
Sign up to save your podcasts
Or


Sebagai makhluk ciptaan-Nya bukan tanpa tujuan Allah menciptakan kita. Tidak lain dan tidak bukan tujuan utama kita terlahir sebagai manusia adalah untuk menjadi khalifah di muka Bumi. Maksud khalifah di sini adalah untuk kita memberikan keselamatan dan kedamaian atas rizki di Bumi ini.
Sebagai muslim kita mengenal habluminannas dan habluminallah. Dua konsep ini menjadi tolak ukur hubungan harmoni kita kepada sesama manusia dan kepada Allah SWT. Namun bagaimana dengan hubungan manusia dengan alam diatur dalam Islam? Termasuk habluminannas atau habluminallah?
Kajian Ummah for Earth kali ini bersama @kyai_fikrihaikalmz akan membahasnya langsung dari Masjid "Tenggelam" di utara Jakarta. Sebuah masjid yang dipakai terakhir kali sekitar 2009 lalu, yang terkena dampak langsung perubahan iklim.
Sudah bukan rahasia lagi kalau nanti di ajang kontestasi politik 2024 suara pemilih muda mendominasi sekitar 60% suara. Pemilih muda di sini ialah generasi milenial hingga generasi zoomer, suatu generasi yang cenderung lelah dengan politik namun jauh lebih peduli soal isu sosial dan lingkungan daripada generasi yang lebih tua. Tentu ini momentum besar bagi kita semua untuk mengubah kebijakan politik agar lebih mawas tentang perubahan iklim.
Seorang penyair berdarah Jerman, Bertolt Brech, pernah menyinggung bahwa: Buta yang paling kejam adalah buta politik, karena segala sesuatu yang vital toh nyatanya ditentukan oleh mekanisme bernama politik. Banyak orang khususnya anak-anak muda sudah kadung pesimis memandang miring politik dan politisi. Padahal hajat hidup kita, kelestarian lingkungan tempat kita hidup, ditentukan juga oleh sistem politik. Melissa Kowara, dari Partai Hijau Indonesia, dan Nala Amira, sebagai pemilih muda, coba menyingkap pandangan mereka soal politik dan green transition, yang dianggap langkah tepat menyelamatkan lingkungan kita
Setelah di episode sebelumnya kita sedikit membahas mobil listrik dari segi sejarah dan teknologinya, di episode ini kita akan mebahas hal yang jauh lebih fundamental. Apakah mobil listrik ini adalah jawaban atas solusi lingkungan yang kita butuhkan selama ini? Atau lingkungan hanya bumbu pemanis dari sistem yang akan segera lahir ini? Yuk kita temukan jawaban pastinya di obrolan ini!
Satu dekade terakhir dunia dikejutkan dengan Elon Musk dengan Tesla-nya yang seolah membawa pergantian era di dunia otomotif. Ramah lingkungan, minim emisi, lebih senyap, irit, dan seabreg teknologi terkini menjadi nilai jual utama. Mobil listrik seolah menjadi jawaban atas kerusakan lingkungan yang telah terjadi sejak penemuan moda transportasi berbahan bakar fosil ditemukan, namun benarkah demikian?
Sosok Ibu punya peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak dan pemuda penerus bangsa, termasuk dalam menumbuhkan rasa cinta lingkungan kepada mereka. Dari mulai menumbuhkan kasih sayang kepada binatang, menyadarkan bahaya penggunaan plastik sekali pakai sedari kecil, masing-masing Ibu memiliki cara uniknya sendiri dalam mendidik anak agar cinta lingkungan, terutama di masa pandemi seperti saat ini.
Dalam rangka edisi spesial Hari Ibu, Greenpeace Indonesia mempersembahkan podcast #NgobrolLingkungan: Mother Love Saves Mother Earth bersama Bunda Hindun, Bunda Wulan dan Bunda @andienaisyah di podcast #NgobrolLingkungan
Sembari mendengarkan podcast, jangan lupa untuk menunjukkan rasa kasih sayangmu untuk sosok Ibu yang luar biasa.
Selamat Hari Ibu untuk para ibu istimewa di Indonesia!
Selain berbagai dampak lingkungan yang ditimbulkan, Biofuel ternyata juga tidak baik-baik saja dari perspektif ekonomi. Bahkan, Biofuel ini sudah rusak sejak dari rancangan program. Digadang-gadang sebagai penyelamat ekonomi nasional, nyatanya hanya menguntungkan segelintir pihak.
Seburuk apa program biofuel di Indonesia dan siapa saja yang meraup cuan dari program ini?
Temukan jawabannya bersama Faisal Basri, ekonom senior Indonesia.
Salah satu cara pemerintah menghadirkan energi terbarukan di Indonesia adalah dengan Biofuel (Bahan bakar nabati): memanfaatkan berbagai jenis tanaman, khususnya sawit, sebagai pengganti minyak bumi. Namun, cara yang terlihat solutif itu ternyata menyimpan bahaya yang besar, khususnya dampak bagi lingkungan. Seperti apa bahayanya? Dan apa yang bisa atau sepatutnya kita lakukan untuk mengurangi dampaknya?
Menghilangnya sagu dari meja makan, seiring serambat dengan laju deforestasi hutan adat. Khususnya, di tanah papua. Sagu yang telah lama menjadi bagian hidup masyarakat papua, tersingkir bersamaan berkurangnya luas hutan adat. Seperti apa hubungan antara sagu dan hutan adat? Dan seperti apa pola ancaman terhadap kelangsungan keduanya?
Simak di #NgobrolLingkungan episode 13: Sagu diembat, hutan Papua dibabat.
bersama Tinna Paiki (Peneliti, dan dosen Universitas Negeri Papua) & Nicodemus Wamafma (Juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia), dengan Host M Aan Mansyur.
Komodo dalam bahasa masyarakat lokal disebut ‘Sabae’ yang berarti sebelah. Selama ribuan tahun masyarakat adat di Taman Nasional Komodo menganggap bahwa Komodo berasal dari satu Rahim yang sama. Jika tidak dianggap saudara, pasti Komodo sudah sejak dulu dibantai mengingat ia termasuk predator berbahaya.
From the publisher's feed