Karena memang sudah takdirnya bahwa cinta itu abstrak. Bermain di ruang perasaan, ia datang dan pergi, menebal dan menipis, mendekap dan menjarakan. Maka pada proses menakar cinta kepada Rasulullah, yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mewujudkannya dalam amal nyata. Dari sana setidaknya kita bisa mendapatkan indikasinya, tanda-tandanya, seberapa dalam rindu ini bersemayam.