
Sign up to save your podcasts
Or


Banyak orang yang tidak mengerti mengapa produk dalam negeri - terlebih produk yang bermuatan teknologi - lebih mahal dari produk asing. Itulah sebabnya banyak orang yang lebih senang IMPOR. Akhirnya kita hanya menjadi PASAR SAJA. Salah satu alasan mengapa produk teknologi mahal adalah adanya RISET yang membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama.
Setelah mengetahui ini, apa sikap Anda? Saya yakin kebanyakan tidak peduli. Yang penting murah (sekarang). Terus kalau gak ada lapangan pekerjaan marah-marah. Terus marah-marah ke negara asing.
Kapokmu kapan?
Kata orang, "you are what you read". Karena orang Indonesia jarang membaca, mungkin kita ada "you are what you see/listen to". Kita terpengaruh atau terinspirasi oleh apa yang kita baca, lihat, atau dengar. Oleh sebab itu, dengarkan yang baik-baik. Rugi kalau kita mendengarkan yang buruk. Sayangnya content Indonesia banyak yang isinya marah-marah atau menghasut. Ha ha ha.
Di sekolahan kita tidak diajari untuk menangani sistem yang memiliki skala besar. Biasanya yang diajarkan hanya toy-problem, masalah yang ukurannya kecil. Sementara di dunia nyata, ukuran dari masalah itu besar. Tidak banyak yang memahami teori kompleksitas. Big Oh.
Pindah sedikit ke topik lain, yaitu pandemi COVID-19. Menangani kasus ini sangat susah karena penduduk Indonesia itu banyak, 250 juta orang. Ya tentu saja beda skala masalahnya dengan penduduk Singapura yang hanya 5 juta orang.
Kembali ke topik skala. Nampaknya aspek skala ini harus diajarkan juga di kampus-kampus ya?
Baru-baru ini kita mendengar berita tentang kebocoran data (lagi) dari sebuah perusahaan besar. Sebetulnya apa masalahnya sehingga terjadi kebocoran data ini? Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan kebocoran data itu disebabkan oleh kelalaian / keteledoran. Misalnya mereka habis memperbaiki sistem kemudian lupa menutup jalan masuk mereka. Atau yang lebih sering terjadi adalah lambat atau lalai untuk update software / sistem mereka. Sering ini dilakukan dengan menerapkan patch atau service pack. Yang juga sering adalah lambat anti virus. Memang update sistem untuk sistem yang sedang berjalan (live production) memang tidak mudah.
Kelalaian tetap harus mendapatkan hukuman atau penalty sehingga penyelenggara jasa tidak lalai lagi. Bentuk hukumannya seperti apa? Itu yang perlu kita diskusikan. Saat ini yang menjadi repot adalah pengguna (user). Kita terpaksa harus mengganti password. Lah kenapa kita sebagai pengguna yang harus repot? Ada alasannya. Simak podcast ini.
Banyak orang yang ingin membuat perusahaan, membuat startup, yang akhirnya terjebak menjadi pegawai. Memang pegawai perusahaan sendiri sih, tetapi tetap pegawai. Harusnya perusahaan itu tidak bergantung kepada kita. Jadi ada atau tidak ada kita, perusahaan tetap bisa jalan. A well-oiled machine. Anda bisa jalan-jalan (traveling), main musik, berolahraga ke luar negeri, bahkan tamasya ke Mars dan perusahaan tetap bisa jalan.
Salah satu kunci untuk melakukan hal tersebut adalah ... delegasi. Ternyata ini adalah hal yang tidak mudah.
Podcast ini berisi prinsip delegasi yang saya anut. Semoga dapat memberikan pencerahan dan dapat membuat perusahaan Anda menjadi a well-oiled machine.
Pendanaan start-up dapat dilakukan sendiri (bootstraping) atau dengan menggunakan dana dari pihak lain. Salah satu yang lazim dilakukan adalah mendapatkan dana dari investor; dimulai dari friends and family (angel investor) sampai ke investor yang memang berniat untuk keluar (exit) di kemudian hari. Sayangnya di Indonesia kebanyakan investor masih memiliki sifat seperti bank, yaitu berharap start-up mengembalikan uangnya dalam waktu singkat. Padahal start-up memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.
Ketika terjadi kegagalan, maka mulai terjadi keributan. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah penipuan, tetapi sesungguhnya ini hanya wanprestasi. Kegagalan. Seharusnya investor memahami hal ini. Nah, yang perlu dilakukan oleh start-up adalah menjelaskan hal ini kepada banyak pihak, khususnya kepada para investor. Ini adalah kerjaan public relation (PR). Kegagalan PR ini dapat berakibat kekisruhan.
Saat ini istilah "literasi digital" (digital literacy) sedang populer. Dipakai dimana-mana. Namun, saya merasa banyak orang yang salah mengerti. Atau saya yang salah mengerti? Kebetulan saya sudah bertahun-tahun mengajar kuliah literasi digital ini, yang materinya agak "berat".
Nah itu dia, banyak materi literasi digital sekarang yang terlalu ringan. Kebanyakan menurut saya lebih ke arah "literasi media (sosial)", bukan literasi digital.
Apakah literasi digital perlu? Kalau yang seperti saya pikirkan, perlu. Ini sama seperti kemampuan baca dan tulis. Ah, tapi jangan-jangan bagi orang Indonesia ini sesuatu yang tidak menyenangkan sehingga ranking membaca orang Indonesia sangat jauh di bawah. Bakalan samakah ini?
Tempat kerja saya berada di bekas garasi yang letaknya hanya 10 meter dari pinggir jalan. Repotnya jalan di depan rumah juga tanjakan sehingga kendaraan yang lewat pasti nge-gas kalau lagi nanjak. Mikropon yang saya miliki pun bervariasi. Ada yang mendhem sehingga tidak terlalu terdengar noise itu. Tapi masih terdengar sih. Ada yang super sensitif. Yang ini di tengah-tengah karena menggunakan handphone. Pusing membersihkan suaranya. Jadi kalau podcasting ini berisik, ya mohon dimaafkan.
Salah satu masalah yang sering dihadapi perusahaan rintisan (startup) dan juga perusahaan yang sudah mapan adalah menentukan produk utama (core product). Seringkali ada banyak pilihan tetapi ada keterbatasan sumber daya; SDM, finansial, teknologi, mesin, dan waktu. Bagaimana kita memilihnya? Simak ulasan dari pak Buntoro.
Baru-baru ini terjadi kebocoran data (lagi). Bagaimana kita menyikapi hal ini? Mengapa ini bisa terjadi? Lantas apa yang dapat dilakukan untuk mencegah (mengurangi) kemungkinan terjadinya? Kalau sudah terjadi harus bagaimana?
From the publisher's feed