Mongabay Indonesia Podcast

Mongabay Indonesia Podcast

By Mongabay IndonesiaNewsDaily News
Download on the App Store

Mongabay Indonesia Podcast episodes

  • Mongabay Snaps:

    Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan

    11 min
  • Habitat yang Tak Pernah Tercatat: Mengungkap Populasi Orangutan di Tempat Tak Terduga

    Hutan Lumut selama ini hanya dipandang sebagai hamparan gambut biasa di pinggiran lanskap besar Sumatra, jauh dari pusat perhatian konservasi. Namun sebuah penemuan lapangan mengubah cara pandang itu: orangutan Tapanuli ternyata hidup dan bertahan di sana, di luar kawasan utama Batang Toru yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya rumah mereka.

    Di tengah pepohonan gambut yang lembap dan sunyi di Desa Lumut Maju, jejak kehadiran orangutan Tapanuli menyingkap kemampuan adaptasi yang tak banyak diketahui. Mereka tidak hanya hidup di hutan pegunungan yang rapat dan sejuk, tetapi juga mampu bertahan di ekosistem yang sangat berbeda, dengan struktur vegetasi, ketersediaan pakan, dan tantangan ekologis yang lain sama sekali. Cerita ini menggugurkan anggapan lama bahwa spesies ini memiliki toleransi habitat yang sempit, sekaligus memperlihatkan betapa pengetahuan manusia tentang alam masih penuh celah.

    Namun kisah ini bukan hanya tentang penemuan, melainkan juga tentang kerentanan. Berbeda dengan Batang Toru yang memiliki status konservasi lebih jelas, Hutan Lumut berada di ruang abu-abu: kawasan tanpa perlindungan formal, rawan pembukaan lahan, tumpang tindih kepentingan, dan minim pengawasan. Di sinilah orangutan harus berbagi ruang dengan aktivitas manusia, menghadapi risiko perburuan, konflik, dan fragmentasi habitat yang bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Temuan ini menjadi titik awal diskusi mendalam melalui program Bincang Alam yang digelar Mongabay Indonesia bersama Syafrizaldi Jpang, Direktur Eksekutif Orangutan Information Centre (OIC), yang membuka kisah tentang habitat yang luput dari peta, data, dan kebijakan.

    1 hr 12 min
  • Menyiapkan Suara Masyarakat Sipil Indonesia untuk COP30 Brasil

    Konferensi Para Pihak (COP) selalu menjadi pertemuan besar yang mempertemukan berbagai kepentingan: politik, ekonomi, dan lingkungan. Isu perubahan iklim terus menjadi perhatian global, terutama menjelang Konferensi Para Pihak (COP30) yang akan digelar di Belém, Brasil, pada November 2025. Forum ini diharapkan menjadi momentum penting bagi negara-negara dunia untuk memperkuat komitmen pengurangan emisi, meninjau hasil Global Stocktake dari COP sebelumnya, serta menegaskan langkah konkret menuju transisi energi yang berkeadilan.

    Menjelang COP30 juga, berbagai organisasi masyarakat sipil tengah bersiap memperkuat posisi dan kontribusi Indonesia dalam forum global tersebut, salah satunya Madani Berkelanjutan (Madani). Bagi Madani, kehadiran masyarakat sipil di forum ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan narasi. Lembaga ini berfokus pada tata kelola guna lahan yang berkelanjutan, serta mendorong percepatan transisi menuju energi terbarukan dan pembangunan rendah karbon. Keberlanjutan tidak bisa hanya diukur dari target emisi, tetapi juga dari sejauh mana perubahan itu menghadirkan keadilan sosial dan ekonomi bagi masyarakat di akar rumput.

    Dalam persiapan menuju COP30 di Brasil, Madani bersama koalisi masyarakat sipil menyerukan tiga tuntutan utama, sebagai langkah menuju masa depan yang lebih berkeadilan bagi planet ini. Apa saja tuntutan tersebut? Simak diskusi bersama Nadia Hadad yang merupakan Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan sebagai narasumber dalam episode "Bincang Alam" yang membahas bagaimana agenda COP30 dapat mencakup mitigasi, adaptasi, dan mekanisme pasar karbon yang dapat selalu dikawal agar berpihak pada lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar kepentingan bisnis global.

    1 hr
  • Teknologi Genomik Pelacak DNA Satwa Laut: Inovasi Pelacakan Akurat untuk Produk Perikanan

    Inovasi terbaru di bidang perikanan menunjukkan bahwa di balik sepiring hasil laut yang kita nikmati, tersembunyi tantangan besar terkait keaslian spesies dan keberlanjutan ekosistem. Tim riset dari IPB University di bawah kepemimpinan Prof. Asadatun Abdullah telah mengembangkan teknologi genomik bernama "Hi‑Par Meter" dan "True Portunus" yang memungkinkan identifikasi spesies laut (khususnya hiu, pari, dan rajungan) dengan cepat, bahkan dari produk olahan yang sudah sulit dikenali morfologinya.

    Kedua alat ini memanfaatkan teknik DNA barcoding, PCR, LAMP dan teknologi sequencing untuk mendeteksi spesies secara akurat dan portabel, sehingga bukan hanya mempermudah industri perikanan, tapi juga memainkan peran penting dalam pelestarian spesies terancam dan pemenuhan regulasi internasional seperti CITES.

    Dengan langkah ini, kita melihat persimpangan penting antara teknologi, keamanan pangan, kejujuran rantai pasok, dan konservasi laut: bukan hanya soal "apakah ikan ini benar spesies yang tertulis" tetapi juga "apakah cara kita menangkap, mengolah, dan memperdagangkannya ramah lingkungan dan sah".

    Simak diskusi mendalam bersama Prof. Asadatun Abdullah sebagai narasumber dalam episode "Bincang Alam" yang membahas bagaimana riset dan invovasi ini bisa diterjemahkan ke lapangan—mulai dari pelabuhan, pasar tradisional hingga ekspor—dalam upaya mewujudkan rantai produk perikanan yang transparan, berkelanjutan, dan bertanggung-jawab.

    Foto: Rekam Nusantara Foundation

    55 min

About Mongabay Indonesia Podcast

From the publisher's feed

Bicara soal alam