Lurus Saja (Kajian alQuran) by Ust Riko

Lurus Saja (Kajian alQuran) by Ust Riko

Download on the App Store

Lurus Saja (Kajian alQuran) by Ust Riko episodes

  • Kajian QS Asy Syuara 212-220 by Ust Riko

    Dakwah orang yang terdekat 


    (212). إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ

    Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Qur'an itu.


    (213). فَلَا تَدْعُ مَعَ الَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ
    Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di`azab.


    (214). وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
    Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,


    (215). وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
    dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.


    (216). فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
    Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan";


    (217). وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
    Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,


    (218). الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ
    Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),


    (219). وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
    dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.


    (220). إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
    Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    37 min
  • Kajian QS al Hijr ayat 92 by Ust Riko

    Quran Surat Al-Hijr Ayat 92

     فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ 

    Arab-Latin: Fa wa rabbika lanas`alannahum ajma'īn 

    Terjemah Arti: Maka demi Rabb kamu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,


    41 min
  • Kajian QS al Qolam by Ust Riko

    Akhlak yang agung

    “Hai Banu Abdul Mutholib, Banu Fihr, Banu Kaab, bagaimanakah pendapat kamu sekalian jika aku kabarkan bahwa dibelakang gunung itu ada sepasukan kuda musuh yang datang akan membinasakan kamu, apakah kamu percaya dengan yang aku katakan”, ungkap Nabi dalam strategi dakwah yang dijalankan setelah ada perintah andzir. “Ya kami akan percaya”, ungkapan serempak dari kaum tersebut atas gelar 'Al-Amin' yang ada pada diri beliau. Tetapi seruan kedua yang dilontarkan Nabi, “Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kamu tentang akan datangnya siksa oleh Allah”, semua tercengang diam sambil merenung dan sulit untuk percaya. Mengejutkan ketika Abu Lahab berkata, “sungguh celaka kamu sepanjang hari ini, Hanya itukah kamu mengumpulkan kami?”

    Begitulah tantangan yang dihadapi Rasulullah dalam dakwahnya. Sangat Ironi dengan gelar Al Amin yang diberikan oleh kaumnya sendiri kepada beliau. Ketika konsep berpikir yang sudah mentradisi dibenturkan dengan kebenaran ayat mereka terheran-heran bahkan dengan sangat jelas tergambar penolakannya. Mereka lupa bahwasanya penolakan yang mereka perbuat tidak lain hanyalah menolak langsung kepada Allah. Meskipun tiap-tiap jiwa pada dasarnya mempunyai kecenderungan pada kebenaran. Wajar saja jika Rasulullah merasakan kebingungan dan kesempitan yang menghinggapi pikiran dan hatinya. Sedangkan bentuk penyerahan dan keputusan terbesarnya untuk diajari oleh Rabbnya telah diambilnya, pembinaan lewat sholat malam telah dilakukannya, hingga pada andzir demi Rabb yang Maha Mulia adalah bentuk dari pada berbuat demi ayat.

    Nun, demi Al-Qolam dan apa-apa yang mereka gariskan (1), Tidaklah kamu dengan nikmat Rabb ini kamu menjadi gila (2), dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar balasan yang tidak pernah terputus (3), dan sesungguhnya kamu benar-benar diatas akhlak yang agung (4), Maka kelak kamu (Muhammad) akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat (5) siapa yang sebenarnya gila (6), sungguh, Rabb kamu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dijalannya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang berpetunjuk (7).

    39 min
  • Kajian al Mudatstsir By Ust Riko

    TUGAS YANG SEBENARNYA

    Pengajaran Allah pada Muhammad yang pertama yakni mempersiapkan insan menjadi orang yang mau membaca segala sesuatu yang berasal dari Rabbnya. Sehingga timbul kesadaran berpikir yang baru yaitu mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Selanjutnya surat Muzammil berisi perenungan bersama bagi kita bahwa sesuatu yang besar haruslah diawali dengan sesuatu yang mendasar. Sholat lail merupakan suatu yang mendasar sebagai pijakan kokoh bagi pelaksanaan tugas besar selanjutnya yang oleh Allah SWT difirmankan dalam kelompok awal surat Al Mudatstsir.

    “Hai orang yang berkemul (1), Bangunlah (sholatlah), maka beri peringatan (2), Dan Rabbmu, maka agungkanlah (besarkanlah) (3), Dan pakaianmu, maka bersihkanlah (4), Dan perbuatan buruk, maka tinggalkanlah (5), Dan janganlah kamu memberi secara berlebihan (6), Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, maka bersabarlah (7) ”

    37 min
  • Kajian QS al Muzzamil by Ust Riko

    Selimut Kebodohan

    Sebagaimana yang telah diketahui metoda Allah swt di dalam menurunkan AlQuran adalah secara berangsur-angsur, setahap demi setahap, sekelompok demi sekelompok ayat. Tidak turun secara acak, sembarangan atau kebetulan belaka, tetapi terencana  dengan penuh perhitungan. “Sesungguhnya Kami sengaja menurunkan AlQuran padamu  dengan suatu metoda (berangsur-angsur)...” Qs. Al-Insan (76):23.

    Mengapa tidak diturunkan dalam satu kitab saja sekaligus? Kemudian Rasul dan para sahabat dapat mempelajarinya dan menyimpulkannya untuk selanjutnya membuat teori mengenai bagaimana menjalankan isi AlQuran. Tidak!...karena Allah swt yang Maha Tahu yang telah menciptakan manusia, tahu persis watak dan karakter jiwa manusia serta bagaimana cara mendidik dan memantapkan AlQuran ke dalam jiwa manusia. 

    Seperti telah dijelaskan dalam surat al-Furqon ayat  32: “Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).

    Allah swt menjelaskan bahwa secara keseluruhan al Quran itu haruslah diterima dan diimani. Setiap ayatnya haruslah dijadikan petunjuk tidak ada yang boleh diingkari. Akan tetapi watak manusia itu selalu cenderung menolak dan hanya memilih-milih yang sesuai dengan keinginannya. 

    52 min
  • Kajian QS Al Alaq + Muddassir by ust Riko

    Inilah wahyu ketiga itu turun, surat al Mudatstsir yang dengannya kita campakkan kemul itu dengan dasar shalat sebagai sumber kekuatan untuk mampu berandzir, yang kemudian istilah ini berkembang menjadi dakwah. Seorang  pengandzir atau pendakwah harus ada enam poin didalam dirinya. Yaitu pertama, ”Qum” shalat sebagai satu-satunya memupuk kekuatan. Kedua, “besarkan nama Allah” artinya membesarkan bahwa mauNya Allah adalah utama dan harus diwujudkan. Ketiga, “pakaianmu bersihkan!”, satu konsep berpenampilan bersih dalam andzir sebagai pancaran kebersihan agama Allah. Keempat, “maka perbuatan buruk, tinggalkanlah!” Bukankah ini pancaran dari kebersihan, tak sedikitpun keburukan boleh menempel di dalam diri dan jiwa kita, sebab kemurnian agama Allah lah yang sebagai cerminan. Kelima, “dan janganlah berangan-angan yang berlebihan”, suatu hal yang harus kita buang tentang angan-angan dalam memenuhi target dakwah ini. Allah yang punya konsep maka Allah yang punya cara. Keenam, “Dan untuk (memenuhi) perintah Rabbbmu, maka bersabarlah!”, suatu modal yang mutlak dari dalam diri, sabar yang harus dibangun di awal sebab dengan sabar kesiapan dengan segala resiko dari tugas yang berat itu sampai jatuh bangunnya dalam memperjuangkan dakwah ini. inilah  6 poin penting yang mutlak harus dimiliki seseorang dengan perintah andzir  yang menjadi poin penting  dalam surat al Mudatsir. 

    Sedangkan hanya satu poin perintah yang ditujukan diluar yaitu andzir (memberi peringatan) kepada manusia yang lain yaitu dakwah... menyampaikan apa-apa yang dari Allah. Menyampaikan semua tentang perintah-perintah yang jelas dan terbuktikan. Didalamnya memuat tantangan dan resiko dalam pelaksanaannya.  Ia sampaikan ayat-ayat Allah bukan yang lain. Rasulullah aktif mendatangi orang-orang bukan hanya menunggu dirumah dan beliau biayai dakwah ini bukan justru menerima upah dari dakwahnya. Beliau kesampingkan kepentingan diri dan keluarganya demi mendahulukan kepentingan dakwah ini Konsekuensi dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah tak luput mendapat cacian-makian dan hinaan dari lingkungan sekitarnya termasuk sebutan “gila” dari orang-orang yang didakwahinya. Ia hadapi dengan sabar yang memang harus ada di dalam diri sebagai bentuk ketundukpatuhannya beliau kepada ayat. 

    Itulah hal-hal yang beliau contohkan untuk memenangkan ayat. Inilah bukti, betapa hebatnya wahyu Allah merubah diri Rasulullah dari manusia biasa seperti kita menjadi manusia yang berwahyu. Manusia yang hanya berbuat karena wahyu. Setelah  tahu isi dari surat al Mudatstsir ayat 1-7 maka bersegeralah mengambil sikap...      

    52 min
  • Kajian QS. al Alaq (Pembukaan by Ust. Riko

    Sebenarnya Membaca

    “ Iqro’ (Bacalah)“ satu kata yang mengejutkan dari Jibril diantara keheningan Gua Hira’ di kala Muhammad menyendiri. “Ma Ana Biqori (Aku tidak dapat membaca)”, jawab Muhammad dalam ketakutannya akan sosok yang tak dikenal. “ Iqro’ “ diulangi lagi perkataan itu oleh Jibril, tak pelak Muhammad pun menjawab dengan perkataan yang sama pula “Maa Ana Biqori’. Bersegeralah Jibril mendekap Muhammad sampai sulit bernafas, untuk menegaskan kembali “Iqro’, demikian paksa Jibril. Sembari desakan itu pula Muhammad menjawab “Maa Qoro-a ? (Apa yang akan aku baca)”


    Cuplikan di atas merupakan secuil kisah dari Nabi Muhammad kala proses penurunan wahyu pertama. Saat itu Muhammad sedang bertahannutz (menyendiri/menyepi) di Gua Hira, yang merupakan sebuah upaya pencariannya terhadap petunjuk. Ketika itu terjadi selisih pengertian diantara keduanya, sebab tiada kesepahaman akan makna “Iqro’” yang disampaikan Jibril kepada Muhammad. Sampai sekarang pun makna “Iqro’” masih menjadi bias di kalangan kebanyakan orang.

    Disinilah letak perbedaan pemahaman kata “Iqro’”. Dimana Iqro’ yang dikatakan Jibril sangat jauh berbeda dengan Iqro’ yang dipahami Muhammad. Muhammad mengartikannya dalam bahasa bumi, sedangkan Jibril dalam pengertian langit. Iqro’ (Bacalah) dalam bahasa Muhammad diartikan “baca dan tulis”. Akan tetapi, Iqro’ menurut Jibril memiliki arti yang lebih tinggi dari sekedar “baca dan tulis”.

    Hingga pada menyerahnya Muhammad berkata, “Maa Qoro-a? ” , seketika itu pula Jibril menjawabnya “Iqro’ Bismirobbikal Ladzii Kholaq”. Barulah Muhammad mengerti apa yang dimaksud Iqro’ yang disampaikan oleh Jibril tersebut. Yang berarti “Bacalah ! dengan Nama Rabb yang menciptakan”. Inilah pengertian yang paling mendasar untuk mempersiapkan seseorang menjadi menjadi orang yang mulai “membaca” dengan nama Allah yang tidak lain adalah Al Qur’an. Ayat diatas adalah simbol kelompok ayat yang pertama kali turun, terdapat dalam 5 (lima) ayat pertama Surat Al Alaq yaitu surat ke 96 yang secara keseluruhan berjumlah 19 ayat.

    30 min
  • Kajian Qs alFatihah (pendalaman)

    Surat ini memuat akidah islamiah secara global, memuat konsep islam secara garis besar, memuat segenap rasa dan arahan, yang notabene mengisyaratkan hikmah dipilihnya surat ini untuk diulang-ulang pada setiap rakaat, dan hikmah batalnya shalat yang tidak dibacakan surat ini di dalamnya.

    48 min

About Lurus Saja (Kajian alQuran) by Ust Riko

From the publisher's feed

Sampaikan yang dari Ku (Allah SWT) satu ayat