Banyak dari masalah ilang gitu aja sewaktu kecil, tiba-tiba gak ada, dan ceria lagi. Sekarang kayanya masalah itu makanan sehari-hari, atau mungkin nama tengah kita. Eksptekasi menua itu menyenangkan sudah terbantahkan sejak masalah muncul sewaktu remaja akhir, sekitar dua puluhan.
Terlepas dari itu semua, Semakin kita menua, masalah itu terus datang. Namanya juga hidup, penuh dengan tempaan, terpaan masalah. Masalah yang hadir semakin lama semakin menyesuaikan kesanggupan kita, entah siap atau belum, sadar atau enggak. Bertindak tanpa mikir panjang, muncul masalah ditambah ekspektasi tinggi yang meleset dan itu jadi kombinasi yang pas. Buat kita merasa masalah adalah hal yang menyebalkan.
Kalau dulu sewaktu kecil kita buat masalah, paling orang sekitar kita cuma, ya udah ya namanya juga anak kecil. Dimaklumi, sekarang ya jangan pernah berharap pemakluman. Masalah datang tinggal cari jalan keluar, datang lagi, cari solusi, gitu aja terus. Anehnya lebih banyak ngeluh, karena ada aja masalah tiap hari.
Mungkin yang buat kita jadi semakin dewasa, ya masalah itu sendiri. Kalau gak ditempa, bakal gini-gini aja. Anehnya lagi, mesti ada aja keinginan buat balik ke masa sewaktu kecil. Padahal kalau dipikir-pikir menua itu asik dengan berbagai masalahnya. Mungkin yang bikin melangkah maju, salah satunya, masalah yang datang. Kita mesti cari cara biar masalah itu pergi, dan jadiin itu pengalaman. Paternnya ya gitu aja dari kita kecil, Cuma beda tingkatan aja.
Pernah juga aku berandai-andai, mungkin asik, ketika aku kembali ke masa kecil dan ingat semua hal. Cuma bisa menghayal soal itu, karena gak mungkin. Dan seandainya mungkin, kita gak akan pernah jadi orang yang sama, atau bahkan bakal jadi orang yang jauh dari apa yang dipengen.
Ada beberapa hal yang kadang bikin jadi dewasa itu gak nyaman. Padahal bisa kita pinggirkan sejenak hal kaya gitu, misalnya soal waktu kapan nikah.
Well, bukan suatu hal yang susah untuk dijawab, kalau udah punya rencana. Nikah itu bukan perkara mudah, semudah bikin kue, yang kalau gagal bisa ngulang lagi dari awal. No, Big no kalau perlu, gak semudah itu. Tahun ini umur dua sembilan, bagi sebagian orang, itu usia yang harusnya sudah menikah dan lazimnya gitu dan gak semua harus seperti itu.
Pertanyaanya kenapa aku harus nikah di umur tertentu yang menurut orang lain siap. Mungkin dia nikanya umur segitu, dua tiga, dua empat , dua lima. Kebetulan juga dia sudah siap, secara mental, finansial dan pasangannya ada. Aku punya waktu tersendiri kapan, aku harus nikah atau mulai membangun hubungan dengan seorang perempuan dan Kita semua punya waktu itu kok. Waktu di mana semua hal sudah siap, mental, finansial dan tentunya pasangan.
Menurut versiku, ada dua hal ketika aku siap buat ke arah nikah. Umur gak masuk prioritas, karena umur Cuma sekedar angka penanda. Pertama, aku punya standar sendiri soal kesiapan, dalam hal ini finansial, dan setiap dari kita punya standar soal itu. Menurutku pribadi, siap secara finansial itu, ketika aku punya satu pekerjaan tetap yang berpenghasilan, dan punya sampingan, tentunya harus menghasilkan juga. Kurasa duit juga jadi salah satu penopang sebelum atau sesudah resepsi, realistis aja sih.
Kedua, kesiapan mental setiap orang beda, ada yang merasa sudah siap ketika umur dua empat, dua lima bahkan baru siap ketika hampir tiga puluh, aku termasuk yang belum siap secara mental. Ini juga gak kalah penting. Kadang merasa siap secara kemauan, tapi mentalnya gak siap, jadinya sama aja bohong. Setiap orang punya fase kematanganan mental untuk serius dala membangun hubungan, termasuk perbdaan waktu, kapan kita siap.
Back sound, Intro and Outro
https://www.fesliyanstudios.com/royalty-free-music/download/time-alone/1434