Mongabay Indonesia Podcast

Mongabay Indonesia Podcast

By Mongabay IndonesiaNewsDaily News
Download on the App Store

Mongabay Indonesia Podcast episodes

  • Danau Sentani: Ruang Hidup, Temuan Arkeologi, dan Penelusuran Jejak Leluhur Papua

    Danau Sentani di Papua bukan sekadar hamparan air yang memesona dari pesawat ketika mendarat di Jayapura. Ia adalah ruang hidup yang memadukan sejarah panjang, kearifan ekologis, dan tradisi budaya yang masih berdenyut hingga kini.

    Dari rumah panggung yang terapung di tepian, hutan sagu yang menjadi sumber pangan, hingga lukisan kulit kayu yang merekam jejak leluhur — danau ini menghadirkan kisah keterhubungan manusia dengan alam yang jarang ditemui di tempat lain.

    Namun, di balik keindahan ini, terdapat tantangan yang menggerus jantung ekosistem Danau Sentani. Pencemaran dari limbah rumah tangga, beralih fungsi kawasan hutan sagu, serta tekanan pengembangan tambang nikel di pegunungan sekitarnya menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan ekologi dan budaya danau ini.

    Simak diskusinya bersama Hari Suroto, Peneliti ‎Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, ‎Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam sesi "Bincang Alam" yang membahas masa lalu, tantangan saat ini, dan strategi pelestarian masa depan Danau Sentani.

    1 hr 30 min
  • Konservasi di Tengah Tantangan Fragmentasi Habitat Orangutan Tapanuli

    Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) adalah satu dari kera besar paling langka di dunia, dengan populasi kurang dari 800 individu yang kini tersebar dalam metapopulasi Blok Barat dan Blok Timur di ekosistem Batang Toru. Sebagai spesies endemik dan sangat rentan, mereka menghadapi tekanan berat akibat fragmentasi habitat, terutama dari proyek PLTA, tambang emas, serta ekspansi perkebunan dan infrastruktur.

    Meski demikian, adaptasi ekologisnya luar biasa: hidup di elevasi 300–1.300 m di atas permukaan laut, memanfaatkan berbagai sumber pakan alternatif ketika buah langka, dan bertahan dalam kondisi isolasi genetik tinggi. Peran ekologis orangutan Tapanuli sangat penting, mereka menjaga kesehatan hutan melalui penyebaran biji dan menjaga dinamika komunitas tumbuhan. Namun upaya konservasi tidak hanya soal teknik pelestarian. Konsep koeksistensi (manusia dan satwa hidup berdampingan) menjadi kunci, ketimbang solusi radikal seperti relokasi massal. Dukungan sosial, kebijakan publik, riset genetik dan spasial, serta penguatan kapasitas lokal juga sangat dibutuhkan untuk menjaga integritas populasi dan mencegah degradasi habitat lebih lanjut.

    Simak diskusi mendalam bersama Panut Hadisiswoyo, pendiri Yayasan Orangutan Sumatera Lestari / Orangutan Information Centrem sebagai narasumber dalam pembahasan ini, tentang tantangan, peluang, dan makna moral konservasi orangutan Tapanuli di masa depan.

    1 hr 3 min
  • Nikel: Mimpi Orang Kota, Mimpi Buruk Bagi Pulau

    Episode perdana BTS: Berita Tanpa Sensor dari Mongabay Indonesia, jurnalis Lusia Arumingtyas dan Riza Salman membedah realitas getir dari hilirisasi tambang nikel di pulau-pulau kecil Indonesia, khususnya Sulawesi dan Raja Ampat. Bukan sekadar soal logam untuk baterai mobil listrik, ini adalah kisah tentang rusaknya ekosistem, lenyapnya ruang hidup, dan hancurnya harapan warga pulau. Satu baterai mobil listrik setara dengan hilangnya satu hektar kebun cengkeh produktif yang dulunya mampu menghidupi beberapa generasi.

    Riza bercerita pengelaman jurnalistiknya yang sangat membekas, mulai dari pencemaran air, anak-anak sakit kulit, mata pencaharian musnah, dan konflik sosial meretakkan keluarga. dia melihat langsung bagaimana pertambangan telah memutuskan generasi. Satu hektar lahan cengkeh produktif, yang dulu bisa menyekolahkan anak-anak dan menghidupi beberapa turunan, kini berubah menjadi debu, lumpur, dan konflik sosial.

    "Laut adalah ibu bagi masyarakat pesisir yang oleh perempuan pesisir itu tidak perlu repot untuk mendapatkan sumber pakan ketika air surut ada namanya, meti mereka menangkap Habitat habitat di pesisir itu sudah nggak ada lagi," ujar Riza.

    Di tengah semua itu, hukum sering kali hanya jadi formalitas. Secara hukum, pulau-pulau kecil di bawah 2.000 km² tidak boleh ditambang. Namun, celah administratif—penggunaan batas wilayah kecamatan, bukan pulau—dimanfaatkan untuk menerbitkan izin tambang. Misalnya saja saat masyarakat mengugat PT Gema Kreasi Perdana, anak usaha Harita Group di Pulau Wawonii. Lima kali warga Wawonii menang di pengadilan, tapi tambang tetap beroperasi.

    Lebih jauh, sedimentasi dari tambang terbukti mencemari laut hingga ratusan kilometer jauhnya, mengancam ekosistem laut Banda yang jadi jantung segitiga karang dunia.

    Riza juga menyinggung tentang genosida ekologis terhadap Suku Bajo—masyarakat laut yang kehidupannya sangat bergantung pada ekosistem pesisir. Mereka kehilangan ruang hidup, tidak bisa bertani, dan kini hanya bisa mengandalkan laut yang semakin miskin.

    Di sinilah letak ironi besar: energi hijau yang katanya ramah lingkungan justru menghancurkan kehidupan masyarakat lokal.

    Di tengah isu Save Raja Ampat yang kini viral, episode ini jadi pengingat bahwa banyak pulau lain yang sunyi dan tanpa sorotan publik tengah mengalami nasib serupa. Kini giliran kita bersuara. Karena kalau kita tak mampu menyelamatkan pulau-pulau kecil, bagaimana bisa kita melindungi negeri ini secara utuh?

    56 min
  • Sang Predator Puncak: Menerawang Nasib Macan Tutul Jawa

    Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa, setelah harimau Jawa dinyatakan punah. Sebagai subspesies endemik dengan status terancam punah (Endangered), keberadaan macan tutul kini menghadapi tekanan besar akibat fragmentasi habitat, perambahan lahan, serta konflik dengan manusia. Meskipun begitu, daya adaptasi ekologisnya yang tinggi, mampu hidup di berbagai jenis bentang alam dari pegunungan hingga mangrove, membuatnya masih bertahan.

    Peran ekologis macan tutul sangat penting sebagai pengendali populasi mangsa, yang berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Ia juga menyimpan potensi besar dalam ekowisata berbasis konservasi, seperti melalui pemantauan kamera jebak yang bisa melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Namun demikian, makna budaya terhadap macan tutul telah banyak berubah. Selain upaya teknis, konservasi juga memerlukan dukungan sosial dan politik, termasuk kampanye yang mampu membangkitkan kembali nilai-nilai lokal dan semangat pelestarian satwa liar Jawa. Jika tidak ada langkah nyata dan terintegrasi, bukan tidak mungkin macan tutul Jawa akan mengikuti jejak harimau Jawa sebagai bagian dari sejarah yang terlambat diselamatkan.

    Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia: https://www.mongabay.co.id/

    1 hr 30 min
  • Mikroplastik: Merusak Fungsi Otak Secara Diam-Diam

    Mikroplastik telah menjadi masalah lingkungan dan kesehatan yang semakin mendesak. Limbah plastik yang terus meningkat berkontribusi terhadap penyebaran partikel mikroplastik di udara, tanah, dan air. Partikel ini tidak kasat mata tetapi telah ditemukan dalam tubuh manusia, seperti dalam darah, urine, dan feses, yang berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk fungsi otak.

    Greenpeace bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk meneliti dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, khususnya pada sistem saraf. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mikroplastik memiliki korelasi dengan gangguan kognitif. Temuan ini semakin memperkuat bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat memengaruhi fungsi neurologis.

    Mikroplastik masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup, makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta kontak dengan kulit. Plastik dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai menjadi sumber utama paparan. Selain itu, industri plastik yang terus berkembang semakin meningkatkan pencemaran mikroplastik di lingkungan.

    Pengurangan produksi dan konsumsi plastik menjadi langkah utama yang perlu diambil. Pemerintah harus mempercepat regulasi pelarangan plastik sekali pakai, sementara produsen harus beralih ke sistem guna ulang dengan kemasan yang lebih aman seperti kaca atau stainless steel. Konsumen juga harus lebih sadar dalam memilih produk yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran dan aksi nyata dalam mengurangi konsumsi plastik, mendukung regulasi yang lebih ketat, dan memilih alternatif yang lebih aman dapat membantu melindungi kesehatan manusia serta lingkungan dari ancaman mikroplastik yang semakin serius.

    Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia: https://www.mongabay.co.id/

    1 hr 15 min
  • Mikroplastik: Merusak Fungsi Otak Secara Diam-Diam

    Mikroplastik telah menjadi masalah lingkungan dan kesehatan yang semakin mendesak. Limbah plastik yang terus meningkat berkontribusi terhadap penyebaran partikel mikroplastik di udara, tanah, dan air. Partikel ini tidak kasat mata tetapi telah ditemukan dalam tubuh manusia, seperti dalam darah, urine, dan feses, yang berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk fungsi otak.

    Greenpeace bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk meneliti dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, khususnya pada sistem saraf. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mikroplastik memiliki korelasi dengan gangguan kognitif. Temuan ini semakin memperkuat bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat memengaruhi fungsi neurologis.

    Mikroplastik masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup, makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta kontak dengan kulit. Plastik dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai menjadi sumber utama paparan. Selain itu, industri plastik yang terus berkembang semakin meningkatkan pencemaran mikroplastik di lingkungan.

    Pengurangan produksi dan konsumsi plastik menjadi langkah utama yang perlu diambil. Pemerintah harus mempercepat regulasi pelarangan plastik sekali pakai, sementara produsen harus beralih ke sistem guna ulang dengan kemasan yang lebih aman seperti kaca atau stainless steel. Konsumen juga harus lebih sadar dalam memilih produk yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran dan aksi nyata dalam mengurangi konsumsi plastik, mendukung regulasi yang lebih ketat, dan memilih alternatif yang lebih aman dapat membantu melindungi kesehatan manusia serta lingkungan dari ancaman mikroplastik yang semakin serius.

    Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia: https://www.mongabay.co.id/

    1 hr 8 min
  • Episode 6: Mongabay Snaps 7 Maret

    Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel paling populer dan informasi terkini tentang isu lingkungan.

    Berikut ini 5 artikel Mongabay Snaps pada periode 25 Februari- 3 Maret 2025

    1.⁠ ⁠Petani Desa Gunung Anten, Lebak, Banten khawatir dengan adanya penyerobotan tanah yang dilakukan oleh organisasi masyarakat. Mereka diintimidasi dan menganggu aktivitas para petani. Tulisan dari Irfan Maulana: https://www.mongabay.co.id/2025/02/28/kala-ormas-serobot-tanah-reforma-agraria-petani-gunung-anten/

    2.⁠ ⁠Bagaimana kabar masyarakat di Kabaena, pulau kecil di Sulawesi Tenggara? Ambisi pemerintah sebagai pemain utama nikel mengubah lanskap lingkungan dan sosial masyarakat setempat. Tulisan dari Riza Salman https://www.mongabay.co.id/2025/03/03/kabaena-hancur-demi-ambisi-kendaraan-listrik/

    3.⁠ ⁠Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) atau Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) di Kalimantan Utara sudah mulai kontruksi sejak 2021. Masyarakat pesisir dan nelayan pun mulai merasakan dampak kehadiran proyek strategis nasional ini. Tulisan dari Abdallah Naem https://www.mongabay.co.id/2025/02/27/nestapa-nelayan-terdampak-kawasan-industri-hijau-kaltara/

    4.⁠ ⁠Kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) makin sulit, terlebih sejak hutan di wilayah di Kabupaten Batanghari, Jambi, terbabat perusahaan sawit dan tambang batubara pada 2019. Bagaimana kabar hari ini? Tulisan dari Teguh Suprayitno https://www.mongabay.co.id/2025/02/28/terkepung-sawit-dan-tambang-sad-batanghari-kesulitan-pangan/

    5.⁠ ⁠Konflik petani Padang Halaban dengan perusahaan sawit Sinar Mas ini sudah terjadi sejak 2012. Petani ditangkap, seorang anak diduga tertembak polisi, bahkan Komnas HAM turut mengadvokasi isu ini. Tulisan dari Achmad Rizki Muazam https://www.mongabay.co.id/2025/02/28/konflik-sinar-mas-petani-padang-halaban-ngadu-ke-komnas-ham/

    30 min
  • Berkenalan Dengan Owa Kebanggaan Indonesia

    Owa, atau gibbon, adalah primata arboreal yang menjadi kebanggaan Indonesia. Dari 20 spesies owa yang ada di dunia, sembilan di antaranya dapat ditemukan di hutan-hutan Indonesia, tersebar di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Sebagai satwa arboreal, owa menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon, bergerak dengan lincah menggunakan lengannya yang panjang—a metode bergerak yang dikenal sebagai brachiation.

    Setiap spesies owa memiliki karakteristik unik. Misalnya, owa jawa (Hylobates moloch) yang endemik di Jawa Barat, dikenal dengan bulu abu-abunya dan suara panggilan pagi yang khas. Di Sumatra, terdapat owa siamang (Symphalangus syndactylus), spesies terbesar di antara owa, yang memiliki kantung suara besar untuk menghasilkan vokalisasi nyaring. Sementara itu, owa kalawat (Hylobates muelleri) menghuni hutan-hutan Kalimantan dengan ciri khas wajah tanpa bulu dan perilaku sosial yang kompleks.

    Perilaku sosial owa sangat menarik untuk dipelajari. Mereka hidup dalam kelompok keluarga kecil yang monogami, terdiri dari pasangan induk dan anak-anaknya. Aktivitas harian owa biasanya dimulai dengan vokalisasi pagi, yang berfungsi untuk menandai wilayah dan memperkuat ikatan pasangan. Selain itu, perilaku grooming atau saling membersihkan bulu juga umum dilakukan untuk mempererat hubungan sosial dalam kelompok.

    Sayangnya, populasi owa di Indonesia menghadapi ancaman serius akibat deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal. Misalnya, owa jawa saat ini berstatus terancam punah dengan populasi yang terus menurun. Upaya konservasi, seperti perlindungan habitat dan rehabilitasi satwa, sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup spesies-spesies owa ini. Masyarakat juga diharapkan berperan aktif dalam menjaga kelestarian owa, mengingat peran penting mereka dalam ekosistem.

    Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia: https://www.mongabay.co.id/

    1 hr
  • Jembatan Kanopi: Bisakah Jadi Salah Satu Solusi Konektivitas Habitat Satwa Liar?

    Pembangunan infrastruktur fisik, seperti jalan lintas, sering kali menyebabkan fragmentasi hutan yang menghambat pergerakan satwa liar. Kondisi ini dapat mengisolasi populasi satwa dalam petak-petak hutan yang terpisah, mengancam kelangsungan hidup mereka.

    Untuk mengatasi masalah ini, Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa (TaHuKah), sebuah LSM berbasis di Sumatera Utara, telah mengembangkan solusi inovatif. Mereka membangun jembatan kanopi di atas jalan lintas sebagai penghubung bagi satwa liar. Inisiatif ini bertujuan memulihkan konektivitas habitat yang terfragmentasi, memungkinkan individu dan populasi satwa berinteraksi tanpa terisolasi.

    Pendekatan TaHuKah tidak hanya melestarikan keanekaragaman hayati tetapi juga menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dan konservasi alam dapat berjalan beriringan. Dengan mengadopsi solusi seperti jembatan kanopi, kita dapat menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Indonesia dan memastikan kelestarian satwa liar di dalamnya.

    Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia: https://www.mongabay.co.id/

    1 hr 19 min
  • Kearifan Lokal dan Relasi Sosial Suku Baduy Dalam Adaptasi Krisis Iklim

    Diskusi ini membahas kearifan lokal dan relasi sosial Suku Baduy dalam menghadapi krisis iklim, dengan narasumber Dr. Ulfa Sevia Azni, S.Sos. - Research Center for Social Welfare, Village, and Connectivity, National Research and Innovation Agency (PR-KSDK BRIN). Beliau berbagi pengalamannya mengunjungi Baduy Dalam dan belajar tentang kehidupan mereka yang sederhana dan harmonis dengan alam.

    Suku Baduy, yang terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar, dikenal karena tradisi leluhur mereka yang kuat dan penolakan terhadap modernisasi. Mereka hidup tanpa listrik, kendaraan, dan teknologi modern lainnya, dan sangat menjaga kelestarian alam melalui aturan adat yang ketat, seperti larangan menebang pohon sembarangan dan penggunaan bahan kimia. Prinsip hidup mereka didasarkan pada filosofi "pikukuh," yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial.

    Diskusi ini juga menyoroti bagaimana Suku Baduy beradaptasi dengan perubahan iklim melalui praktik pertanian alami, kemampuan membaca tanda-tanda alam, dan gaya hidup dengan jejak karbon rendah. Gotong royong dan warisan lisan memainkan peran penting dalam menjaga harmoni dan keberlanjutan komunitas mereka. Dr. Ulfa mengajak pendengar untuk belajar dari Suku Baduy dan menerapkan prinsip-prinsip hidup sederhana, menjaga alam, dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

    Diskusi juga membahas tantangan yang dihadapi Suku Baduy dalam menghadapi krisis iklim yang semakin parah, dan pentingnya dukungan eksternal seperti bantuan pemerintah, teknologi, dan perlindungan hukum untuk wilayah adat mereka. Dr. Ulfa menekankan bahwa kearifan lokal masyarakat adat dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan adaptasi di era perubahan iklim.

    Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia: https://www.mongabay.co.id/

    1 hr 6 min

About Mongabay Indonesia Podcast

From the publisher's feed

Bicara soal alam