
Sign up to save your podcasts
Or


Bandung Spirit yang digaungkan dalam Konferensi Asia Afrika 1955, telah mengilhami berbagai bangsa untuk meningkatkan solidaritas dalam mencapai independensi di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Semangat inilah yang mendasari Kerja Sama Selatan-Selatan yang meski mengalami pasang surut gencar dipromosikan, termasuk oleh Indonesia. Pada hari peringatan internasional untuk Kerja Sama Selatan-Selatan, 12 September ini, Dr. Poppy S. Winanti berdiskusi bersama Rizky Alif Alvian dan Husna Yuni Wulansari mengenai konsep Kerja Sama Selatan-Selatan, faktor-faktor yang mendorong kerja sama, serta perkembangan dan kontroversinya. Simak lebih lanjut di Podcast Hubungan Internasional! Kredit lagu: Chicago Jazz (BGM No Copyright) dan alunan dari E's Jammy Jams.
Pada episode kali ini, H.E. Drs. H. Burhanuddin Badruzzaman, Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea 2014-2017, berdiskusi bersama Dr. Siti Muti'ah Setyawati, MA, dosen DIHI UGM mengenai hubungan diplomatik Indonesia dan Sudan. Tidak banyak yang mengetahui bahwa pada dekade 1950-an, Indonesia sangat antusias dalam memberikan dukungan kemerdekaan bagi Sudan. Bagaimana kedekatan Indonesia terhadap aspirasi kemerdekaan Sudan saat itu diwujudkan dalam gestur diplomasi internasional? Bagaimana hubungan kedua negara pada saat ini dan isu-isu apa yang relevan untuk diteliti? Selengkapnya di Podcast Hubungan Internasional! Kredit lagu: Chicago Jazz (BGM No Copyright) dan alunan seruling tradisional Sudan oleh Hafiz Abdelrahman Mukhtar. Ikuti informasi-informasi terbaru dari HI UGM di instagram @hi.ugm dan kanal youtube http://www.youtube.com/c/HIUGMChannel.
The use of fossil fuels such as coal, oil and natural gas to power the global economy in the last 200 years has led to the emission of trillions of tons of greenhouse gasses, which have led to an unprecedented warming of our planet's atmosphere within that short period of time. In recent years we have seen growing numbers of disasters linked to climate change and are also facing slow-onset impacts such as sea-level rise. Statistically, Africa contributes relatively little to global carbon emissions, but unfortunately will be one of the most affected areas of the globe in terms of climate impacts. This is due to a mix of exposure to climate impacts, underlying vulnerabilities and limited adaptive capacity. This podcast discusses some of the climate impacts on African countries and on how African countries might be able to adapt to the global climate emergency. It looks at climate change and Africa through a climate justice perspective. Further, it explores some of the similar risks that African countries and Indonesia face in regard to climate change and how Indonesia could on the one hand learn from African climate initiatives and on the other hand support climate action in Africa. More on Podcast Hubungan Internasional with Dr. Daniel Petz, Treviliana Eka Putri, and Muhammad Irfan Ardhani! Music credits: Chicago Jazz (BGM No Copyright) and a free music from Infraction.
Episode ini adalah seri pertama dialog Prof. Dr. Mohtar Mas'oed bersama Dr. Luqman Nul Hakim mengenai sejarah dan genealogi perkembangan Ilmu Hubungan Internasional (HI) di Indonesia. Melalui pendekatan sejarah politik, kita dapat memahami bagaimana HI pada mulanya diperkenalkan di negeri ini. Prof. Dr. Mohtar Mas'oed menawarkan cara melihat perkembangan studi ini dalam tiga kategori, yaitu; studi HI sebagai bagian dari statecraft, studi HI sebagai diplomatic arts, dan studi HI sebagai scientific endeavor. Simak lebih lanjut penjelasannya! Dalam dialog ini, ada banyak pengetahuan berharga yang tidak Anda temukan di tempat lain. Kredit musik: Chicago Jazz (BGM Copyright Free) & satu nomor dari AShamaluevMusic. Ikuti informasi-informasi terbaru dari HI UGM di instagram @hi.ugm dan kanal youtube http://www.youtube.com/c/HIUGMChannel .
Bagaimana kita, dengan latar belakang apapun, dapat turut menentukan berkembangnya isu-isu lintas negara? Bagaimana individu seperti kita bisa menjadi peacemaker? Bagaimana produk mie instan dan nasi goreng pun dapat menjadi alat untuk berdiplomasi? Di era digital ini, teknologi telah membuka ruang-ruang baru untuk kita berbuat sesuatu demi kepentingan nasional maupun global. Internet telah memberi kesempatan kepada siapapun untuk menjadi “diplomat”! Pada episode kali ini, Dr. Dedy Permadi, dosen DIHI UGM yang juga Stafsus Menkominfo Bidang Digital dan SDM dan Romzi Ahmad, influencer dan Asisten Stafsus Presiden, akan mendiskusikan seluk beluk diplomasi digital dan apa saja yang bisa kita lakukan sebagai warga dunia. Di hari ulang tahun Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM yang ke-63 pada 10 Juli 2020 ini, mari kita simak edisi spesial yang diproduksi bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika R.I. dan GPR TV ini. Selamat mendengarkan! Intro oleh Yunizar Adiputera. Kredit Lagu: Chicago Jazz (BGM Copyright Free).
From the publisher's feed