita atau dalam waktu Tuhan?
Waktu adalah perjalanan hidup manusia. Ada awal ada akhir, ada kelahiran ada kematian. Kita hidup memasuki dua pintu, yaitu pintu pertama adalah kelahiran dan pintu kedua adalah kematian semuanya tanpa membawa apa-apa. Itu artinya diantar kedua pintu itulah yang terpenting, yaitu kita harus hidup sesuai dengan rencana Tuhan.
Akan tetapi bukan saja waktu yang mengalami perubahan tapi manusia pun juga harus mengalami perubahan.
Berubahlah agar tidak serupa dengan dunia.
Tinggalkan sifat kekanakan, tinggalkan hidup dalam keinginan, bergeserlah kepada kebutuhan yaitu hidup dalam skala prioritas.
Kita pasti pernah mengalami yang namanya sakit hati, diperlakukan tidak adil oleh orang lain dan mengalami luka bathin karena memang tidak ada orang yang sempurna.
Good News People, kalau sudah seperti ini apakah itu artinya Tuhan mempunyai rancangan yang jelek dalam hidup kita? Jadi apa maksud Tuhan dengan luka-luka yang Tuhan ijinkan menggores hati kita?
Luka kita jika tidak ditangani dengan baik maka akan berdampak tidak baik, jika tidak diobati maka nantinya akan menyakiti orang lain juga.
Good News People, Kerendahan Hati
Kerendahan hati merupakan kualitas hidup orang percaya yang mengacu kehidupan Tuhan Yesus yang menjalani kehidupan dengan kerendahan hati.
Kasih setianya membangkitkan kita untuk menikmati anugerahNya.
Melalui pelayanan Yohanes Pembabtis ini kita diajarkan untuk rendah hati.
Kita percaya bahwa kita memiliki tujuan yang pasti saat mengikut Yesus. Kita dipanggil hidup bagi Kristus bukan dunia dan segala keinginan-keinginannya.
Yohanes Pembabtis kala itu menantang para pendengarnya agar hidup mereka berbeda dengan kehidupan dunia.
Sikap berbeda dengan dunia itu seperti memberi pertolongan tanpa pamrih, berdoa dengan tidak bertele-tele dan berpuasa tanpa diketahui oleh orang lain.
Shalom, Good News People, dalam episode ke 150 kali ini akan membagikan sebuah kisah fenomenal di Kana ketika Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur.
Apabila kita mendalami kisahnya, air yang belum dirubah menjadi anggur ini sebenarnya merupakan air pembasuhan kaki. Sebagaimana kita tahu, kala itu jika orang Yahudi mengadakan sebuah pesta, mereka akan menyediakan air dalam gentong-gentong dipintu masuk, karena setiap tamu yang datang pasti mengenakan kasut yang telah kotor dan berdebu selama perjalanan.
Keajaiban ini menjadi perenungan bagi kita, karena bagaimana air basuhan kaki saja Tuhan ubah menjadi anggur dengan kualitas yang sangat baik.
From the publisher's feed