
Sign up to save your podcasts
Or


Banyak yang dibahas pada episode kali ini, mulai dari keamanan saiber, etika berinternet, digitaliasasi yang salah kaprah dan banyak hal lainnya yang masih berhubungan dengan dunia maya, sayangnya kita terkadang kelewatan.
Kebebasan melakukan segala sesuatu yang menjadikan kita melupakan apa itu budaya, moral, dan etika. Kita semua terkurung oleh aturan yang ada di dunia nyata dan melampiaskannya saat menjalani kehidupan di dunia digital atau maya.
Kita terkadang mengesampingkan apa itu moral, etika dan budaya, dan menjunjung tinggi kebebasan tanpa sekat. kebebasan yang terkadang menindas orang lain secara psikis dan kehidupan di dunia mayanya. kita juga lupa bahwa dunia digital juga memiliki aturan dan sistem masyarakat yang harusnya kita bawa dari dunia nyata.
Kebebasan tanpa sekat menjadikan kita berbuat sesuka hati, melampiaskan segalanya karena kita tertekan tanpa sadar dan merasakan bahwa tiada orang yang mampu melampiaskan kekesalannya secara langsung kepada kita, ketika kita menindas orang lain di dunia maya.
Kebebasan tanpa sekat di dunia digital membawa kita jauh ke dalam sebuah bentuk baru dari perilaku yang "menindas" secara psiksi dan itu merupakan sebuah lingkaran setan yang seharusnya berhenti di kita.
Buat sebagian orang, mesin waktu bisa jadi jawaban atas semua hal yang pernah dia lalui dan tidak bisa diubah atau sudah terlanjur terbentuk. Kadang kita berandai-anda seandainya kita bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya, tapi kita tidak pernah mikir gimana konsekuensinya. Jika seandainya mesin itu ada, setidaknya hanya kita yang punya, akan seperti apa dunia ini? Bisa jadi apa yang kita angan-angankan dan menurut kita baik, justru membuat dunia dan orang sekitar kita rusak. Seandainya kita kembali ke suatu masa dan mengingat semua hal yang pernah kita tahu dan lalui, lantas kita merubah semuanya dari awal pun tidak membuat masa depan kita akan lebih baik, minimal kita berada di titik ini.
Bayangkan aja, seorang kita memegang penuh semua hal selama puluhan tahun kedepan saat kita kembali ke suatu masa. Kita tahu banyak hal dan mulai membuat itu semua menjadi milik kita, apa yang kita anggap sempurna dan baik justru membuat dunia dan sekitar kita kaca balau. Kita yang seharusnya ada di titik A malah berakhir menggenaskan sebagai seorang super villain di titik B. Selama kita mencoba merubah yang sudah kita lalui dengan mesin waktu(seandainya ada) maka kita juga beratruh atas miliyaran hidup orang lain yang sudah tentu kita tidak mengenal mereka. Bisa dibayangkan kekuatan seluruh dunia bertumpu pada seorang kita dan kita dapat menghindari hal tersebut atau bahkan membuatnya menjadi nyata sesuai versi kita, dan justru itu menjadikan kita sebagai si super villain itu.
Setiap tindakan yang kita rasa pantas kita dapatkan, hal-hal baik yang kita anggap pantas untuk kita ternyata belum tentu pantas untuk orang lain. Kita mencoba merubah semua hal dan justru semua hal akan jauh lebih liar dan berbeda dari apa yang kita pernah alami. Setidaknya jika kita melakukan sesuatu hal, pasti efek dari hal tersebut ke orang lain kita tidak dapat kontrol. apa-apa saja yang kita inginkan pun belum tentu baik untuk semuanya. Cintai aja kenyataan yang ada sudah ada dan terjadi, berusaha merubah sesuatu hal yang tidak dapat diubah hanya akan membawa kita jauh terjatuh ke dalam angan-angan yang ujung-ujungnya akan membuat kita berhenti di satu titik.
Mesin waktu tidak akan membawamu ke mana-mana, ia hanya akan membawamu terus berada di satu titik yang kita anggap inilah yang terbaik untuk diri kita. Angan-angan mesin waktu bentuk dari ketidak mampuan kita dan kegoisan kita terhadap suatu hal yang menurut kita buruk dan tidak seharusnya kita alami. Tapi justru dengan melihat kebelakang tanpa dan menjadikannya pelajar, maka hidup kita akan mulai bergerak perlahan walaupun selangkah setiap harinya.
Konten yang lumayan eksplisit, jadi hati-hati ya!
Kita semua pasti pernah dan sudah merasakan fucked up alias kacau. Kacau yang dimaksud, ya tentang kehidupan yang berantakan karena sebuah masalah yang kadang kita simpan dan gak diselesaikan. fucked up itu ibarat kita menggengam kapas di tangan, ringan sih, tapi kalau dipeggang terus jadinya malah ganggu. Tapi buat sebagian orang, membiarkan hal itu ya sah-sah aja, Sampai semuanya jadi kacau dan baru deh ditaruh atau dilepas deh kapasnya dari genggaman kita.
Tapi, fenomena yang sekarang terjadi kebanyakan orang merasa fucked up karena mereka lupa masalah itu bisa aja dari diri kita sendiri dan anehnya banyka orang yang justru membagikan ke-fucked up-annya ke media sosial. Padahal kan fucked up harusnya disimpan sendiri, atau misal pingin cerita, ya cerita aja ke orang terdekat untuk cari refrensi buat menyelesaikan masalahnya. Anehnya orang-orang sekarang kebanyakan ya, gak malu buat share hal fucked up yang mereka alami.
Langsung aja dengerin lengkapnya deh, jangan lupa kalau ada kritik saran langsung DM ya ke IG @keresahan.mu untuk sementara ini.
Aku melakukan banyak hal-hal bodoh sepanjang waktu. Sampai aku sadar. Bahwa aku sudah mengacaukan banyak hal dalam diriku dan hidupku. Aku pikir, hidup dengan seseorang yang pernah kucintai itu berarti. Tapi hari ini aku sadar. semua orang itu numpang lewat.
Datang dan pergi. dengan durasinya yang bervariasi. Semua punya kenangan. tapi entah kenapa ada seseorang yang benar-benar bikin aku pingin menghentikan waktu dan hidup dengannya dalam keabadian. Entah kapan aku sadar. kalau itu menghancurkan sebagian hidup dan diriku.
Aku hampir gak bisa menerima seseorang yang mencoba membangun hubungan denganku. Aku lelah dengan kenangan yang akan menyiksa nanti. dan aku gak bisa melepas kenanganku dulu. Sebagian diriku hidup di masa lalu, seperti mengutuk diriku sendiri untuk hidup di masa lalu. Keabadian kenangan itu membuatku lupa karena terlalu indah.
Sebagian diriku juga takut akan masa laluku. dan lainnya takut dengan hal-hal yang belum tentu terjadi. Susah buat aku, untuk menerima orang baru. Karena selalu membandingkan dan takut. Membandingkan yang datang dengan yang sudah pergi. dan aku takut kalau dia tidak bisa memberikan hal yang setidaknya sama seperti apa yang sudah aku lalui.
Aku selalu menjadikan itu sebagai standar bahwa aku harus bisa setidaknya menemukan orang yang sama. Ngerti kalau itu gak baik, tapi aku terus melakukannya. entah sadar atau enggak.
Even that someone accepted me, dan aku gak bisa. Karena sebagian diriku sangat terikat dengan masa lalu. Bahkan ketika dia berusaha sangat keras. Aku tetap belum bisa. aku ngerasa gak nyaman karena dia diluar ekspektasiku yang ada di masa lalu. Entah. bagiku masa lalu itu sangat menyenangkan. Lelah. untuk membangun hubungan baru. karena aku rasa yang lalu masih sangat berarti.
Sampai suatu hari, aku sadar bahwa diriku sudah tertinggal jauh dengan orang-orang yang ada disekitarku. Harapan yang begitu indah memperparah hancurnya hati dan aku belum mendapatkan seseorang untuk hidup bersama.
Susah banget. karena aku udah terpaku sama harapan dan masa laluku.
Melepasnya seperti tidak mudah, tapi kalau gak aku lepas. aku gak bisa ke mana-mana. Susah emang. karena aku belum benar-benar merasa bahwa aku siap. Lelah, takut, semua hal jadi satu. Berat untuk melangkah ke depan secara jiwa.
Fisikku emang berada di depan/tapi ingatan/kenangan dan jiwaku masih ada dibelakang sana.
Ada seorang yang bilang. Aku harusnya tidak pernah membandingkan yang lalu dan sekarang atau yang akan datang karena semua hal itu unik. Hidup di masa lalu tidak akan membuatku senang atau bahagia. Dia pernah berkata, “ Bahwa hidup itu soal melangkah kedepan/bukan hanya duduk terdiam menikmati masa lalu,” Tapi aku masih mencoba untuk melangkah dan berat.
Sebagian masa laluku masih sangat berarti untukku. yang sudah jelas aku hidup untuk hari ini dan kedepannya. Dia juga berkata, “Semua yang sudah berlalu ya sudah. dan sekarang waktunya buat kamu untuk maju. Kamu terlalu nyaman dengan sebagian masa lalumu. sampai melupakan bahwa hidup itu harus terus maju,”.
Salam dari sekitaranmu.
Aku pingin cerita soal mood hari ini.
Somehow, Mood itu kaya energi diri kita, lebih tepatnya jiwa kita.
Kalau stamina itu indikasi tubuh kita seperti apa, dan mood itu indikasi dari Jiwa kita kaya gimana, mungkin seperti itu.
Gak tau kenapa, bangun tidur kaya badmood, beberapa hari ini.
Males banget buat berinteraksi dengan orang lain, karena kondisi ini, jadinya capek banget untuk keep in touch.
Bahkan beberapa momen aku cenderung mengabaikan orang-orang yang mencoba untuk berkomunikasi.
Bukannya aku gak mau, tapi aku butuh banget personal space.
Mungkin sampai mood ini naik lagi, dan gak tau kapan.
Bisa jadi hari ini, atau besok.
Balikin mood itu gak semudah buka pintu keluar kamar.
Kebanyakan pas aku harus ada di luar rumah, ya mau gak mau pake topeng good mood.
Walaupun dalamnya bad mood banget.
Bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi aku gak pingin orang lain kena imbas dari mood yang lagi jelek.
Gak tau kenapa, Moodku bisa banget memepengaruhi orang-orang disekitarku.
Rasanya, itu kaya ada di sebuah tempat yang penuh tapi semuanya mematung, diam.
Waktu terasa berjalan lambat banget, dan semua hal menyebalkan.
Emosiku jadi lebih gak stabil, tapi aku milih untuk lebih banyak diam.
Aku yang biasanya seneng banget ngobrol, cerita dan melucu, tiba-tiba diam dan suram.
Aku kadang ngomong, kalau lagi bad mood, ke orang-orang disekitarku, biar mereka ngasih personal space dan gak berinteraksi seintes biasanya, sampai moodku balik.
Kadang kalau udah bad mood banget, aku cenderung masang wajah yang datar dan males.
Terima kasih buat teman-temanku, karena kalian sudah paham gimana kondisiku.
Bad mood itu emang harus, dikomunikasikan ke orang-orang sekitar sih.
Aku rasa itu penting, setidaknya mereka bakal ngasih space ke aku.
Aku lebih sering ngomong seperlunya, dan berdiam diri buat nenangin.
Aku bakal cerita nanti kalau udah agak baikan, dan aku senangnya selalu ada saran atau solusi dari mereka.
Aku gak pernah memaksakan diri untuk berinteraksi ketika bad mood.
Aku lebih ke arah takut, karena pas aku bad mood, banyak banget hal bodoh yang spontan aku lakukan, reflek.
Reflek dari kondisi yang gak stabil, biasanya itu buruk banget.
Aku pernah, sewaktu kuliah dulu, hampir tiap hari bad mood.
Dan tentunya, banyak banget hal bodoh yang aku lakukan karena reflek dari ketidak stabilanku.
Semua orang aku marahi, aku maki, aku jadi lebih egois dan gak mau dengar apa kata orang lain.
Karena aku dulu selalu memaksakan diri untuk terus berinteraksi sama orang-orang di sekitar.
Pas aku bad mood, biasanya aku gampang banget marah, dalam artian marah yang beneran marah.
Aku bener-bener gak sadar, reflekku bisa seburuk itu padahal itu hal kecil.
Aku yang sekarang cenderung sedikit menjauh atau diam pas lagi bad mood.
Personal space, penting banget, kadang aku bisa habisin beberapa hari dengan ngomong seperlunya, dan menguras bad mood ini sampai habis di dalam kamar.
Ngelakuin banyak hal yang bikin mood balik, baru setelah itu biasanya aku cerita ke orang-orang terdekat, kenapa.
Cerita setelah bad mood itu bener-bener bisa boost moodku lebih baik lagi.
Terlebih kalau ada solusi dari orang-orang terdekat.
Aku sendiri pernah bad mood tanpa sebab, gak tau kenapa kaya mood tiba-tiba turun aja.
Kosong.
Menurutku semakin ke sini, aku harus banyak belajar sih.
Karena ngebiarin bad mood gak akan ngebuat hidupku makin baik.
Ceritakan aja apa yang kalian alami ke orang terdekat, mungkin itu salah satu cara untuk balikin mood kalian.
Kalau pingin nangis, nangis aja.
Selamat datang di season 2 dari podcast sekitaranmu, untuk satu tahun kedepan aku bakal banyak cerita tentang hari ini dan tentang apa kata esok hari. Season 2 ini lebih banyak curhatnya karena aku pingin cerita banyak tentang apa yang dialami orang-orang disekitarku, keluarga, teman, dan orang-orang terdekatku.
Selamat mendengarkan Season 2 dari Sekitaranmu, dan ini adalah pembuka dariku untuk seri Apa Kata Esok Hari.
Jangan lupa untuk bagikan ke teman sekitar, semoga esok hari kalian menyenangkan.
Mari bahas soal nexus event diri kita masing-masing yang di mana itu mengajarkan kita banyak hal yang gak kita kria.
Aku lagi males nulis panjang karena banyak hal yang menurutku gak buat nyaman buat nulis. Maaf kalau kualitas rekamannya turun.
Back sound, Intro, and Outro
https://www.fesliyanstudios.com/royalty-free-music/download/time-alone/1434
Kadang memang menjengkelkan kalau urusan sama orang-orang yang merasa dirinya spesial. entah kenapa, menurutku kadang mereka melakukan seseorang "sesuka hati", tapi gak semua kaya gitu. Cuma oknumnya banyak dan kebanyakan semakin merasa diatas awan kalau ada yang menudukungnya atau minimal menyembahnya karena sesuatu spesial yang dia miliki, misalnya kebenaran, good looking, jabatan dan banyak lainnya.
Padahal kebenaran juga bukan asas untuk kita melakukan "sesuatu ke orang lain" terlepas kita yang benar atau mereka yang kita anggap salah. Tapi yang paling menjengkelkan ya soal good looking yang mendapat pembelaan, apa iya good looking itu sesuatu yang spesial? Menurutku kita ini semua sama, nothing special, yang bikin kita unik itu ya sesuatu yang kita miliki beda dari orang lain. Tapi kadang pembeda itu yang membuat seorang merasa ia spesial dan meresa "bebas" untuk melakukan sesuatu ke orang lain atau sesuatu yang lainnya.
Manusia itu unik karena beda, secara fisik ya manusia gak ada bedanya, cuma ada laki-laki atau perempuan. selebihnya cuma keunikan yang jadi pembeda kita sama orang lainnya dan gak lebih.
Tapi jengkel juga kadang-kadang sama oknum-oknum yang waktu ngantri itu main potong antrian, dan justru mereka lebih galak karena ngerasa punya kepeintingna yang lebih penting, ngerasa dia seorang yang harus didahulukan, ngerasa kalau dia perempuan atau laki-laki yang punya tanggungan setelah antri. Padahal kita semua punya kepentingan lain yang dianggap penting sama diri sendiri, mau kamu setelah antri itu berak, anakmu sudah nangis, keluargamu sudah nunggu, atau kalian mau berangkat perang, tapi gak mungkin sih orang mau perang ikut antri. Antri ya antri, terlepas setelah ini kalian mau ngapain.
Jangan jadikan kita ini spesial, tapi kita ini unik, beda dan jangan menyalah gunakan "kesepesialan" yang kita anggap ada di diri kita sebagai senjata untuk melakuka sesuatu ke orang lain. Lihat semua hal dari banyak aspek, lagian kebenaran dan "kespesialan" kita itu punya nilai yang beda di mata orang lain.
Back sound, Intro, and Outro
https://www.fesliyanstudios.com/royalty-free-music/download/time-alone/1434
Saya ingin protes sama orang-orang yang suka memaksakan ego dan ekspektasinya ke orang lain yang dibalut dengan kata peduli. Ya, kita semua tahu peduli itu datang bareng sama solusi. bukan datang dengan beban yang gak harus kita punya saat itu juga. Hidup setiap orang itu beda, termasuk beda jalannya juga. jangan seakan kenal lalu memaksakan ekspektasi yang dibalut rasa kepedulian. Percayalah itu bukan peduli, tapi cuma ikut ngurusi hidup orang lain.
"Kamu harusnya udah bisa nikah,", "Carinya yang agak muda aja," yang ini dan yang itu. Why? Apa ketika orang lain nikah, kita juga harus nikah dan apa ketika orang lain punya ini dan itu, kita juga harus punya ini dan itu yang sama. Enggak dong, Setiap orang punya pilihan dan jalannya masing-masing, jangan karena berkedok peduli lalu memaksakan ekspektasinya ke orang lain, itu bikin jengah.
Lucunya lagi setiap orang harus sesuai dengan ekspektasinya. Kalau gak kelihatan kerja, ya harus kelihatan miskin dan percayalah orang-orang berpikiran seperti itu banyak disekitaran kita. Tahun 2021 dan ini pandemi, kerja gak harus ngantor. Bisa dari rumah, alias remote dan ga harus di rumah, bisa di cafe, bisa di wc mungkin. Iri yang sampai nuduh pesugihan itu bukan iri, tapi dengki karena udah ada tindakan.
Back sound, Intro, and Outro
https://www.fesliyanstudios.com/royalty-free-music/download/time-alone/1434
Banyak teman banyak koneksi mungkin, tapi apa itu signifikan buat hidup kita?
Teman ya berhenti di teman, menurutku sahabat atau teman jadi keluarga cuma ungkapan aja, bukan tindakan.
Teman untuk teman vs teman untuk kepentingan, dua tipe ini sama-sama penting buat kehidupan.
Teman untuk teman, jadi tempat cerita, bercanda lepas gak ada batasan dan macem-macem. Teman untuk kepentingan, ya sebetas apa kepentingan itu, sejauh itu kita berinteraksi.
Kategorinya tetap teman, gak lebih.
Teman gak bisa jadi keluarga, kecuali temanmu nikah sama saudaramu.
Berteman sama siapa aja, it's ok dan kenapa enggak. Tapi aku selalu punya kotak-kotak sendiri buat naruh orang-orang yang bakal jadi teman dalam circle kepentingan. Kadang kita kerja gak untuk cari teman, tapi dapet teman yang awalnya satu kepentingan malah jadi teman untuk teman diluar kepentingna kerjaan.
Teman, semakin menua circle pertemanan yang murni untuk teman semakin sedikit, malah circle untuk kepentingan semakin banyak.
Berteman bisa di mana aja, kapan aja, yang sulit ya menjaga hubungannya.
Back sound, Intro and Outro
https://www.fesliyanstudios.com/royalty-free-music/download/time-alone/1434
From the publisher's feed