Monolog Diri by Lubna Abidah

Monolog Diri by Lubna Abidah

By Lubna AbidahArtsPerforming Arts
Download on the App Store

Monolog Diri by Lubna Abidah episodes

  • #24 Sebelah Telinga (oleh Faizal Reza)
    Earphone saya rusak. Sebelah. Tinggal bagian kanan yang masih berfungsi dengan baik. Kau tahu? Sesuatu yang terbiasa terlihat sepasang akan terlihat aneh begitu berjalan sendirian. Yang tadinya ada kemudian tidak ada, akan menjadi pertanyaan bagi beberapa orang. - Yang selalu terlihat sepasang kemudian terlihat sendirian, memang akan menjadi aneh. Tapi yang sudah terlanjur nyaman sendirian, akan butuh waktu untuk nyaman terlihat sepasang.
    3 min
  • #21 Aku Tidak Bisa Menjanjikan Selalu Bahagia by Boycandra
    Temanilah apa saja yang sedang kuperjuangkan. Hidup memang tidak pasti. Namun bila kamu bersedia mengimbangi, semua akan lebih mudah dijalani. Aku hanya ingin kamu tidak terjebak bayangan-bayangan indah saja, jika di perjalanan nanti kamu kaget dan menyerah begitu saja. Itulah mengapa kukatakan dengan sepahit-pahitnya. Agar kamu bisa menerima bahwa aku hanyalah manusia biasa. Jika pada titik tertentu aku gagal, ku harap kamu akan tetap menjadi seseorang yang memilih tetap tinggal. Menemani merangkak lagi, berdiri lagi, berkalan kembali. Maklumi dan belajarlah menerima, jika pada saat ini hanya ada sedikit waktu yang tersisa. Aku sama sekali tidak bisa selalu ada. Aku tidak mau menjanjikan kamu kebahagiaan yang selalu ada. Hanya saja, aku akan selalu bekerja keras untuk mewujudkan itu semua.
    4 min
  • #20 Penghujung Oktober Ini
    Aku tak pernah merasa kecewa atas keputusan yang telah aku ambil, meski kemudian tahun-tahun yang kujalani kerap gagal dalam perihal menyandarkan diri kepada manusia menjadi konsekuensinya.
    4 min
  • #19 Stack oleh Lubna Abidah
    Kini aku tampak seperti wanita-wanita lain yang pernah singgah dalam hidupmu, menjadi tumpukan-tumpukan masa lalu yang tak mungkin sudi untuk kau ambil kembali. Namun, aku tak begitu saja rela menerima setelah betapa hati, tubuh dan jiwa ku kau renggut paksa tanpa iba. Pada malam esok hari, akan ku kremasi wanitamu dengan bara api berbahan bakar tubuhku, biar menyatu dengan wujudku, saat ia ku renggut paksa darimu.
    3 min
  • #18 Safe Mode oleh Lubna Abidah
    Orang-orang meneriakiku untuh menjauh dari situ, namun aku tetap saja melangkah maju. Seperti hendak bersengaja memeluk ombak karena diracuni oleh kerinduan yang diciptakan oleh samudera. Tak menghiraukan teriakan mereka.
    3 min
  • #17 Pertikaian oleh Lubna Abidah
    Peluhmu dirindui oleh sekutu, bersenyawa hingga membara dan tandas menjadi sekam. Puluhan ribu benda tajam yang telah rapi diasah, merindikan jilatan darah pada matanya, seakan-akan memberi warna pada kornea.
    2 min
  • #16 Reset oleh Lubna Abidah
    Sepertinya aku telah bertukar jiwa, namun entah dengan siapa. Atau jangan-jangan aku sedang berada di surga? Ah, tidak mungkin, mana pernah ada orang yang terbunuh oleh tangannya sendiri bisa berada di tempat seindah ini.
    2 min
  • #15 Memilin Temu by Lubna Abidah
    Memilin temu tak pernah serumit ini. Ketika waktuku dan waktunya hanya sepersekian detik dari seluruh hari yang ku punyai. Merekam kenang hanya untuk melukai ingatan. Bodohnya aku merasa terbiasa.
    2 min

About Monolog Diri by Lubna Abidah

From the publisher's feed

Prosa tentang kehidupan