
Sign up to save your podcasts
Or


HOUSE TALK — Ps. Sam Hartanto x Sidney Mohede
Apa artinya menjadi gereja yang sehat?
Dalam episode House Talk kali ini, Ps. Sam Hartanto berbincang bersama Sidney Mohede dari JPCC tentang perjalanan, leadership, worship, keluarga, dan bagaimana gereja menghadapi perubahan zaman.
Sidney membagikan cerita tentang peralihannya dari dunia worship dan creative ke dalam tanggung jawab pastoral, termasuk tantangan belajar leadership, organisasi, keuangan, hingga bagaimana menjaga keluarga tetap menjadi prioritas di tengah pelayanan.
Mereka juga membahas sesuatu yang lebih besar: apakah gereja perlu terus mengejar sesuatu yang baru? Di tengah budaya yang semakin terbiasa dengan konsumsi musik, konten, dan entertainment tanpa henti, bagaimana gereja dapat menolong jemaat untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi belajar berhenti, merenung, dan kembali memahami esensi worship?
Percakapan ini kemudian bergerak ke isu unity dan relationship antar gereja. Bagi Sidney, membangun hubungan, brotherhood, dan sisterhood jauh lebih dalam daripada sekadar membuat event atau produk bersama. Pelayanan adalah fungsi dalam sebuah musim, bukan identitas utama seseorang.
Dan satu pertanyaan penting untuk gereja-gereja hari ini:
Haruskah gereja menjadi besar, atau menjadi sehat?
Sebuah percakapan tentang bagaimana setiap gereja dapat memahami identitas, konteks, dan porsinya sendiri, tanpa harus membandingkan diri dengan gereja lain.
🎙️ Ps. Sam Hartanto — IFGF Bandung
🎙️ Sidney Mohede — JPCC
Selamat mendengarkan House Talk.
Kita tidak naik kepada Tuhan dengan usaha yang lebih keras, tetapi dengan tinggal lebih dalam di dalam Dia. Yesus datang supaya kita belajar hidup dari atas, bukan dari kekuatan sendiri, tapi dari otoritas dan kedekatan dengan-Nya.
Dalam perjalanan naik itu, identitas kita dibentuk. Kita meninggalkan yang lama, belajar peka terhadap suara Tuhan, dan bertumbuh lewat kedekatan dengan-Nya. Dan kenaikan ini tidak pernah sendiri, Tuhan mengajak kita berjalan bersama, dari “aku” menjadi “kita”.
Mari bertanya:• Apa yang Tuhan sedang bentuk dalam diriku?• Di mana aku masih mengandalkan diri sendiri, bukan Tuhan?• Siapa yang aku bawa naik bersama?
Sering kali kita berpuasa karena merasa Tuhan diam. Padahal puasa bukan tanda keputusasaan, melainkan devotion, bukan karena Tuhan tidak berbicara, tetapi karena kita ingin mendengar-Nya dengan lebih jelas.
Dari Daniel 10:2–12, kita belajar bahwa penyelarasan hidup selalu dimulai dengan alignment, dan alignment selalu membutuhkan pengurangan.
Alignment dimulai dari hati. Sejak awal, kejatuhan manusia bukan karena lapar akan makanan, tetapi lapar akan otonomi. Puasa membawa kita kembali kepada posisi yang benar, memusatkan kembali fokus kita pada janji Tuhan, bukan pada tekanan hidup.
Seperti yang kita lihat dalam Ibrani 11:32–34, iman yang setia mempersiapkan kita bukan hanya untuk menerima jawaban, tetapi untuk menerima yang terbaik dari Tuhan.
Hello Church, saat kita memulai tahun ini, apakah kita bersedia menyelaraskan hati kita sepenuhnya dengan apa yang Tuhan kehendaki?
Alignment dalam hidup tidak dimulai dari usaha kita, tapi dari janji Tuhan. Sejak awal, Tuhan sudah menyatakan peperangan itu nyata (Kejadian 3:15). Karena itu, hidup yang selaras bukan hidup yang netral, melainkan hidup yang jelas berdiri di pihak terang. Jangan mulai tahun ini dengan bernegosiasi dengan kegelapan. Apa yang Tuhan sebut musuh, bukan untuk dinegosiasikan.
Luka yang kita alami bukan bukti kekalahan, tapi sering kali tanda bahwa kita sedang berada di jalur kemenangan. Jangan salah membaca luka. Kehadiran cedera tidak pernah berarti absennya kemenangan. Dan apa yang lahir dari janji Tuhan selalu lebih kuat daripada pola lama, sejarah masa lalu, atau preseden manusia. Karena itu, kita dipanggil untuk menghormati benih yang sedang Tuhan tumbuhkan, meski masih kecil, tersembunyi, dan belum terlihat hasilnya.
Hello Church, mari refleksikan bersama:
Banyak orang bilang mereka menghormati Tuhan… sampai Tuhan mengajak mereka melambat.
Karena tanpa sadar, kita hidup dengan Kingdom Math versi dunia: cepat, besar, kelihatan.
Padahal Kerajaan Allah bekerja dengan cara yang berbeda:
small, slow, unseen — but unstoppable.
“God’s work is slow because it is thorough.”
Bukan karena Tuhan tertinggal, tapi karena Dia sedang membentuk sesuatu yang dalam.
Church, mari jujur bertanya:
Banyak orang bilang mereka menghormati Tuhan… sampai Tuhan mulai “mengganggu” ritme hidup mereka.
Karena jujurnya, kita sering hanya mau Tuhan hadir di jadwal kita, bukan kita yang menyesuaikan dengan jadwal-Nya.
Modern idols hari ini bukan patung tapi schedule & rhythm.
Padahal mungkin interupsi kecil itu yang sedang dipakai Tuhan untuk bicara, mengubah, atau pakai hidup kita.
Honor bukan sekadar hadir 2 jam di hari Minggu.
Honor adalah saat kita berkata:
Karena bisa jadi, kemuliaan Tuhan menunggu di balik satu langkah kecil yang “mengganggu” kenyamananmu.
Kerendahan hati bukan sekadar sikap, tapi jalan kuno yang sudah ditempuh orang-orang percaya sejak dulu.Dari kisah King Ezana Stone, kita belajar bahwa kerendahan hati nyata dalam tiga hal sederhana:
1️⃣ Berhenti sejenak — karena berhenti menunjukkan prioritas.2️⃣ Mau bertanya — karena hati yang lapar selalu siap diajar.3️⃣ Taat seketika — karena ketaatan yang menunda, bukanlah ketaatan.
Yeremia 29:13 berkata, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku.” Dan itu terjadi pada hati yang rendah, mau belajar, dan mau taat.
Disalahmengerti itu menyakitkan.Motivasi dipertanyakan, ucapan disalahartikan, bahkan sering datang dari orang-orang yang dekat. Akibatnya? Rasa terisolasi, tertunda pengakuan, dan hati yang lelah.
Dalam 1 Samuel 1:7-18, lewat kisah Hana, kita belajar bahwa salah mengerti bisa terjadi bahkan di tempat kudus. Tapi jangan biarkan itu menghentikan doa. Jangan biarkan itu merampas identitas kita di hadapan Tuhan.
Respon kita menentukan: marah atau menjawab dengan jelas, lari atau tetap berdoa, pahit atau biarkan Tuhan yang membela lewat waktu.Hana memilih tetap fokus pada Tuhan dan dari rahim yang tertuduh, lahirlah Samuel.
Tuhan sanggup memberi anugerah, ketekunan, dan kedewasaan saat kita disalah mengerti. Yang penting, biarkan hati kita terus diuji di hadapan-Nya.
Satu hal yang pasti dalam hidup adalah ketidakpastian.
Sering kali kita menunggu keadaan “ideal” sebelum berani melangkah. Padahal, situasi boleh saja tidak sempurna, tapi motivasi hati harus tetap dijaga dengan benar.
Dalam pesan dari Rut 2:2-7, 15-19, Ps. Sam Hartanto mengingatkan bahwa:
➡️ Keadaan ideal bukan datang dengan drama, tapi dengan aksi.
➡️ Keadaan ideal boleh didoakan, tapi jangan ditunggu tanpa batas.
➡️ Keadaan ideal boleh diharapkan, tapi jangan sampai jadi berhala.
➡️ Keadaan ideal ditemukan saat kita maju dengan syukur, bahkan dari hal-hal kecil.
➡️ Keadaan ideal hadir bukan dengan lari, tapi dengan kembali, menghadapi, dan menang.
Jangan biarkan ketidakpastian menghentikanmu. Berhenti menunggu sempurna, dan mulailah melangkah dalam iman.
Daud takut, tapi tidak pernah bodoh. Samson berani, tapi bodoh.
Dalam episode ini, Ps. Sam Hartanto membahas kisah Samson, sang pahlawan yang terpilih sejak lahir, namun kehilangan segalanya karena tidak fokus pada tujuan hidupnya. Samson adalah "si bodoh yang tak kenal takut," seseorang yang memiliki karunia besar tetapi membiarkannya sia-sia karena distraksi dan kepuasan diri.
Pelajari bagaimana kehidupan yang tidak fokus dapat mengubah kekuatan menjadi kelemahan, dan bagaimana kerendahan hati—seperti yang akhirnya ditunjukkan Samson—adalah satu-satunya jalan untuk kembali kepada Tuhan. Ia mengingatkan kita bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus telah dipilih, tetapi yang terpenting adalah apakah kita tetap fokus pada panggilan itu.
Dengarkan dan temukan bagaimana mengasah fokus Anda untuk memenuhi tujuan hidup yang Tuhan berikan, bukan membiarkannya hilang karena hal-hal sepele.
From the publisher's feed