Bagi Dukuh Paruk, ronggeng bukan sekadar tradisi. Lebih dari itu, ia hadir bagai perlambang kehidupan. Namun, desa kecil yang akrab dengan kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan itu telah lama kehilangan sosok ronggengnya.
Pasca 12 tahun, Dukuh Paruk sunyi kehilangan jati dirinya tanpa tarian ronggeng dan alunan calung. Kini sosok ronggeng baru lahir, Srintil namanya. Gadis beliau dengan keelokan paras dan kelincahan tarinya itu, dipercaya sebagai titisan Roh Ki Secamenggala sebagai leluhur dan pencetus ronggeng itu sendiri.
Namun karena kebodohannya, Dukuh Paruk dengan keagungan Ronggengnya menjadi korban kemelut politik 1965. Ronggeng Dukuh Paruk dituding sebagai pemberontak negara, padahal hanya diperalat oleh elit politik.
Lebih lanjut, Ahmad Tohari sebagai penulis juga menyelipkan kisah asmara Srintil dengan seorang tentara bernama Rasus. Ingin tahu lebih lanjut ceritanya, .............. dapat mendengarkan bincang novel tersebut pada podcasts berikut.