
Sign up to save your podcasts
Or


Mencari talenta (khususnya yang terkait dengan teknologi informasi) itu susah sekali. Lantas kalau sudah dapat diapakan? Para talenta ini biasanya berkumpul di satu tempat yang sama. Oleh sebab itu mari kita kumpulkan para talenta itu di kota Bandung.
Ini maksudnya mau membuat "ngopi bersama pak budi sambil membicarakan teknologi". Maunya sih di pagi hari. Jadi harus diproduksi dengan cara yang sangat cepat. Sekalian saya sedang bereksperimen - memaksa diri - untuk membuat content setiap hari. Hipotesa saya adalah kuantitas lebih utama dari kualitas.
Pandemi COVID-19 ini membuka mata banyak orang bahwa pendidikan (cara mendidik di sekolahan) harus berubah. Sayangnya orang masih melihat ini dengan kacamata lama. Contohnya membuat mobil dengan memikirkan kuda. Atau, membuat wordprocessor dengan memikirkan mesin ketik. Atau membuat materi pendidikan dengan cara memotret papan tulis. Banyak yang masih membatasi dari dengan konsep ruang dan waktu. Padahal dunia siber menjebol ruang dan waktu. Edisi ini saya bercerita tentang opini saya terkait dengan pendidikan masa depan. Kalau soal masa depan pendidikan sih menurut saya cerah.
Topik singkat kali ini adalah tentang kegiatan mengajar saya semester ini: 5 mata kuliah. Whoah. Semua S2. Sebetulnya ada banyak yang ingin saya ceritakan, tetapi itu membutuhkan persiapan. Misal untuk cerita soal membuang-buang waktu saja, saya perlu membuat demo. ha ha ha. Hal lain adalah adanya buku-buku baru yang harus saya baca gara-gara mencari informasi tentang kompleksitas: P dan NP. Eh, malah ketemu video yang membahas batasan kemampuan manusia (maksudnya seluruh manusia) dalam belajar. Nah lho.
Apa yang saya kerjakan di hari Minggu? Hari ini saya mendapatkan kiriman kopi dari Lombok. Terus ada kaos (jersey) futsal/bola kami dan cerita di balik nomor 8. Kemudian saya akan banyak bekerja hari ini.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana mengembangkan sesuatu (melakukan inovasi) jika sumber daya tidak tersedia. Saya pun tadinya berpikiran demikian karena merasa sebagai pemain kecil. Ternyata perusahaan besarpun punya masalah yang sama; tidak memiliki resources.
Lantas bagaimana? Ya, saya sih jreng saja. Do it, kalau kata Nike. Langsung saya kerjakan tanpa paham teorinya. Ternyata ada teori yang mendukung. Ini saya temukan ketika membaca buku "the Prosperity Paradox", bahwa ...
"Innovation Preceeds Resources"
Ternyata memang inovasi tidak boleh menunggu tersedianya sumber daya. Justru dia menjadi bagian dari yang akhirnya menyediakan sumber daya. (Buku ini harus saya bahas setelah saya selesai membacanya).
ini topik campur aduk (lagi). Semalam saya membedah buku "The Master Algorithm" karangan Pedro Domingos. Kemudian keluh kesah (ramblings) saya terkait dengan situasi saat ini, yang mana orang lebih melihat ke dirinya sendiri.
Ini adalah perjalanan hidup saya terkait dengan Kemerdekaan Indonesia. Sebagai seseorang yang sempat lama di luar nageri, sangat merasakan kerinduan terhadap Indonesia.
ISNET merupakan salah satu komunitas online Muslim Indonesia yang pertama (mungkin?). Ini cerita dari kacamata saya. Dimulai dari mailing list yang merupakan pecahan (spin off) dari milis umum. Kemudian akhirnya dibuat sistem mailing list sendiri (dengan shell script dan berbagai tools lainnya). Selanjutnya kami memiliki server sendiri dan akhirnya membuat virtual world yang disebut Negeri Isnet (NI). Banyak cerita yang dapat dieksplorasi dari sini. Mungkin dalam podcast berikutnya.
Topik kali ini agak campur aduk. Dimulai dari pertanyaan saya, atau lebih tepatnya kegalauan, apakah memang menjadi YouTuber itu disarankan? Bidang advertising kan terbatas juga uangnya.
From the publisher's feed