Pemazmur mengemukakan pengharapannya kepada Tuhan yang ia percayai bahwa Ia mendengar doanya dan tahu tentang keadaannya (ay 1-4). Kemudian, ia menyatakan apa yang dipercayainya tentang sifat Allah yang pengasih, adil, dan pemelihara (ay 5-6). “Tuhan memelihara orang-orang yang sederhana; ..” Siapa dan bagaimanakah orang yang sederhana itu? Gampangkah menjadi orang-orang yang sederhana? Lihat kenyataan yang ada, seperti mempersiapkan acara pesta perkawinan yang unik, meriah dan mewah, jika mampu. Katanya, “ Sekali seumur hidup.” Padahal esensi perkawinan bukan pada pestanya, tapi bagaimana mereka membangun cinta-kasih dan saling menyayangi setelah berumahtangga. Namun pesta yang sederhana kadang-kadang membuat orang tidak percaya diri. Ternyata tidak gampang menjadi orang sederhana. Apalagi di tengah pandemi covid-19 saat ini, tentunya kesederhaan sangatlah diperlukan. Kesederhanaan seharusnya dimulai dari hati yang sederhana, hati yang seperti anak-anak. Hati yang sederhana adalah hati yang percaya pada apa yang dimiliki saat ini, jika dikembangkan akan bisa berguna kepada diri sendiri dan juga orang banyak. Hati yang sederhana percaya kepada rasa cukup dan menolak keserakahan. Hati yang sederhana, adalah hati yang berserah kepada Tuhan, sembari terus melakukan yang terbaik.