INI KOPER

INI KOPER

By Dani Wahyu MunggoroSociety & CultureRelationships
Download on the App Store

INI KOPER episodes

  • #782 Mengenal Metode "Yes, And" bagi Ecosystem Builder

    Metode "Yes, And" merupakan fondasi dari seni improvisasi teater The Second City yang dirancang untuk membalikkan pola pikir reaktif "No, But" menjadi budaya kolaboratif yang radikal. Secara konseptual, "Yes" atau "Ya" berarti menerima sepenuhnya kontribusi atau ide rekan bicara tanpa menghakimi, sementara "And" atau "Dan" adalah komitmen untuk menambahkan nilai atau perspektif baru di atas fondasi tersebut. Dalam pengembangan ekosistem sosial, pendekatan ini berfungsi sebagai arsitektur komunikasi yang mengubah ketidakpastian menjadi peluang inovasi, di mana setiap gagasan dianggap sebagai aset berharga untuk membangun solusi kolektif.

    Kekuatan utama metode ini terletak pada prinsip "Bawa Batu Bata, Bukan Katedral," yang menekankan pentingnya kontribusi kecil secara inkremental daripada mengejar solusi sempurna sendirian. Dengan mengedepankan elemen ensemble dan ko-kreasi, tim didorong untuk menciptakan ruang aman bagi kegagalan, di mana kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses riset dan pengembangan yang autentik. Hal ini menghilangkan hambatan mental berupa rasa takut akan penilaian, sehingga memungkinkan munculnya ide-ide berani yang sering kali tersembunyi di bawah permukaan budaya kerja yang kaku dan hierarkis.

    Secara praktis, kepemimpinan berbasis "Yes, And" mengadopsi model Follow the Follower dan latihan mendengarkan secara mendalam untuk menyatukan berbagai pemangku kepentingan dalam sebuah ekosistem. Pemimpin tidak lagi berperan sebagai pemberi instruksi mutlak, melainkan sebagai fasilitator yang mendengarkan untuk memahami, bukan sekadar untuk menjawab, demi memaksimalkan potensi setiap anggota tim. Melalui integrasi antara teori improvisasi dan kebutuhan taktis organisasi, metode ini mampu merobohkan sekat-sekat sektoral dan membangun gerakan perubahan sosial yang lebih agil, tangguh, dan berdampak luas.

    6 min
  • #781 Cara Menemukan Insight Organisasi

    Menemukan insight organisasi itu bukan soal sulap atau keberuntungan semata, tapi soal ketajaman menangkap momen "Aha!". Gary Klein mengajarkan kita tiga jalur utama: Koneksi, Kontradiksi, dan Koreksi. Jalur koneksi menuntut kita menghubungkan titik-titik data yang tampak tidak nyambung menjadi sebuah pola baru. Sementara itu, jalur kontradiksi mengajak kita peka terhadap anomali atau keanehan yang muncul di lapangan—jangan dibuang, justru harus dikejar karena di situlah perubahan tren dimulai. Terakhir, jalur koreksi memaksa kita berani membuang keyakinan lama yang sudah basi untuk diganti dengan pemahaman baru yang lebih relevan.

    Salah satu cara paling ampuh untuk memancing insight adalah melalui Reverse Thinking atau berpikir terbalik. Jangan selalu bertanya "bagaimana cara kita sukses?", tapi sesekali tanyalah "apa yang pasti akan membuat organisasi ini hancur?". Teknik Pre-mortem adalah aplikasi nyatanya; bayangkan sebuah program sudah gagal total di masa depan, lalu bedah penyebabnya satu per satu. Dengan melihat masalah secara "sungsang", kita justru bisa menemukan celah dan risiko tersembunyi yang biasanya tertutup oleh rasa optimisme berlebihan atau rutinitas kerja yang membosankan.

    Namun, semua teknik itu akan percuma jika organisasi tidak memiliki habitat yang sehat bagi rasa ingin tahu. Insighttidak akan muncul di ruang rapat yang kaku di mana semua orang hanya berani bilang "setuju, Pak". Dibutuhkan keamanan psikologis agar setiap anggota tim berani bersuara dan mempertanyakan asumsi dasar pimpinan. Pemimpin pun harus rajin turun ke lapangan, mendengarkan keluhan paling jujur dari konstituen atau pelanggan, karena pengalaman nyata itulah yang membentuk insting tajam. Organisasi yang luar biasa bukan yang paling sedikit berbuat salah, tapi yang paling cepat menangkap insight dan mengubahnya menjadi aksi nyata.

    8 min
  • #780 Reverse Thinking : Bagaimana Kalau Kita Gagal Total

    Reverse Thinking, atau yang sering dikenal sebagai teknik Inversi, adalah sebuah disiplin mental yang menantang arus pemikiran konvensional dengan cara melihat masalah dari sudut pandang yang berlawanan. Alih-alih bertanya bagaimana cara mencapai kesuksesan, metode ini mengajak kita untuk bertanya, "Apa yang akan menyebabkan kegagalan total?" Prinsip ini berakar pada pepatah matematikawan Jerman, Carl Jacobi, yaitu "Invert, always invert." Dengan mengidentifikasi jalan menuju kegagalan, seseorang secara otomatis akan mendapatkan peta jalan yang lebih jelas mengenai rintangan apa yang harus dihindari, sehingga menciptakan fondasi yang lebih stabil untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

    Dalam tataran praktis, Reverse Thinking mewujud dalam berbagai teknik yang sangat aplikatif bagi para pemimpin dan fasilitator, seperti sesi Pre-mortem yang dipopulerkan oleh Gary Klein. Teknik ini memaksa sebuah tim untuk membayangkan bahwa rencana mereka telah gagal di masa depan, lalu bekerja mundur untuk menemukan penyebabnya. Berbeda dengan brainstorming tradisional yang sering kali terjebak dalam optimisme buta atau groupthink, berpikir terbalik memicu otak untuk menjadi lebih kritis dan jujur terhadap risiko yang tersembunyi. Dengan membalikkan premis—misalnya, dari mencari cara memuaskan pelanggan menjadi cara membuat pelanggan marah—celah-celah kecil dalam sebuah sistem atau rencana dapat terdeteksi jauh sebelum masalah tersebut benar-benar terjadi.

    Manfaat utama dari mengadopsi pola pikir ini adalah lahirnya keputusan yang lebih resilien dan teruji. Sebagai seorang fasilitator, menggunakan Reverse Thinking memungkinkan Anda untuk mengelola dinamika kelompok dengan lebih tajam, karena metode ini sering kali menurunkan ego peserta dan membuka ruang diskusi yang lebih objektif terhadap kelemahan internal. Pada akhirnya, berpikir terbalik bukan berarti menjadi pesimis, melainkan bentuk dari optimisme yang realistis. Dengan mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, kita memiliki kendali yang lebih besar atas hasil akhir, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil bukan hanya sekadar berjalan maju, melainkan menjauh dari jurang kegagalan.

    7 min
  • #779 Menciptakan Liminal Space bagi ASN Muda di IKN

    Workshop "Menuju IKN Impian 2045" yang melibatkan 120 ASN Muda Kedeputian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LHSDA) OIKN merupakan langkah transformatif dalam membangun landasan  kepemimpinan yang tangguh. Melalui pendekatan Asset-Based Thinking pada hari pertama, para peserta diajak untuk tidak hanya memahami visi makro IKN sebagai kota dunia, tetapi juga mengenali kekuatan internal mereka sebagai Ecosystem Builder. Penemuan karakter unik seperti Adventure hingga Adaptive Servant Leader yang dipadukan dengan ekspresi kreatif Slam Poetry berhasil meruntuhkan sekat-sekat birokrasi, menciptakan keintiman tim, dan menyatukan impian pribadi peserta dengan visi besar pembangunan ibu kota yang hijau dan berkelanjutan.

    Memasuki fase kritis di hari kedua, dinamika pembelajaran bergeser pada ketajaman analisis risiko melalui metode Reverse Thinking atau Pre-Mortem. Peserta ditantang untuk membayangkan skenario kegagalan IKN di tahun 2045 guna mengidentifikasi "bom waktu" berupa kekhawatiran sosial-lingkungan, data yang mengganggu, serta ide-ide kebijakan yang masih kabur. Proses berpikir terbalik ini terbukti efektif dalam memicu lahirnya inovasi konkret yang responsif terhadap tantangan zaman. Keberhasilan kolaborasi peserta menghasilkan tiga inisiatif strategis—StunZero, Naik Kelas Bersama, dan Kaizen Workshop—yang secara resmi diadopsi oleh pimpinan untuk diimplementasikan pada tahun 2026 sebagai solusi nyata atas kompleksitas pembangunan di lapangan.

    Pada akhirnya, keberhasilan workshop ini memberikan pesan kuat bahwa kebahagiaan dan antusiasme peserta adalah energi utama dalam menghadapi ketidakpastian birokrasi yang kompleks. Meskipun terdapat tantangan dalam efisiensi tata waktu, hasil nyata berupa adopsi inovasi menunjukkan bahwa ASN Muda LHSDA memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak perubahan yang lincah. Rekomendasi strategis untuk membudayakan autonomous learning dan peran pimpinan sebagai pelatih menjadi kunci agar semangat inovasi ini tidak berhenti di ruang workshop, melainkan menjadi nafas baru dalam keseharian kerja menuju tahun 2025 dan seterusnya, demi memastikan IKN tetap menjadi superhub ekonomi yang resilien dan inklusif.

    8 min
  • #778 Menubuhkan Transformasi Organisasi

    Tahun 2025 hampir habis. Napas kita mungkin tersengal-sengal. Tapi, di dada kita ada rasa puas yang sulit dilukiskan.

    Saya melihat teman-teman di ROEMI dan INSPIRIT terus berlari. Begitu juga kawan-kawan di WLF, Rektorat Universitas Jambi, B2SDM di Kementerian Kehutanan, hingga Kedeputian LHSDA di OIKN.

    Ada satu kata yang terus menghantui meja rapat kita sepanjang tahun ini: Transformasi. Kata yang indah di telinga, tapi sering kali bikin meriang di badan.

    Kenapa kita harus bertransformasi? Karena model organisasi perubahan sosial yang lama sudah "kedaluwarsa".

    Dulu, organisasi itu seperti benteng. Kokoh, punya batas jelas, sangat protektif terhadap logonya sendiri, dan sering kali merasa paling benar.

    Sekarang, benteng itu harus dirubuhkan. Organisasi harus berubah menjadi ekosistem—sebuah platform tempat semua energi perubahan bisa saling bertemu dan membesar.

    Coba tengok hutan hujan tropis kita. Kenapa dia begitu tangguh menghadapi badai? Ternyata rahasianya bukan pada pohon yang paling tinggi.

    Rahasianya ada di bawah tanah. Namanya: Miselium. Jaringan jamur halus yang menyambungkan akar satu pohon dengan pohon lainnya.

    Miselium ini adalah simbol Koneksi. Luas, beragam, dan jumlahnya tak terhitung. Inilah fondasi pertama ekosistem kita.

    Di platform ini, kita melakukan Active Learning. Tidak lagi hanya berdiskusi di ruangan ber-AC, tapi belajar sambil bergerak dan praktik langsung di lapangan.

    Di sana pula terjadi Social Learning. Kita saling belajar satu sama lain. Bukan dari guru ke murid, tapi dari praktisi ke praktisi lainnya.

    Inilah yang melahirkan Collaborative Intelligences. Kecerdasan kolektif. Satu otak mungkin pintar, tapi ribuan otak yang tersambung miselium akan menjadi jenius.

    Miselium itu bekerja lewat Kolaborasi. Ini bukan sekadar kolaborasi basa-basi di atas meterai atau tanda tangan MoU yang kemudian berdebu.

    Ini adalah kolaborasi teknis yang strategis. Saya menyebutnya: Great Collaboration. Kerja nyata yang memastikan nutrisi mengalir dari yang berlebih kepada yang kekurangan.

    Puncaknya adalah Aksi Kolektif. Inilah yang kita saksikan di Pasar Kolaboraya 2025 kemarin. Namanya saja sudah "Raya". Artinya besar, megah, dan berdampak luas.

    Ingat buku Frederic Laloux, Reinventing Organizations? Dia bicara soal organisasi "Teal" yang digerakkan oleh kesadaran kolektif dan tujuan yang berevolusi.

    Lalu ada Adrienne Maree Brown dalam Emergent Strategy. Dia mengingatkan bahwa perubahan kecil yang terkoneksi secara luas akan menciptakan pola perubahan yang masif.

    Dan Ori Brafman dalam The Starfish and the Spider menegaskan: masa depan milik mereka yang berani mendesentralisasi kekuatan agar tetap hidup meski "dipotong".

    Transformasi itu enak sekali dikatakan, tapi sulit dijalankan karena ego. Kita masih senang jadi "pohon tunggal" yang ingin paling menonjol, namun akarnya ketakutan bertemu akar yang lain.

    Tahun 2026 sudah melambai. Inilah saatnya semua gagasan itu tidak lagi berhenti di atas kertas, tapi harus Embodied—meraga, menjadi urat nadi, dan hidup dalam setiap langkah nyata kita. Selamat bertransformasi!

    7 min
  • #777 Mengenal Kecerdasan Kolaborasi

    Kecerdasan kolaborasi, atau Collaborative Intelligence (CQ), menandai pergeseran fundamental dalam cara kita memandang potensi manusia di era ekonomi koneksi. Alih-alih hanya mengandalkan kecerdasan intelektual individu (IQ) yang bersifat kompetitif, CQ menekankan pada kemampuan untuk berpikir bersama orang lain yang memiliki pola pikir berbeda. Di tengah kompleksitas tantangan global saat ini, keberhasilan sebuah organisasi tidak lagi ditentukan oleh satu individu jenius yang dominan, melainkan oleh seberapa efektif energi intelektual kolektif dapat disinergikan untuk menciptakan solusi inovatif yang melampaui kapasitas pemikiran mandiri.

    Inti dari kecerdasan kolaborasi terletak pada penghormatan terhadap keragaman kognitif dan pemahaman mendalam tentang bagaimana setiap individu memproses informasi secara unik. Melalui pengenalan pola belajar sensorik—seperti visual, auditori, dan kinestetik—serta pemetaan bakat berpikir yang spesifik, sebuah tim dapat memitigasi konflik yang sering kali muncul akibat kesalahpahaman gaya komunikasi. Dengan menjadi "penerjemah kognitif" bagi satu sama lain, anggota tim belajar untuk tidak sekadar menoleransi perbedaan, tetapi memanfaatkannya sebagai aset strategis untuk memperkaya perspektif dan menutupi titik buta (blind spots) kognitif masing-masing individu.

    Pada akhirnya, penerapan kecerdasan kolaborasi menuntut transformasi gaya kepemimpinan dari kontrol dan komando menjadi fasilitasi dan inklusi. Seorang pemimpin yang cerdas secara kolaboratif fokus pada penciptaan keamanan psikologis, di mana setiap anggota tim merasa bebas untuk berkontribusi tanpa rasa takut. Dengan mengintegrasikan kecerdasan kolaborasi ke dalam budaya organisasi, perusahaan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun ketahanan terhadap perubahan zaman. Kecerdasan kolaborasi adalah kunci utama untuk mengubah perbedaan cara berpikir menjadi kekuatan pendorong bagi kemajuan kolektif yang berkelanjutan.

    6 min
  • #776 Kolaborasi Lintas Silo

    Kolaborasi lintas silo sering kali dianggap sebagai solusi universal untuk meningkatkan kinerja organisasi, namun tanpa arah yang jelas, inisiatif ini dapat terjebak dalam fenomena "collaboritis". Berdasarkan prinsip Morten Hansen dalam buku Great at Work, kolaborasi yang berlebihan tanpa tujuan spesifik justru dapat menurunkan produktivitas karena menghabiskan waktu staf dalam pertemuan dan koordinasi yang tidak perlu. Oleh karena itu, langkah pertama dalam meruntuhkan sekat antar departemen bukanlah dengan memperbanyak interaksi, melainkan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa kolaborasi adalah alat untuk mencapai nilai tambah, bukan sebuah kewajiban administratif.

    Kunci dari sinergi yang berhasil terletak pada penerapan "Kolaborasi yang Disiplin" melalui pengujian nilai yang ketat. Sebelum sebuah proyek lintas departemen dimulai, para pemimpin harus mampu menjawab apakah kerja sama tersebut akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika masing-masing tim bekerja secara mandiri. Dengan memfokuskan sumber daya hanya pada proyek yang memiliki potensi nilai tinggi, organisasi dapat menghindari pemborosan energi pada inisiatif yang hanya tampak bagus di atas kertas namun gagal memberikan hasil nyata bagi bisnis. Disiplin ini memastikan bahwa setiap upaya kolaborasi dilakukan dengan intensitas yang tepat dan target yang terukur.

    Akhirnya, kolaborasi lintas silo yang berkelanjutan harus didasarkan pada prinsip "Win-Win-Win", di mana keberhasilan proyek memberikan keuntungan bagi kedua departemen yang terlibat serta organisasi secara keseluruhan. Sering kali, silo mengeras karena salah satu pihak merasa dikorbankan demi kepentingan pihak lain. Dengan memastikan adanya distribusi manfaat yang adil dan tujuan yang selaras, resistensi antar departemen akan berkurang secara alami. Sinergi sejati tercipta ketika setiap unit memahami bahwa dengan membantu departemen lain mencapai tujuannya, mereka juga sedang mempercepat pencapaian visi besar organisasi.

    7 min
  • #775 Imajinasi Tentang IKN 2028

    Pada tahun 2028, Kedeputian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam mengusung visi besar untuk mentransformasi Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi sebuah "Kota Regeneratif Berbasis Rimba." Visi ini melampaui konsep kota hijau konvensional dengan memposisikan IKN sebagai mesin pemulihan ekologis yang secara aktif memperbaiki kerusakan lahan masa lalu. Di bawah kepemimpinan yang progresif, IKN diproyeksikan menjadi pusat keseimbangan antara kemajuan peradaban manusia dan kelestarian hutan hujan tropis, menciptakan sebuah metropolis yang tidak hanya bernapas selaras dengan alam, tetapi juga menjadi paru-paru dunia yang cerdas dan inklusif bagi generasi mendatang.

    Misi utama untuk mencapai visi tersebut difokuskan pada tiga pilar fundamental: restorasi biodiversitas yang masif, pencapaian netralitas karbon, dan keadilan ekologis bagi masyarakat lokal. Kedeputian berkomitmen untuk mengubah lanskap monokultur menjadi hutan hujan heterogen yang kaya akan flora dan fauna endemik, sekaligus menerapkan sistem ekonomi sirkular yang ambisius menuju target zero waste. Misi ini juga menekankan pentingnya inklusivitas sosial, di mana penduduk lokal dan masyarakat adat diberdayakan sebagai aktor utama dalam konservasi, memastikan bahwa kemajuan lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan dan pengakuan identitas budaya di tanah Kalimantan.

    Strategi operasional menuju 2028 diimplementasikan melalui integrasi teknologi mutakhir dan solusi berbasis alam (nature-based solutions). Pemanfaatan Environmental Digital Twin memungkinkan pemantauan kualitas udara, air, dan kesehatan hutan secara real-time untuk pengambilan keputusan yang presisi berbasis data AI. Di tingkat infrastruktur, penerapan sistem Smart Sponge City dan pembangunan koridor satwa cerdas menjadi standar baru dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan. Dengan mengombinasikan inovasi teknologi ini dengan tata kelola yang transparan, IKN di tahun 2028 akan berdiri sebagai prototipe kota masa depan yang tangguh terhadap krisis iklim dan menjadi model dunia bagi pembangunan urban yang berpusat pada kehidupan.

    7 min
  • #774 Pemimpin di Era Disrupsi

    Kepemimpinan di era disruptif menuntut pergeseran paradigma yang fundamental dari model tradisional yang kaku menuju pendekatan yang jauh lebih dinamis. Di tengah lingkungan yang dikenal sebagai VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity), seorang pemimpin tidak lagi bisa hanya mengandalkan pengalaman masa lalu atau struktur komando satu arah. Sebaliknya, disrupsi yang dipicu oleh Revolusi Industri 4.0 memaksa para pemimpin untuk memahami bahwa inovasi bukanlah sebuah peristiwa tunggal, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan kesiapan mental untuk menghadapi ketidakpastian sebagai norma baru dalam menjalankan organisasi.

    Kunci keberhasilan dalam menavigasi era ini terletak pada apa yang disebut sebagai leadership agility atau kelincahan kepemimpinan yang dipadukan dengan kecerdasan emosional yang tinggi. Pemimpin yang adaptif harus memiliki kemampuan untuk unlearn—berani meninggalkan praktik-praktik lama yang sudah tidak relevan—dan relearn untuk menguasai kompetensi digital serta sosial yang baru. Kecerdasan sosial menjadi krusial karena di dunia yang semakin didominasi oleh mesin dan kecerdasan buatan, kemampuan manusia untuk berempati, membangun koneksi mendalam, dan menginspirasi tim lintas generasi menjadi pembeda utama yang tidak dapat digantikan oleh teknologi manapun.

    Pada akhirnya, kepemimpinan disruptif bukan sekadar tentang penguasaan teknologi, melainkan tentang transformasi budaya dan karakter. Seorang pemimpin masa kini harus bertransformasi dari sosok bos yang memerintah menjadi mentor yang kolaboratif, yang mampu menciptakan ruang bagi kreativitas dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Meskipun cara kerja dan strategi bisnis berubah secara radikal, integritas tetap menjadi fondasi yang tidak boleh goyah. Dengan menjaga keseimbangan antara inovasi yang agresif dan nilai-nilai moral yang kokoh, seorang pemimpin akan mampu membawa organisasinya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah badai perubahan.

    6 min
  • #773 Siasat Menanggapi Chaos

    Chaos dalam perspektif sains modern, sebagaimana diuraikan oleh J. Doyne Farmer dalam Making Sense of Chaos, bukanlah sekadar kekacauan tanpa arah, melainkan manifestasi dari sistem kompleks yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kondisi awal atau yang dikenal sebagai "efek kupu-kupu". Berbeda dengan teori ekonomi konvensional yang sering kali terpaku pada pencapaian titik keseimbangan atau equilibrium statis, realitas dunia saat ini lebih menyerupai organisme hidup yang dinamis dan non-linear. Dalam sistem seperti ini, perubahan kecil di satu sudut dapat memicu gelombang besar di tempat lain, menjadikan prediksi jangka panjang yang kaku menjadi tidak relevan.

    Melalui pendekatan Agent-Based Modeling (ABM), Farmer mengajak kita melihat ekonomi dan organisasi sebagai kumpulan interaksi antar-agen individu yang membentuk pola-pola besar yang tak terduga. Pendekatan ini menggeser fokus dari sekadar hasil akhir menuju pemahaman tentang struktur interaksi dan perilaku agen di dalamnya. Dengan menyadari bahwa krisis atau fluktuasi pasar adalah bagian alami dari sistem yang kompleks, kita diajak untuk tidak lagi memandang gangguan sebagai kerusakan sistem, melainkan sebagai proses penataan ulang yang konstan dalam sebuah ekosistem yang luas.

    Dalam konteks kepemimpinan, pemahaman terhadap teori chaos menuntut pergeseran paradigma dari kontrol ketat menuju adaptabilitas dan resiliensi. Seorang pemimpin masa kini tidak lagi bertindak sebagai "operator mesin" yang bisa mengatur segala variabel secara presisi, melainkan sebagai "penjaga ekosistem" yang fokus pada kesehatan interaksi di bawahnya. Kepemimpinan di tengah chaos memerlukan kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan prediksi, sekaligus keberanian untuk membangun organisasi yang tangguh dan mampu "menari" di tengah badai ketidakpastian agar tetap relevan dan inovatif.

    7 min

About INI KOPER

From the publisher's feed

INIKOPER percaya berbagi pengetahuan dan cerita apa saja, pasti bermanfaat bagi komunitas perubahan. Perubahan selalu dimulai dari diri sendiri, organisasi dan pada akhir sistim. Jadikan bumi lebih…