
Sign up to save your podcasts
Or


Kita sering mendengar bahwa orang beriman adalah mereka yang hidupnya dipimpin Tuhan. Mungkin kita sendiri juga sering mengatakannya. Namun, benarkah dalam setiap langkah, kita mengingat dan menaati pimpinan Tuhan? Bagaimana ketika kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki, puas dengan keadaan yang kita alami, apakah kita tetap sadar dan berjaga-jaga apakah kita berpegang pada firman Tuhan? Atau bilamana kita dalam kesusahan dan di padang gurun dunia, adakah firman Tuhan yang pertama kita cari?
Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 8 Februari 2026.
Kirim pesan
Kita sering mendengar tentang Bangsa Israel yang tegar tengkuk dan tidak taat kepada TUHAN selama dalam perjalanan. Memang semua mereka yang terhitung berumur 20 tahun ke atas ketika keluar dari perbudakan Mesir tidak ada yang masuk ke Tanah Perjanjian karena ketidaktaatan mereka, kecuali Yosua dan Kaleb. Namun jarang sekali kita melihat bagian Alkitab yang menuliskan ketaatan mereka, yang kemudian menerima janji Tuhan untuk masuk ke tanah Kanaan.
Tuntunan TUHAN mereka ikuti, perintah-Nya mereka jalankan meskipun tak selalu mudah perjalanan, dan mereka pun tidak tahu arah di depan. Bagaimana kita belajar untuk taat seperti keturunan Abraham yang menerima janji TUHAN ini?
Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 1 Februari 2026.
Kirim pesan
Istirahat adalah sebuah tenggang waktu untuk melepas penat. Namun sering kita lupa bahwa untuk beristirahat, ada kerja yang harus selesai sebelum waktu rehat. Sering kita melihat hanya ketidaktaatan umat Israel di padang gurun, namun apakah kita lebih baik dari mereka yang selalu mengingat untuk melakukan titah Tuhan meskipun dalam penat?
Apa saja firman Tuhan yang mereka lakukan sebelum waktu istirahat mereka, dan tanggungjawab mereka selama berlindung dalam kemah? Bagaimana kita belajar tentang ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan?
Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 25 Januari 2026.
Kirim pesan
Jarak yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu beberapa hari atau minggu, berubah menjadi puluhan tahun bagi Bangsa Israel dalam perjalanan mereka di padang gurun. Banyak yang menganggap mereka hanya berputar-putar, seolah tanpa tujuan dan sebagai akibat persungutan mereka. Namun bagi anak-anak Yakub yang memiliki firman TUHAN dalam hati dan pikiran mereka, perjalanan itu bukanlah sebuah pengembaraan tanpa tujuan. Ada berkat dan kasih Tuhan, ada mujizat dan hukum Ilahi, yang menuntun mereka menuju Tanah Perjanjian.
Bagaimana dengan perjalanan hidup kita? Apakah kita hanya berputar-putar tanpa tahu arah tujuan? Adakah firman Tuhan dalam hati dan hidup kita, sehingga tujuan kita tidak suram?
Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 18 Januari 2026.
Kirim pesan
Selama 40 tahun di padang gurun, Israel melangkah mengikuti pimpinan Tuhan. Tidak ada diceritakan umat itu melenceng maupun meninggalkan perkemahan yang adalah persekutuan jemaat-Nya. Namun demikian, tidak semua mereka dapat masuk ke tanah perjanjian karena sungut-sungut mereka menandakan ketidakterikatan pada firman Tuhan.
"Jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah," kata Ibrani 10:25. Tetapi bukan hanya tidak menjauhkan diri, namun juga bagaimana dalam persekutuan itu kita memiliki firman Kristus di antara kita (Kol 3:16). Bagaimana dalam tahun ini kita melangkah dalam pimpinan Tuhan?
Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 11 Januari 2026.
Kirim pesan
From the publisher's feed
Keluarga Epiphaneia adalah persekutuan pelajaran Alkitab pemuridan yang menyediakan materi PA yang berkesinambungan dan terpimpin. Dimulai sejak tahun 1990 dan sebelumnya dikenal dengan nama…
Untuk mengikuti PA Epiphaneia atau ibadah mingguan dapat menghubungi alamat surel [email protected]
*Hymn accompaniment cut (intro/outro) by (youtube/@ccmlibrary), used for worship.