Diskusi ini membahas kearifan lokal dan relasi sosial Suku Baduy dalam menghadapi krisis iklim, dengan narasumber Dr. Ulfa Sevia Azni, S.Sos. - Research Center for Social Welfare, Village, and Connectivity, National Research and Innovation Agency (PR-KSDK BRIN). Beliau berbagi pengalamannya mengunjungi Baduy Dalam dan belajar tentang kehidupan mereka yang sederhana dan harmonis dengan alam.
Suku Baduy, yang terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar, dikenal karena tradisi leluhur mereka yang kuat dan penolakan terhadap modernisasi. Mereka hidup tanpa listrik, kendaraan, dan teknologi modern lainnya, dan sangat menjaga kelestarian alam melalui aturan adat yang ketat, seperti larangan menebang pohon sembarangan dan penggunaan bahan kimia. Prinsip hidup mereka didasarkan pada filosofi "pikukuh," yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial.
Diskusi ini juga menyoroti bagaimana Suku Baduy beradaptasi dengan perubahan iklim melalui praktik pertanian alami, kemampuan membaca tanda-tanda alam, dan gaya hidup dengan jejak karbon rendah. Gotong royong dan warisan lisan memainkan peran penting dalam menjaga harmoni dan keberlanjutan komunitas mereka. Dr. Ulfa mengajak pendengar untuk belajar dari Suku Baduy dan menerapkan prinsip-prinsip hidup sederhana, menjaga alam, dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi juga membahas tantangan yang dihadapi Suku Baduy dalam menghadapi krisis iklim yang semakin parah, dan pentingnya dukungan eksternal seperti bantuan pemerintah, teknologi, dan perlindungan hukum untuk wilayah adat mereka. Dr. Ulfa menekankan bahwa kearifan lokal masyarakat adat dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan adaptasi di era perubahan iklim.
Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia: https://www.mongabay.co.id/