Kalau memang jawabanmu pada kata "ya", maka mari kita niatkan. Tapi jika "tidak" yang keluar dari mulutmu, maka mari kita lanjutkan hidup masing-masing.
Sadarkah kalau selama ini kamu terlalu banyak memikirkan hal-hal yang bisa membuatmu bahagia. Melangkahlah, ambillah kebahagiaan itu. Jangan hanya dipikirkan karena semakin kamu terlalu memikirkan, kebahagiaan sudah terlalu jauh untuk dikejar.
Aku bukan seorang pembenci yang sebegitu bencinya sampai tidak mau menemuimu lagi. Hanya saja aku merasa usaha yang telah aku lakukan akan jadi sia-sia sebab masih ada sedikit rasa di hati dan di dalamnya.
Semua pesan yang kamu kirimkan dulu hanyalah berisi janji-janji yang sudah basi karena tidak pernah kamu tepati. Aku juga waktu itu begitu percaya semua akan berakhir dengan bahagia.
Jangan kira apa yang aku lakukan selama ini kepadamu tanpa dilingkupi rasa ikhlas. Tapi masalahnya, aku seperti orang bodoh jika aku terus-menerus berjuang sementara kamu malah menyerah dengan keadaan.
Aku takut jarak akan melemahkan kita. Aku takut Tuhan akan memisahkan kita. Aku takut orang tua akan menghambat restunya. Aku takut waktu akan mengkhianati janjinya.
Akan selalu ada rasa bosan. Akan selalu ada halangan. Akan selalu ada saat di mana seakan kita bermusuhan dengan keadaan. Hanya ada satu cara untuk melewati itu semua. Setia.
Semoga kamu adalah akhir. Aku yakin kita berdua sudah terlalu lelah untuk memulai hal baru dari nol. Maka dari itu marilah kita bergandengan tangan sambil berdoa kepada Tuhan agar mimpi kita jadi kenyataan.
Sementara, biarlah rasa tetap seperti ini. Sampai suatu saat nanti aku berhasil mengumpulkan niat, tekad, dan keberanian untuk mengungkapkan semua perasaanku kepadamu.
5 min
About Literasi
From the publisher's feed
Tulisan fiksi @dikaamfa | Selasa berbagi cerita, Jumat mengirim surat, dan Kamis puitis