Manusia itu makhluk berakal budi (animal rationale). Berkat akal budinya manusia menciptakan kebudayaan. Sebagian dari kebudayaan itu adalah agama yang perlu dihayati dengan menggunakan akal budi (nalar). Akal budi (reason) dan agama (faith) tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Yang beragama tanpa nalar rentan jatuh dalam penghayatan secara fanatik dan membabibuta, tanpa logika yang benar. Mudah menjadi radikal yang negatif dan agresif. Sebagai makhluk berakal budi manusia mesti beragama berdasar nalar yang benar. Dengan demikian nalar dan agama akan mendatangkan manfaat bagi kehidupan.