
Sign up to save your podcasts
Or


Sahabat Mutiara,
Memasuki era Pak Prabowo, topik tentang hilirisasi ini itu banyak diungkit, tapi pertanian tidak termasuk didalamnya. Ketertinggalan ini dapat membuat petani dan rakyat merana.
Era dimana di satu sisi, negara terus mendorong untuk dapat melokalisasi produksi sumber daya alam menjadi bahan jadi, dan di sisi lain, negara bersikap acuh tak acuh. Contoh terbaru adalah berita bahwa negara ingin mengimpor dokter dari negara lain ke Indonesia. Akankah petani juga akan diimpor bila negara sudah lelah mengimpor bahan pangan? Terus bagaimana cara adaptasi para petani?
Sahabat Mutiara, teknologi selalu kita dorong sebagai bagian dari jalan kedepan petani dan menjadikannya bagian dari investasi yang harus dipertimbangkan untuk meringankan kinerja petani dan meningkatkan produksi. Jadi apa saja gagasannya untuk mengejar ketertinggalan ini?
Sahabat Mutiara,
El Nino dan La Nina, dua jenis kondisi cuaca ekstrem yang berseberangan antara satu dengan yang lainnya. Di satu sisi El Nino merujuk pada kondisi panas ekstrem, sedangkan La Nina merujuk pada kondisi hujan badai ekstrem.
Pada industri pertanian, pola iklim tersebut bisa berimbas pada kegagalan hasil panen. Dengan prediksi BMKG terbaru di tahun 2024 ini memperkirakan kemungkinan besar La Nina akan mengambil alih dari El Nino yang pada sebagian besar tahun lalu telah meluluhlantakkan jumlah stok pangan di Indonesia.
Solusinya, sistem drainase yang komprehensif pada lahan pertanian dan peninggian lahan. Sistem tersebut tidak dapat dibuat seadanya dan tanggung-tanggung. Bagaimana dengan solusi El Nino?
Sahabat Mutiara,
Beda khatulistiwa pastinya ada perbedaan iklim, ya.
Bagi petani durian yang berada di sisi selatan khatulistiwa tentu akan mengalami sedikit masalah karena masa pembungaannya di musim kemarau tapi masa pembesaran buah menuju panen itu di musim hujan.
Hal ini penting karena, pembesaran buah memerlukan sinar matahari & dengan sering turunnnya hujan juga mempengaruhi konsentrasi larutan pupuk. Apa pencegahannya bila sudah seperti itu?
Sahabat Mutiara,
Dengar-dengar katanya pemerintah sedang berencana untuk mengolah lahan baru sebagai bentuk bantuan dalam menjaga stok pangan.
Tentunya dengan pengolahan lahan baru ini artinya lahan yang belum tersentuh harus digarap.
Apakah pembabatan dan penggarapan lahan baru adalah solusi yang tepat dalam memenuhi permintaan pangan yang tinggi?
Sahabat Mutiara,
“No Water, No Panen”, itu sentimen Pak Ermain kalau bicara pertanian. Ya bisa dibilang itu sentimen yang faktual untuk segala jenis kehidupan yang memerlukan air.
Di pertanian, teknologi dikembangkan dengan penggunaan air dibenak pabrik produksi teknologi tersebut, misalnya mesin kultivator yang tujuannya tidak hanya menyiang tanah, tapi juga mencegah air tidak tergenang karena aerasi tanah yang baik.
Atau mesin drone yang sedang naik daun saat ini, tidak hanya untuk memetakan lahan, tapi juga mesin semprot air.
Apa saja koneksi air dengan teknologi?
Sahabat Mutiara,
Akhir-akhir ini yang jadi perbincangan adalah soal hilirisasi. Itu yang dicanangkan ketiga calon presiden beberapa waktu lalu. Namun hilirisasi yang dimaksud adalah hilirisasi nikel.
Hilirisasi itu sendiri artinya, suatu pengoptimalan pengolahan terhadap komoditas tertentu pada skala industri besar agar menjadi barang siap pakai dan memiliki nilai jual tinggi.
Dengan sektor pertanian yang besar, mengapa para pemimpin lebih mementingkan hilirasasi tambang batu?
Sahabat Mutiara,
Sahabat Mutiara,
Terbatasnya stok pangan menjadi masalah saat ini. Terlebih adanya keterbatasan impor bahan pangan. Ujung-ujungnya harus bergantung pada subsidi pemerintah.
Tanpa bantuan teknologi maupun regulasi yang membantu petani meningkatkan kinerja tanam, maka akan sulit untuk menyiapkan stok pangan yang cukup.
Sahabat Mutiara,
Bagi penggemar durian lokal, pasti ada yang merasa banyak jenis durian lokal yang tersisihkan karena ada lebih banyak jenis durian unggul yang dipasarkan, padahal rasanya enak-enak.
Pak Ermain ingin menyoroti kompetisi durian lokal yang biasanya harus bersaing dengan durian unggul seperti Monthong dan Musang King. Perlukah adanya kompetisi berdasarkan kelas klasifikasi durian agar jenis durian lain juga mendapat tempat bersinar?
Kita dengerin ide Pak Ermain yang harapannya dapat menginspirasi Sahabat Mutiara baik panitia kompetisi durian dan para penggemar durian diseluruh pelosok Indonesia.
Sahabat Mutiara,
From the publisher's feed