
Sign up to save your podcasts
Or


Banyak cara yang dapat digunakan dalam melakukan interaksi dengan Al-Quran, bisa dengan membaca, memahami dan menghayati. Dalam istilah keagamaan terdapat tiga kata yang biasa digunakan, yaitu qiraah, tilawah, dan tadabbur, ketiganya memiliki makna yang berbeda-beda yang berdampak terhadap pembacanya. Lalu apakah perbedaan makna dari ketiganya? Dan kali ini Prof. M. Quraish Shihab akan menyampaikannya beserta penafsiran 3 ayat pilihan dari Surat at-Tahrim. ____________________________ Podcast episode ini merupakan hasil rekaman Kajian Prof. M. Quraish Shihab bersama Bank Indonesia pada Januari 2022, sehingga harap difahami jika terdapat konteks kajian yang berbeda dengan waktu sekarang. ____________________________ Follow: https://instagram.com/quraish.shihab https://twitter.com/quraishihab Subscribe YouTube Quraish Shihab Channel: http://www.youtube.com/c/QuraishShihabMuhammad Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab: https://store.lenterahati.com/id/281-mqs-corner
Islam mengajarkan akhlak terhadap seluruh alam, dengan cara memberikan penghormatan kepada semua makhluk terutama manusia sebagai makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah. Penghormatan yang diajarkan oleh Islam mempunyai langkah-langkah dan beragam cara yang berbeda, namun tetap berpedoman terhadap nilai-nilai yang berkenaan dengan lingkungan sekitarnya.
Puasa merupakan bentuk pendidikan bagi manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya, dan juga populer disebutkan bahwa puncak tujuan dari puasa merupakan ketakwaan terhadap Allah sebagaimana difahami oleh beberapa orang dari salah satu ayat Al-Quran. Namun, takwa pada dasarnya bukanlah puncak tujuan dari ibadah puasa, takwa hanyalah permulaan dari tujuan puasa.
Bulan Ramadhan ini semua umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa, dimana secara syariat dengan cara menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari mulai fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi esensi puasa bukanlah hanya sekedar menahan diri, puasa dapat bernilai ibadah jika sudah memenuhi tujuan puasa.
Allah menganugerahkan manusia dengan akal dan hati dengan segala potensinya, masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda namun harus saling berkaitan tidak bisa dipisah. Jika akal dan hati terpisahkan maka manusia akan cenderung pada satu hal, kehidupannya tidak berimbang dan tidak dapat memberikan manfaat bagi manusia lainnya.
Manusia dalam melaksanakan kehidupannya sudah dianugerahi potensi oleh Allah untuk melaksanakan kebaikan. Berbagai potensi yang ada dalam diri manusia haruslah diarahkan ke kegiatan positif, agar dapat dinilai sebagai seseorang yang berbudi pekerti tinggi dan mempunyai akhlak yang bagus. Di antara berbagai potensi yang diberikan, terdapat empat potensi pokok yang harus dikembangkan dan dikontrol oleh manusia.
Setelah melakukan perjalanan , akhirnya Nabi Musa bertemu dengan Nabi Khidhr dan meminta untuk mengangkatnya menjadi murid untuk mendapatkan ilmu dari Nabi Khidhr. Nabi Khidhr pun menerimanya dengan beberapa syarat, hingga akhirnya terjadilah perpisahan karena pelanggaran Nabi Musa terhadap syarat dari gurunya. Mengapa syarat ini begitu sulit dilakukan oleh Nabi Musa? Apa bentuk syarat yang dilanggar oleh Nabi Musa itu?
Banyak kisah yang terkandung dalam surah al-Kahfi, salah satunya kisah Nabi Musa yang diperintahkan Allah untuk berguru kepada salah satu hamba Allah yang dianugerahi ilmu tinggi, yang terkenal dengan nama Khidhr. Perjalanan Nabi Musa untuk berguru mengandung berbagai hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik di masa kini.
From the publisher's feed