
Sign up to save your podcasts
Or


HOST: Grace
NARASUMBER: Pdt. Justus A. Lawalata M.Th
AYAT FIRMAN: 2 Korintus 8: 1-9
Diakonia covid-19 menjadi populer sejak Virus Corona melanda kehidupan jemaat-jemaat. Berbagi SEMBAKO menjadi program unggulan di tengah situasi di mana sosial umat dibatasi. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Diakonia jemaat Makadonia kepada saudara seiman di Yerusalem? Mari kita belajar bersama.
Host: Shine
Narasumber: Pdt. Made Narawati, S.Th
Bacaan Alkitab: Amsal 17 : 22 (BIS), 3 Yoh 1 : 12, & 1, Kor 6 : 12
Ketika kita sedang sakit dan datang ke dokter, kita diberi obat juga diminta untuk tidak
stres dan menenangkan pikiran agar lekas pulih. Amsal setuju bahwa hati yang
gembira menyehatkan. Karena itu kesehatan tubuh sangatlah penting, sebab ada
banyak keuntungan ketika tubuh sehat, misal: muncul kreativitas, mampu melayani
dengan baik, dll. Paling tidak begitu yang dikatakan Surat Yohanes. Bagaimana agar
tubuh tetap sehat, selain mengolah badan kita juga perlu mengolah pikiran. Sebuah
tulisan dalam laman media elektronik mengatakan bahwa kesehatan psikis
mempengaruhi sebagian kesehatan fisik. Belajarlah dari nasehat Paulus kepada
jemaat Korintus agar kita mengerti cara menjaga pikiran tetap sehat. Sangat penting
untuk tetap bersikap dan berpikir positif agar kita tetap sehat.
HOST: Yuna
NARASUMBER: Pdt. Ni Made Endang Betha Meidyawati, S.T, M.Div
AYAT FIRMAN: Yoh 10:1-11 (Yohanes 10:10)
Krisis karena pandemi covid 19 yang melanda dunia saat ini, membawa duka bagi banyak orang,karena mereka ada yang harus kehilangan orang-orang yang mereka kasihi, mereka berjuang melawan sakit sampai titik kematian. Apakah sudah tidak ada pengharapan lagi? Kita diingatkan oleh Firman Tuhan bahwa Tuhan Yesus sama sekali tidak menghendaki manusia menderita sakit dan sampai meninggal tidak wajar, lalu apa yang Yesus janjikan pada orang-orang percaya, bahwa Yesus pemberi hidup, sekalipun fisik dan raga bersatu dengan tanah, karena Ia menyiapkan Hidup yanag kekal untuk setiap orang yang percaya kepadaNya.
Host: Shine
Narasumber: Pdt. Kadek Bagus Wisesa Uryana, S.Si.Teol
Bacaan Alkitab: Yeremia 17:7; 1 Petrus 1:3; Filipi 4:5
Akibat dari pandemi covid-19, seluruh dunia mengalami Crisis dalam
berbagai bidang. Mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, sosial, dan bahkan
keamanan. Seluruh dunia, termasuk Indonesia sedang berjuang menanganai
kondisi tersebut. Dalam situasi seperti ini, kita perlu untuk melihat lebih
jauh, kepada sesuatu yang memberi pengharapan dan kekuatan kepada kita.
Kita perlu melihat kepada Christ (Kristus) yang menjadi sumber
pertolongan dan kekuatan kita. Memandang kepada Kristus akan memberi
ketenangan dan keyakinan dalam menghadapi situsi yang belum jelas
ujungnya ini. Namun kita tidak perlu terlalu kuatir dan gentar menghadapi
hari esok yang penuh ketidakpastian ini. Kita bersyukur bahwa dalam
Kristus kita bisa memiliki kepastian bahwa semua akan berlalu dan selalu
ada harapan akan hari esok. Dalam Kristus ada kepastian akan pertolongan
pada waktuNya. Dalam Kristus ada jaminan akan masa depan. Selain
kepastian, di dalam Kristus kita juga diingatkan untuk Care kepada
lingkungan dan sesama kita, terutama mereka yang sulit memenuhi
kebutuhan pokok harian mereka. Keadaan hari ini menjadi kesempatan yang
baik bagi kita untuk menyatakan kepeduliaan kepada sesama.
HOST: Grace
NARASUMBER: Pdt. Justus Lawalata, M.Th
AYAT FIRMAN: Efesus 5: 13-21 (Efesus 5:17)
Apa kehendak Tuhan bagi orang percaya dalam krisis yang saat ini manusia hadapi karena pandemi covid 19? Tuhan menghendaki kita untuk terus bertumbuh sebagai anak-anak terang. Bisakah Tuhan memakai sakit penyakit untuk kita mengerti kehendak Tuhan? Orang percaya disebut kurang atau lemah secara rohani jika tidak melakukan kehendak Tuhan, itulah yanag dimakasud Paulus orang bodoh yakni orang yang tidak mengerti dan melakukan kehendak Tuhan.
Host: Yuna
Narasumber: Pdt. A. A. Ayu Perani, S.Si.Teol
Bacaan Alkitab: (Luk 24: 31-32; Yoh 13: 7)
Kisah dua murid di jalan menuju Emaus memberikan pelajaran bagi kita,
pelajaran yang sangat membantu di masa-masa pandemi ini. Pelajarannya
adalah Tuhan bekerja dengan cara yang tidak selalu bisa kita lihat. Baru
kemudian - ketika kita melihat ke belakang - kita mengenali apa yang telah
dia lakukan. Dua murid Yesus yang menuju Emaus tidak dapat memahami
peristiwa penyaliban sebagai sesuatu selain tragedi. Mereka tidak tahu apa
yang harus dilakukan. Mereka bahkan tidak mengenali Yesus ketika dia
berjalan di jalan di samping mereka. Baru kemudian, setelah “memecahkan
roti” bersama Yesus, mereka mengenalinya. Hanya saat itulah kata-kata
Yesus masuk akal. Mereka kemudian berkata satu sama lain, "Bukankah
hati kita berkobar [di dalam kita] sementara dia berbicara kepada kita?"
Hal seperti itu terjadi pada semua murid. Misalnya, Petrus benar-benar
bingung ketika Yesus membungkuk untuk membasuh kakinya. Yesus
berkata kepadanya, "Apa yang aku lakukan, kamu tidak mengerti sekarang,
tetapi kamu akan mengerti kelak". Dalam kasus-kasus semacam itu di
seluruh Alkitab, prinsip yang sama berlaku: rencana dan kehadiran Allah
tidak selalu jelas sampai nanti. Adapun para murid, demikian juga bagi kita.
Untuk alasan yang terlalu dalam untuk sepenuhnya dipahami, rencana
Tuhan untuk hidup kita tidak selalu jelas dan dapat dipahami.
Saat pandemi ini adalah momen seperti itu. Sulit untuk melihat apa rencana
Tuhan di tengah-tengah pandemi ini. Seperti para murid di jalan menuju
Emaus, kita mungkin bisa putus asa dan bingung, kita mungkin cemas dan
takut, karena kita tidak mengerti mengapa Dia membiarkan ini terjadi. Kita
tidak melihat bagaimana pandemi global dapat masuk ke dalam rencana
Tuhan yang baik dan ramah.
Tapi satu hal yang kita tahu: Tuhan selalu berkarya dalam hidup kita, dan
Dia bahkan sekarang berjalan di samping kita. Kita tidak pernah sendirian.
HOST: Pak Yayak
NARASUMBER: Pdt. Ni Made Narawati, S.Th, M.Si
AYAT FIRMAN: Matius 7: 7-8
Saat manusia tidak berdaya, jangan tunggu putus asa, karena masih ada pengharapan dalam setiap doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan. Doa sesungguhnya bersifat proaktif bukan pasif, yaitu menunggu tampa berbuat aapa-apa, pasrah pada takdir. Doa merupakan perjuangan rohani apalagi ditengah badai pandemi covid 19 dimana semua orang menghadapi krisis dalam berbagai dimensi kehidupan.
Host: Shine
Narasumber: Pdt. I Gede Jesico Valerius Sasmita, S.Si.Teol.
Bacaan Alkitab: Keluaran 13 : 21-22
Benarkah situasi krisis yang dialami sekarang adalah tanda bahwa Allah
telah meninggalkan kita? Sebagian orang mungkin akan berpikir demikian.
Marilah belajar dari perjalanan umat Israel keluar dari Mesir menuju tanah
yang dijanjikan. Mereka berjalan melewati padang gurun selama kurang
lebih 40 tahun dan selama itu juga Tuhan memelihara umatNya.
Demikianlah dalam krisis ini kita seperti melewati ‘padang gurun’ yang
panjang, gersang dan ganas. Namun, padang gurun adalah tempat umat
untuk belajar juga. Pada gurun merupakan tempat umat Tuhan mengalami
penyertaan dan penyediaan dari Tuhan. Dalam semua proses belajar itu
Tuhan tetap memelihara mereka. Kalau dulu Tuhan memelihara umatNya
selama di padang gurun, maka sekarangpun Ia tetap melanjutkan karya
pemeliharanNya itu bagi kita.
HOST: Yuna
RENUNGAN DAN NARASUMBER: Pdt. I Nyoman Agustinus, M.Th
Ketika Tak Ada Lagi Dasar untuk Berharap
Roma 4: 18-21
Ditengah situasi sekarang ini, pasti ada saja orang yang tidak punya dasar lagi untuk berharap?karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan pandemi covid 19 ini akan berakhir, apakah akan menjadi krisis yanag berkepanjangan?Namun kita belajar dari kisah Abraham, ia tidak merujuk pada perkataan orang lain atau kata hatinya, ia tidak akan mempunyai anak. Tapi keyakinan Abraham memiliki dasar yang pasti yakni janji Tuhan, yaitu apa yang di Firmankan Tuhan kepadanya.
Faith Over Fear
Host: Grace
Narasumber: Pdt. Izak Rio H. B., S.Si.Teol
Bacaan Alkitab: Yesaya 41 : 10 & 1 Korintus 1 : 9
Seperti bumbu-bumbu yang membuat masakan menjadi sedap seperti itulah musim-musim kehidupan mewarnai setiap langkah menjadi semakin bermakna dan indah. Tidak selalu mudah, kadang juga dalam kesusahan bahkan krisis. Seperti yang dialami sebagian besar penduduk dunia saat ini, yaitu pandemi covid-19. Yang terpukul tidak hanya bidang kesehatan, tetapi juga ekonomi, pendidikan, keagamaan, pariwisata, dan cara manusia berinteraksi pun terkena dampak. Di Bali khususnya tenaga usia produktif dirumahkan karena sektor pariwisata terpuruk, pekerja harian terhambat karena himbauan physical distancing, ibadah-ibadah dilaksanakan dari rumah, protokal kesehatan yang ketat, dll. Situasi ini tak ayal membuat kita kaget dan takut memikirkan jalan di depan yang seolah gelap tanpa secercah harapan. Dalam situasi ini kita diajak melihat kehidupan umat dalam pembuangan. Tidak hanya krisis ekonomi dan sosial, tetapi mereka mengalami krisis iman. Tidak ada lagi nyanyian dan musik bagi Tuhan sebab mereka berpikir telah ditinggalkan. Melalui siaran ini kita diajak beriman pada Tuhan yang setia dengan janjiNya. Iman itu menimbulkan pengharapan, pengharapan pada Tuhan adalah bahan bakar kehidupan yang membuat kita berani melangkah meski dalam kegelapan sekalipun.
From the publisher's feed