
Sign up to save your podcasts
Or


Hari ini, banyak banget orang-orang yang "terjepit" kayak sandwich: dia harus ngebiayain generasi di atasnya, juga generasi di bawahnya. Gimana nggak ngeri-ngeri sedap! Seringkali akhirnya di satu sisi, si anak sangat mungkin dianggap anak durhaka. Padahal, di sisi lain, si anak juga punya kehidupannya dan kebutuhannya sendiri. Nah, gimana ya kira-kira soal nasib orang tuanya? Apakah ada kemenangan yang win-win solution dari "pertarungan" ini? Atau jangan-jangan seharusnya negara ambil peran dalam mengurusi hak-hak orangtua atau hak-hak lansia ini? Nah, mending simak sendiri ya obrolannya bareng bu Magdalena Sitorus, penulis yang juga aktivis lansia!
Tau nggak sih kalo sehari setelah HUT RI, Indonesia tuh mau disidang sama PBB?
Jadi gini. Di PBB tuh ada Komite Hak-hak Penyandang Disabilitas (CRPD) yang salah satu kerjanya adalah menilai seberapa jauh sih hak-hak penyandang disabilitas itu ditegakkan di suatu negara.
Nah, tahun ini, tepatnya 18-19 Agustus 2022, giliran Indonesia yang bakal disidang. Terus pertanyaannya, emang gimana sih sebenernya kondisi penegakkan hak-hak penyandang disabilitas di sini?
Nah, pertanyaan itu tentunya akan tepat banget untuk dijawab sama mbak Risnawati Utami, anggota Komite CRPD dari Indonesia! Makanya, yuk dengerin!
#HAMburgerPodcast
Kalau mau ngomong soal Buya Syafii Maarif, nggak ada tuh ceritanya bajunya Buya dicucikan istri. Beliau yang mau cuci sendiri, jemur sendiri, berbagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah --yang selama ini selalu dianggap "tugasnya perempuan". Beliau paling anti merepotkan orang lain, sampai pada menjelang saat terakhirnya beliau harus disuapi, beliau merasa bersalah.
Orang bisa hidup dengan gagasan-gagasan dan narasi-narasi hebat. Tapi tak banyak orang yang bisa menghidupi gagasan dan narasi itu, bahkan sampai matinya. Buya Syafii Maarif, orang nomor satu di Muhammadiyah, yang sampai matinya masih tetap sama: sederhana, berintegritas, dan tak mau merepotkan orang lain.
Memang benar kata pepatah, 'malu bertanya sesat di jalan'. Lebih parahnya, karena malas bertanya, jadi gak ngerti, eh malah nuduh yang lain sesat.
Contohnya kayak yang dialami Lengger, budaya khas Banyumasan yang dianggap mengumbar seksualitas dan dianggap menyebar orientasi seksual yang berbeda. Emang kenapa kalo mengumbar seksualitas? Emang sejak kapan seksualitas menjadi hal yang salah?
Nah makanya, biar ngerti, langsung dengerin apa itu Lengger dari para pegiatnya!
#internationaldiversityday #jadiempatikalaungerti
Sudah terlanjur basah di lautan, maka harus sekalian mengarungi samudranya. Mungkin perumpamaan ini yang tepat untuk Eni, pejuang hak asasi manusia yang fokus ke buruh migran.
Eni yang sudah merasakan adanya ketidakadilan sejak memutuskan menjadi pekerja rumah tangga ini terus menghimpun "kekuatan" guna bisa mendapatkan hak-haknya.
Ini bukan hal sepele, tapi disepelekan oleh para pemangku kepentingan. Ya, yang katanya pahlawan penyumbang devisa kini harus menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri dahulu.
Eni bersama teman-temannya berserikat dan menjadi corong perlawanan atas ketidakadilan di negeri seberang. Simak lanjutan obrolan HAMburger Podcast bareng Eni Lestari, Ketua International Migrant Alliance (IMA).
Hallooooo Jemaah HAMburger Podcast mengapa pekerja rumah tangga sering dilupakan dan hak-haknya sebagai pekerja sering diabaikan?
Eni Lestari, Ketua International Migrants Alliance njelasin langsung nih kalau pekerjaan rumah tangga kerap dianggap pekerjaan perempuan dan sering dikeluarkan dari standar kerja perburuhan di banyak negara. Nah lho nggak cuma itu, hak-hak mereka kerap diabaikan dan tidak terlindungi.
Banyaknya PR ini harus segera diselesaikan, karena:
Singkat cerita, telat mudik malah dapat tontonan masa kecil, Ebeg atau Kuda Lumping.
Beberapa tahun lalu, kesenian ini sempat sepi penanggap karena dianggap musyrik. Ebeg dianggap mengundang setan. Apa benar gitu?
Yuk simak obrolan spesial berbahasa Banyumasan, Hamburger Podcast X WaniMoni.
Katanya Bhineka Tunggal Ika, tapi pake syarat dan ketentuan. Jadinya, Bhineka Tinggal Jika: jika satu suku, jika satu agama, jika satu ras, jika satu golongan. Jika tidak? Kenyataannya, kita masih sering banget hidup dalam stigma dan menstigmakan orang lain. Emang sih, stigma bisa aja tercipta karena luka, atau trauma masa lalu.
Tapi apa kemudian harus menjadi alasan untuk tetap melanggengkan stigma dan justru menciptakan luka-luka baru? Nah, ngomongin stigma dan masa lalu, HAMburger Podcast bersama Kutub.id ngobrol sama Kang Iip, seorang pemerhati sejarah dan Kang Agung, Dosen Sejarah di UIN Bandung. Kenapa sih kita jadi bangsa yang susah banget menerima perbedaan? Yuk simak!
Apa bedanya jaman Orba sama jaman sekarang? Kalo jaman Orba orang-orang pada hilang, kalo jaman sekarang orang-orang pada healing. Hahaha maap garing.. Nah, pertanyaannya kenapa jaman sekarang orang-orang pada healing? Apa memang punya mental issue beneran? Atau gara-gara punya mental issue dianggap keren dan ngetren?
Terus gimana cara ngebedain orang yang beneran punya mental issue? Nah, dengerin nih percakapan Awi dan Inaya Wahid dari HAMburger Podcast bareng Neng Hannah, Dosen Filsafat UIN Bandung dan Puput dari Kutub.id!
Emang bener kata orang-orang kalo Taliban itu terbelakang, konservatif, kejam, sementara kalo Belanda maju? Eits, ternyata ga sepenuhnya bener coy. Soal Talibannya bener sih katanya sudah berubah, tapi apa iya? Nah... Gimana Belanda, masih ada PR soal medical based treatment terhadap perempuan disabilitas di negaranya.
Di episode ini, Risnawati Utami, seorang anggota komite Konvensi Hak Penyandang Disabilitas PBB nyeritain soal dua negara berBEDA yang memiliki sikap yang SAMA ngerinya terhadap para penyandang disabilitas.
Kayak gimana tuh? Ya nonton aja coy! Gas tipis-tipis!
#JadiEmpatiKalauNgerti
From the publisher's feed