
Sign up to save your podcasts
Or


Manusia seperti gunung berapi. Yang bisa meledak sewaktu-waktu.
Yang saya bacakan adalah karya saya sendiri. Untuk membacanya bisa mengunjungi blog saya https://nandsy.com/sastra/opini/gunung-berapi/
Terimakasih banyak.
Puisi by Nanda Sri Wahyuni
Ada yang mendadak hilang, baru saja pagi sudah tiba-tiba petang.
Kemudian berganti menjadi malam berselimut kelam.
Ya, aku.
Mengapa aku masih juga berharap sementara kamu sudah semakin gelap?
Mengapa aku tak sempat untuk bertanya?
Mengapa aku tak sempat untuk kecewa dan menyesalinya?
Mengapa semua ini seolah sia-sia?
Begitu kosong waktu bertahun-tahun yang sudah kita lewati.
Masih adakah cahaya diantara gelap menujumu?
Masih adakah bunga lambang cinta yang ku tanam dihatimu?
Alangkah angkuhnya langit yang tak memperbolehkan matahari bersinar lagi.
Biar kujelaskan dulu, bukannya aku tak sayang padamu.
Kemarin, hujan turun tak jemu.
Aku memilih kaku meratapi hujan sepanjang hari, sendiri, dan membiarkan semua nya sepi. Hingga aku tak sadar, di ujung sana kau menantiku tak peduli aku harus menerjang hujan atau badai yang penting aku segera datang di hadapanmu.
Aku dengan persepsiku, bahwa menepi adalah cara terbaik menenangkan diri.
Kamu dengan persepsimu, bahwa aku sudah tak mengingatmu lagi karena aku senyap tiba-tiba tak mengabari.
Awalnya, aku kira, kamu mengerti aku. Dan aku mengerti kamu.
Ternyata tidak. Ku pikir, jeda itu perlu untuk memaknai arti hari-hari yang telah kita lalui. Ternyata bagimu, tidak perlu juga.
Kau sudah berbunga lagi sebelum musim menanggalkan daun-daun.
Kau sudah tersenyum lagi sebelum airmataku kering.
Kau sudah menata mimpi-mimpi lagi bersama orang lain sebelum mimpi-mimpi kita yang dulu ku sembunyikan.
Semua seperti mimpi.
Kau meninggalkanku dengan desak.
Dan aku masih tegak, tergagap gugup tak kuasa menahanmu untuk tetap bertahan bersamaku.
Kunjungi blog saya : nandsy.com
From the publisher's feed