
Sign up to save your podcasts
Or


Bagian 1
Dalam Injil Yohanes pasal 14, dikatakan bahwa Tuhan adalah jalan. Mengapa Dia menjadi jalan? Supaya Dia bisa membawa kita kepada Bapa. Mengapakah tabir terbelah? Itu untuk memungkinkan kita menikmati Ruang Maha Kudus, bertatapan muka dengan Tuhan, dan menjadi yang paling dekat dengan-Nya. 1 Tesalonika 5:10 dengan jelas mengatakan, "yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia." Tuhan mati dan menjadi jalan bagi kita menuju pada Bapa, sehingga Dia dapat membawa kita kepada-Nya.
Bagian 1
Apa yang saya bagikan hari ini adalah yang sangat penting dan yang berharga. Mari kita baca Ibrani 12:22-24: “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.”
Wow! Sangatlah berharga karena Tuhan telah menelan maut untuk selamanya! Berikut adalah sebuah lagu yang saya tulis hari ini.
Kekalahan Maut (Lagu Pujian, versi 2020)
Ia telah menelan maut untuk selamanya.
Tuhan Allah akan menghapus air mata dari semua wajah.
Ia akan menghilangkan cela dari umat-Nya di seluruh bumi.
Ia telah menelan maut untuk selamanya.
Tuhan Allah akan menghapus air mata dari semua wajah.
Saudara dan saudari, kita adalah yang paling diberkati di seluruh alam semesta. Sangatlah berharga karena kita dapat mengikuti Tuhan yang telah bangkit. Dia hidup di dalam hati kita. Kita memiliki Dia dalam hidup yang saat ini dan juga dalam kekekalan. Dia adalah yang paling berkomitmen untuk memberikan diri-Nya kepada kita.
Saya sangat menghargai akan apa yang terjadi pada malam sebelum penyaliban Tuhan, terutama tentang kenyataan bahwa Dia ingin mengadakan perjamuan bersama para murid. Demi kamu dan saya, Dia menegakkan jamuan kasih yang berharga dan yang kekal ini. Baik dalam Lukas pasal 22 maupun dalam Matius pasal 26 adalah yang membahas perjamuan yang Dia tegakan untuk kita. Tuhan mengungkapkan apa yang terjadi pada malam itu kepada Paulus dalam 1 Korintus 11. Selain itu, saya sangat menghargai Yohanes pasal 13-17, terutama pasal 17, yang adalah sangat berharga. Dia adalah Tuhan yang membuka hati-Nya dan menuangkan doa-doa dari hati-Nya. Dia berdoa untuk kamu dan saya, dan mengekspresikan kerinduan kasih-Nya untuk kita kepada Bapa. Tuhan menginginkan agar kamu dan saya bersama-sama-Nya di manapun Dia berada, agar kita dapat melihat kemuliaan yang diberikan Bapa kepada-Nya. Tuhan berkata bahwa Bapa mengasihi-Nya sebelum dasar dunia dijadikan. Itulah sebabnya Bapa memberi kita kepada Tuhan – agar kita dapat menikmati kekekalan bersama-Nya. (Yohanes 17:24)
Kidung Agung adalah puncak dari kelima Buku Hikmat dan Pengalaman. Puncak ini menggambarkan cinta yang paling berharga dan yang indah antara kamu dan Tuhan. Jadi, siapakah kamu? Sebuah ayat dalam Kidung Agung menyebutkan “Nyala api TUHAN,” yang saya anggap sangatlah berharga. Saya sangat menghargai ayat ini. Kasih Tuhan kepada saya adalah Nyala api TUHAN! Ini bukan hanya kasih TUHAN, dan bukan hanya sebuah nyala api, namun merupakan Nyala Api yang paling kuat!
Mari kita baca Kidung Agung 6:10: “"Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya?” Ayat ini bertanya, “Siapakah dia?” Kamu tahu dengan pasti akan orang tersebut. Kidung 8:5 berkata, “Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya?” Kedua ayat ini bertanya, “Siapakah dia?” Kedua ayat ini adalah yang sangat berharga. Saya ingin memanfaatkan kedua ayat ini untuk membantumu merenungkan ‘siapakah kamu’ dalam kasih Tuhan dan dalam hati-Nya. Lihatlah, siapakah kamu?
Banyak bagian dari kitab Imamat yang mencatat bahwa para imam memakan persembahan, seperti di pasal 2 ayat 3, pasal 6 ayat 6, beberapa ayat di pasal 7, dan pasal 24 ayat 9. Hal ini adalah yang sangat penting. Tuhan berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yohanes 6:35) Setiap hari kita perlu makan dan minum dari Tuhan. Ini berarti bahwa kita perlu mengalami akan Tuhan itu sendiri, memperoleh-Nya, dan menikmati asupan-Nya. Roma pasal 12 membahas tentang kehidupan seorang imam. Seorang imam seharusnya memberikan persembahan. Kita harus terlebih dahulu mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup kepada Tuhan. Paulus menyebut ini sebagai pelayanan yang wajar.
Sangatlah berharga karena Tuhan adalah Imam Besar kita. Dia juga menjadikan kita sebagai imam. Dalam Wahyu pasal 1, ayat 5, kita diberitahu bahwa Tuhan telah membebaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya dan menjadikan kita imam bagi Allah dan Bapa-Nya. Apa yang telah Dia capai adalah yang sangat sempurna.
Wahyu pasal 1, ayat 5 dan 6 berbunyi, “...dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya — dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, — bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”
Sangat berharga karena kehendak Allah adalah arti dari kehidupanku. Namun, inti dari kehendak-Nya adalah agar kita menjadi yang sangat dekat dengan-Nya dan mendekat pada-Nya. Dia ingin agar kita menikmati Dia dan kasih-Nya, serta merespon akan kasih-Nya. Dialah yang paling menghasrati kamu dan saya. Dia ingin memperoleh hati kita. Tuhan tidak bertanya kepada Petrus tentang hal-hal duniawi. Dia hanya bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Amsal 23:26 berbunyi, “Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku.”
From the publisher's feed