
Sign up to save your podcasts
Or


Pukul sebelas lewat lima. Seekor kupu-kupu menyelinap dan hinggap di radio milik ayahmu yang memutar lagu Roxette. Dia pikir radio itu adalah pohon yang berubah bentuk. Dulu, kata ibunya, orang kota gemar menculik kenari untuk dipaksa jadi kursi dan lemari. Yang dia tidak tahu, radio itu terbuat dari aluminium yang dilapisi finir menyerupai kayu. Manusia memang suka menipu apa pun, bahkan seekor kupu-kupu
Satu jam setelah matahari tenggelam, manusia mulai berhenti menciptakan kebisingan dan pembakaran udara. Kupu-kupu itu masih di sana. Hinggap di jendela kamarmu seperti seseorang yang datang dari sejumlah pertanyaan. Tak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya. Sama seperti semua hal kecil lain yang mudah bersembunyi: hilang atau sulit ditemukan.
Kupu-kupu itu berpindah. Terbang rendah dari pikiranmu, lalu menyentuh pakaian tidurmu yang tidak pernah kaupakai dengan semestinya. Kau dan pakaian itu tidak pernah merasa saling pas soal: Siapa yang lebih dulu harus memejamkan mata? Serupa kecemasan dan karbon monoksida, perkara mana yang lebih dulu mampu menyesaki inti jantungmu?
Kau menyukai malam, dan malam menyukai kupu-kupu itu. Ketika lampu dipadamkan dan mimpi dinyalakan, manusia menjadi bayi yang merangkak ke atas peraduan. Sementara negara terus merencanakan kejahatan. Kau lalu teringat dengan pertanyaan seseorang tentang keinginanmu untuk lahir sekali lagi. Sejak saat itu, usiamu diulang dari angka satu. Sehari setelah menjadi kupu-kupu.
Setelah malam itu, segala kenangan yang pernah terkumpul akan lepas ke langit dan tidur di tiang-tiang lampu. Tak ada lagi ruang berisik di dalam kepala atau dari arah luar jendela. Tak ada lagi wanita dengan lipstik blackberry di depan kaca. Pun seseorang yang sering memberimu pertanyaan. Kau tak lagi pernah pulang. Dan dia mungkin pergi ke tempat yang jauh — mencari jawaban lain seperti hantu penasaran.
Mengenai apa yang kusut dan ribut di dalam kepalaku, selalu ingin jadi ketanpaan yang berdiri di tengah-tengah padang rumput. Seperti kehampaan yang lapang ; puisi yang menunggu untuk dikarang.
Bila saatnya tiba; kau tersenyum. Ribuan puisi telah tertancap di dadamu. Kendati gemuruh tak lagi datang dari lautan. Meskipun orang-orang bertengkar tentang bagaimana cara mengisi istana. Aku masih gentar—gemetar meminta Tuhan mengosongkan hatimu dari selain aku.
Mata kekasih adalah nyala yang selamanya. Sewajar lihai jemari seniman di Pulau Fajar. Kepak sayap dan jejakmu yang kelip gemerlap membentang sepanjang jalan ini.
Sampai saatnya Kyla bertemu dengan waktu dan langit secara bersamaan. Sebuah pertanyaan menjadi pakaiannya di hari itu. Apakah manusia benar-benar bisa memaafkan? Sedangkan di dalam kepala mereka, kesedihan datang seperti lautan. Dan hidup hanya punya kapal kecil yang terbuat dari air mata.
Kau pernah berkata: Menerima adalah terluka. Bersabar adalah terluka sekali lagi dan pergi adalah luka yang tak bisa kau hitung jumlahnya.
Diam adalah hal yang paling ingin dicintai gedung-gedung perkotaan. Setiap orang yang melintas adalah kebisingan bagi tidur malam mereka di hari yang lain. Televisi, dan apa pun yang bisa menyala, adalah mimpi buruk bagi setiap mata yang menidurkan kesedihan.
Cerita oleh : Clandestine @selembarmemoar
Voice Over : Hanahoshi @yaelahanahoshi
Additional V.O : Chelly
Aku akan menjadi 'pizza' dengan cara-cara yang membosankan. Seperti cara-cara hari sabtu melumpuhkan ingatan orang-orang tentang negara; senyuman palsu yang saling bertemu: di gang-gang sempit dan ruang tamu—menjadi mimpi buruk manusia di hari lain.
From the publisher's feed