
Sign up to save your podcasts
Or


Sering dianggap sebagai divisi pembuang budget atau sekadar "pemadam kebakaran" saat terjadi krisis, bagaimana sebenarnya tim Marketing dan PR bekerja di industri yang sangat diatur (highly regulated)? Padahal, tanpa Marketing tidak ada penjualan, dan tanpa PR (Corporate Communications), tidak ada konsumen yang percaya pada brand.
Di episode Proxemics Podcast #43 ini, kami membongkar dapur komunikasi korporat bersama Gandis Rahma Mahatmi (Head of Marketing Sequis Life). Membawa pengalaman 20 tahun melintasi agensi PR, farmasi, dan asuransi, Gandis membedah realita pahit di balik miskonsepsi divisi korporat, dari pertarungan ego melawan departemen Finance, hingga seni menyederhanakan jargon bisnis untuk publik.
Kami juga membahas fenomena panas "Muntaber" di kalangan agen asuransi akibat strategi rekrutmen yang gemar memamerkan harta (flexing), bahaya salah memilih KOL (Finfluencer), hingga pandangan OJK tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI) seharusnya memperkuat, bukan menggantikan, pekerjaan praktisi komunikasi.
Buat kamu profesional B2B, praktisi komunikasi, brand manager, atau mahasiswa yang tertarik dengan dinamika manajemen reputasi di perusahaan multinasionalβini adalah masterclass nyata. Real examples, real frameworks, real talk.
ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTSΒ
βΈ Mematahkan Stigma Ego Korporat: Mengapa komunikasi internal sering kali gagal? Gandis menyoroti bagaimana departemen Corporate Communications (Corcom) sering diremehkan hanya sebagai penyelesai masalah, padahal fungsi mereka krusial untuk membangun trust yang mendasari penjualan tim Marketing.Β
βΈ Menembus Regulasi & Compliance: Strategi mengubah departemen Kepatuhan (Compliance) dari musuh menjadi mitra. Bagaimana tim PR asuransi menyederhanakan "Bahasa Dewa" (seperti Uang Pertanggungan) menjadi pendekatan yang berfokus pada harapan (Wealth & Wellness), bukan ketakutan (Fearmongering).Β
βΈ Aturan OJK & Taktik Finfluencer: Industri finansial tidak bisa menggunakan strategi viralitas murahan. Edukasi tentang pentingnya memilih KOL yang bersertifikasi (seperti AAJI) dibandingkan KOL mikro/nano yang hanya fokus pada gaya hidup, untuk mencegah misinformasi publik.Β
βΈ Krisis Agen "Muntaber" & Flexing: Kritik tajam terhadap agen asuransi yang hobi pamer harta untuk memancing recruit. Gendis membahas realita keras bahwa tanpa niat membantu orang lain (calling), agen hanya akan bertahan sementara lalu "Mundur Tanpa Berita" (Muntaber).Β
βΈ Disrupsi AI di Industri Komunikasi: Mengutip arahan OJK, Gendis memaparkan bahwa AI tidak akan merebut pekerjaan praktisi komunikasi. Sebaliknya, AI adalah alat untuk mempercepat outlining proposal dan optimasi SEO, sementara kreativitas final tetap berada di tangan manusia.
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 - Intro & Pentingnya Media Monitoring
06:40 - Menembus Tantangan Industri Farmasi vs Asuransi
08:37 - Miskonsepsi Fatal: PR Bukan Sekadar Pemadam Kebakaran
17:12 - Taktik PR Kreatif di Bawah Regulasi Ketat OJK
21:35 - Finfluencer Palsu & Seleksi KOL Finansial
35:48 - Mengubah Narasi Marketing: Dari Ketakutan ke Harapan
45:22 - Krisis Reputasi: Flexing Agen & Insiden GIIAS
59:12 - Segmentasi Komunikasi: Kapan Harus Pakai Press Release?
1:07:01 - Menaklukkan Stakeholder Internal Tersulit: Finance
1:11:34 - Sikap Praktisi Marketing Terhadap Era AI
1:13:54 - Closing & Sequis Care In
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
PT Asuransi Jiwa Sequis Life β’ Gendis Rahma Mahatmi β’ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) β’ AAJI β’ Corporate Communications (Corcom) β’ Finfluencer β’ Key Opinion Leader (KOL) β’ Crisis Management β’ Public Relations β’ Disrupsi AI β’ Legacy Planning β’ Media Monitoring
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White Wood
Host : Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia, Jonathan Tenggara
Our Agencies:
βΈ www.praxis.co.id
βΈ www.prajna.co.id
βΈ www.explicar.co.id
βΈ www.whitewood.ai
ββββββββββββββββββββββ
π HASHTAGS
#ProxemicsPodcast #CorporateCommunications #MarketingStrategy #PublicRelations #SequisLife #ManajemenKrisis #Finfluencer #IlmuKomunikasi #DuniaAgency #DisrupsiAI
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Banyak yang beranggapan bahwa pekerjaan PR itu sekadar "pemadam kebakaran" yang baru disuruh bekerja ketika brand kena masalah. Padahal, batas antara masalah komunikasi dan masalah operasional itu nyataβsebuah brand harus bisa walk the talk sebelum PR bisa menyelamatkannya.
Di episode Proxemics Podcast #42 ini, kami membedah kompilasi krisis viral dan case study PR yang terjadi sepanjang Agustus. Mulai dari kepanikan fearmongering massa, penanganan krisis pemblokiran rekening sepihak yang memicu nasabah menggunting kartu kredit, hingga blunder fatal di festival musik akibat Event Organizer dan MC yang kehilangan kendali atas mic-nya sendiri.
Kami juga membedah taktik komunikasi individual di balik viralnya BMW yang mogok 3 jam di depan Lotte Avenue, berbanding terbalik dengan krisis customer service defensif dari staf Hyundai. Ditutup dengan obrolan tajam tentang Leadership Transition Campaign saat Apple mengganti CEO-nya.
Buat kamu para praktisi PR, event organizer, anak agency, atau marketerβini adalah masterclass nyata dari insiden lapangan. Real examples, real frameworks, real talk.
ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTS
βΈ Krisis Reputasi Institusi Keuangan Bagaimana Bank Mandiri mengeksekusi pemblokiran rekening tanpa komunikasi proaktif kepada nasabah (termasuk pengalaman pribadi Awi). Kurangnya transparansi ini berujung pada hilangnya trust, memancing netizen mengosongkan saldo sebagai bentuk protes simbolis.
βΈ Blunder Event & Tanggung Jawab Pengendali Narasi Membahas insiden brand Newport di The Sound Project. Dalam sebuah event, viralitas memiliki dua sisi, dan MC memiliki kuasa (power) penuh untuk mengendalikan jalannya acara. Jika ada audiens yang melenceng ke isu sensitif, MC harus berani "mengambil balik" kendali mic demi melindungi brand.
βΈ Batas Biasa: Negara vs Rezim dalam Kacamata PR Kritik tajam terhadap podcaster independen yang diserang karena menghadiri upacara kenegaraan. Diskusi soal kedewasaan audiens dalam membedakan antara merayakan kemerdekaan negara versus mendukung rezim pemerintah, serta pentingnya ketegasan brand stance.
βΈ Taktik Komunikasi Akar Rumput: Kasus BMW & Hyundai Kontras manajemen krisis antara pemilik BMW yang mogok di Senopati dan langsung meminta maaf secara proaktif di Threads, dengan kasus sales supervisor Hyundai Ioniq 5 yang defensif dan adu argumen dengan influencer saat dikeluhkan soal aki dan fast charging.
βΈ Strategi Komunikasi Internal: CEO Baru Apple Transisi CEO dari Tim Cook ke John Ternus. Sebelum meyakinkan publik, PR harus menggunakan Hukum Pareto (80/20) untuk memenangkan 20% audiens kunci, yang dimulai dari komunikasi internal berlapis agar karyawan dan pemegang saham tidak ragu pada kepemimpinan baru.
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 - Intro
01:15 - Evaluasi De-eskalasi Demo & Isu Perampasan Aset
08:04 - Manajemen Krisis Bank Mandiri (Curhat Rekening Awi Diblok)
15:42 - Studi Kasus Event PR: Insiden Newport & Peran MC
23:41 - Serangan Netizen ke Podcaster Independen di Acara Kenegaraan
32:47 - Taktik Individual di Threads (Kasus BMW Mogok di Lotte)
39:35 - Customer Service vs Adu Argumen (Kasus Hyundai Ioniq 5)
44:36 - Strategi Transisi Leadership CEO Apple (John Ternus)
52:29 - Closing
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
Bank Mandiri β’ Newport β’ Orang Tua Group β’ The Sound Project β’ BCA β’ DBS β’ BMW β’ Hyundai Ioniq 5 β’ Apple β’ Tim Cook β’ Steve Jobs β’ John Ternus β’ Hukum Pareto (80/20 Rule) β’ Event Organizer β’ Crisis Management β’ Public Relations β’ Internal Communications β’ Leadership Transition β’ Customer Service
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White Wood
Host: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Our Agencies:
βΈ www.praxis.co.id
βΈ www.prajna.co.id
βΈ www.explicar.co.id
βΈ www.whitewood.ai
ββββββββββββββββββββββ
π HASHTAGS
#ProxemicsPodcast #CrisisManagement #PublicRelations #IlmuKomunikasi #StrategiMarketing #ManajemenKrisis #DuniaAgency #EventOrganizer #CorporateCommunications #PodcastIndonesia
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Banyak perusahaan terjebak mengejar sales dan melupakan akar eksistensinya. Di episode ini, Andrew Saputro (Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia) membuktikan bahwa "Purpose" yang kuat adalah kunci brand raksasa mampu bertahan lintas generasi di Indonesia. Β
Kami membedah transformasi komunikasi FMCG: mulai dari taktik membujuk manajemen agar peduli pada "Purpose", mengelola stakeholder lintas rezim, hingga eksekusi pemberdayaan peternak sapi lokal lewat filosofi Grass to Glass. Β
Bagi praktisi PR, Public Affairs, dan marketer yang ingin menguasai komunikasi di industri dengan regulasi ketat (highly regulated) β ini saatnya belajar langsung dari pakarnya. Hindari jebakan "sotoy" dan siapkan catatanmu.Β
Β ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTSβΈ The Power of Purpose (The Big Why)
Dalam memimpin komunikasi korporat, mengubah mindset direksi dari sekadar target komersial menjadi berpusat pada purpose adalah hal krusial. Purpose bukan sekadar kampanye marketing, melainkan alasan perusahaan hadir yang terbukti ampuh mempertahankan talenta terbaik (Employer Branding). Β
βΈ Evolusi Konsumen & "Kuasa" Algoritma
Interaksi brand bergeser masif dari komunikasi satu arah via billboard ke era di mana keputusan konsumen didikte algoritma. Di tengah tingginya noise, praktisi PR wajib gesit menyaring sentimen dan tidak pasrah dikontrol sistem. Β
βΈ Demistifikasi Corporate Affairs & Public Affairs
Sering disalahartikan sebagai General Affairs, struktur Corporate Affairs sesungguhnya merangkum spektrum vital: Corporate Communications, Government Relations, CSR & Sustainability, hingga Regulatory Affairs. Ini adalah mesin esensial bagi perusahaan yang sangat diregulasi oleh negara. Β
βΈ Strategi Supply Chain "Grass to Glass"
Reputasi tidak berhenti di rak minimarket. Sejak 90-an, Frisian Flag mendedikasikan tim khusus untuk memberdayakan koperasi sapi perah di daerah pelosok. Pembinaan hulu ke hilir ini memastikan suplai bahan baku berkualitas sekaligus menyejahterakan peternak lokal. Β
βΈ DNA PR Unggul: Anti-"Sotoy" & Growth Mindset
Untuk bertahan di pusaran krisis, praktisi komunikasi pantang merasa paling tahu. Karir yang tangguh dibentuk dari growth mindset, rasa ingin tahu strategis, kemauan memberi dedikasi ekstra (go the extra mile), dan bijak memilih lingkaran pertemanan. Β
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 - Intro
05:00 - Konsumen Era Algoritma
08:21 - Transisi ke Corporate Affairs
18:00 - Bisnis vs "Company Purpose"
26:00 - Taktik Yakinkan Direksi
30:00 - Stakeholder & Regulasi FMCG
43:00 - Anatomi Komunikasi Korporat
46:00 - Strategi Susu "Grass to Glass"
53:30 - Syarat Praktisi PR: Anti-"Sotoy"
1:03:34 - Closing
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
PT Frisian Flag Indonesia β’ Andrew Saputro β’ PAFI β’ Perhumas β’ FMCG β’ Corporate Affairs β’ Public Affairs β’ Corporate Communications β’ Government Relations (GovRel) β’ CSR & Sustainability β’ Grass to Glass β’ Growth Mindset β’ Employer Branding β’ Media Monitoring β’ Stakeholder Management
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White WoodHost:Β
Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia
Our Agencies:
βΈ https://praxis.co.id/
βΈ https://prajna.co.id/
βΈ https://explicar.co.id/
βΈ https://whitewood.ai/
ββββββββββββββββββββββ
#ProxemicsPodcast #FrisianFlag #CorporateAffairs #PublicRelations #StakeholderManagement #BrandPurpose #FMCGIndonesia #IlmuKomunikasi #StrategiMarketing #DuniaAgency
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Banyak brand raksasa tumbang karena disrupsi. Tamu kita hari ini membuktikan sebaliknya dengan strategi PR dan mobility yang merajai jalanan.
Di episode Proxemics Podcast kali ini, kami ngobrol dengan Sekar Adisty β Communications & Community Lead di Blue Bird Group. Dengan pengalaman lintas industri mulai dari agency, airlines, financial institution, hingga e-commerce, Adis membedah bagaimana perusahaan transportasi legendaris ini mentransformasi strategi marketing dan PR-nya dari yang sangat konvensional menjadi sangat agile di era digital.
Kami membedah tuntas dapur komunikasi Blue Bird: mulai dari strategi Crisis Management menghadapi 28.000 pengemudi, pentingnya mengejar "Sentimen" dibanding "Impressions", hingga obrolan tajam tentang disrupsi AI dan consumer behavior Gen Z yang kini lebih memilih Zero Commitment (malas beli mobil demi gaya hidup).
Buat kamu para praktisi PR, marketer, anak agency, atau profesional yang ingin tahu realita keras di balik layar komunikasi korporat raksasa (dan menghancurkan mitos glamor ala Emily in Paris) β ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk.
ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTS
βΈ Krisis Komunikasi: Speed vs Accuracy
Dalam menangani krisis PR, merespons dengan cepat (speed) seringkali lebih krusial di awal daripada menunggu akurasi sempurna (accuracy). Audiens dan netizen butuh validasi bahwa brand mendengar keluhan mereka dan tidak mendiamkan masalah (sit on the problem), sebelum narasi liar berkembang di media sosial.
βΈ Metrik PR Modern: Sentimen di Atas Impressions
Engagement dan impressions tinggi tidak selalu bagus jika isinya hujatan. Hari ini, Social Listening harus difokuskan pada "Sentimen". Mengklasifikasikan respons audiens (positif vs negatif) jauh lebih bernilai untuk mengetahui apakah suatu campaign relevan dan bagaimana audiens benar-benar peduli pada brand.
βΈ Consumer Behavior: Tren "Zero Commitment" Gen Z
Terjadi pergeseran consumer behavior di mana generasi muda menolak membeli kendaraan pribadi karena isu mental, biaya parkir, kemacetan, dan depresiasi aset. Mereka lebih memilih layanan mobilitas tepercaya untuk menghemat budget demi lifestyle lain (seperti nonton konser atau traveling ke luar negeri). Blue Bird menangkap ini dengan mengisi sweet spot lewat peluncuran "Blue Bird Prime".
βΈ Internal Comms: Mengubah 28.000 Driver Menjadi Ahli Waris Brand
Menjaga standar layanan ribuan driver tidak bisa hanya lewat edaran. Diperlukan komunikasi berlapis (Townhall, kunjungan pool, hingga serikat pekerja). Melalui program konsisten seperti beasiswa anak pengemudi sejak krisis 1998, brand berhasil membangun sense of belonging yang kuat, menjadikan pengemudi sebagai brand advocate yang tulus.
βΈ Realita Dunia Comms & Syarat "Resilience"
Dunia PR dan Komunikasi sering mendapat stigma glamor dari pop culture. Kenyataannya, praktisi PR berhadapan dengan kerja tak kenal waktu, panggilan tengah malam, dan manajemen krisis. Mentalitas "How do you scale your resilience?" dan keberanian menolak ide usang ("dulu biasanya begini") adalah nyawa bagi seorang corporate communicator.
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 - Intro
02:39 - Transformasi Tim Marketing & Layanan Mobility
07:46 - Peran Komunitas & Taktik New Media
11:14 - Strategi Internal Comms & Manajemen Pengemudi
24:17 - Peluncuran Layanan Prime & Tren Zero Commitment
39:51 - Tantangan AI di Fitur Customer Service
42:14 - Skala Crisis Management (Speed vs Accuracy)
46:59 - Mitos Dunia PR & Pengukuran Sentimen Brand
1:04:02 - Closing
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
Blue Bird Group β’ BB Kirim β’ Blue Bird Prime β’ Silver Bird β’ Big Bird β’ Uber β’ Dentsu β’ AC Milan β’ Chelsea β’ Emily in Paris β’ Sex and the City β’ Toyota Zenix β’ LLM (Large Language Models) β’ Artificial Intelligence β’ Crisis Management PR β’ Media Monitoring β’ Social Listening β’ Internal Communications β’ Corporate Communications β’ Brand Sentiment β’ B2C Marketing β’ Consumer Behavior
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White Wood
Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia
βΈ www.whitewood.ai
ββββββββββββββββββββββ
#ProxemicsPodcast #BlueBirdGroup #PublicRelations #CrisisManagement #StrategiMarketing #ConsumerBehavior #InternalComms #BrandPositioning #DuniaAgency #CorporateCommunications
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Banyak institusi menjual nama besar. Tamu kita hari ini menjaga standar globalnya.
Di episode Proxemics Podcast kali ini, kami ngobrol dengan Yusuf Seto β Head of Business Development Southeast Asia & Pacific di Cambridge International Education. Dengan pengalaman lintas industri, dari digembleng keras di dunia sales hingga kini mengawal standar pendidikan internasional di Asia Tenggara dan Pasifik.
Kami membedah miskonsepsi publik tentang label "Sekolah Cambridge" yang sering hanya dijadikan buzzword marketing, membandingkan kualitas edukasi Indonesia dengan negara ASEAN lainnya, dan mendiskusikan fenomena Gen-Z yang ketakutan digantikan AI hingga banting setir mempelajari skill manual.Β
Buat kamu para praktisi PR, marketing, orang tua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk anak, atau profesional yang ingin mengerti psikologi di balik sebuah penjualan β ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk.
ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTS
βΈ Label "Cambridge" sering jadi Buzzword Marketing
Banyak sekolah mengklaim menggunakan sistem Cambridge padahal hanya meminjam resource atau bukunya saja, tanpa mengadopsi kurikulum penuh. Edukasi konsumen sangat penting agar parents tahu bedanya sekadar "gimik logo" dengan standar asesmen global yang sebenarnya.
βΈ Mentalitas Sales: The Power of Desperation
Sales sejati bukan sekadar bakat bawaan lahir. High achiever di dunia sales sering kali lahir dari rasa keputusasaan (desperation) yang mendorong mereka untuk melakukan repetisi hingga ribuan jam demi menguasai skill tersebut.Β
βΈ AI: Tongkat Ketiak vs Tangga Elevasi
Di dunia pendidikan dan profesional, AI sering disalahgunakan sebagai "tongkat" yang membuat otak tumpul karena malas berpikir. Padahal, AI seharusnya digunakan sebagai "tangga" untuk menstrukturkan pemikiran dan mengeksekusi ide yang sudah ada.
βΈ Consumer Behavior & Efek Reciprocity
Sering kali konsumen membeli barang bukan karena butuh, melainkan karena efek psikologis "Reciprocity" (rasa tidak enak/berhutang budi setelah dilayani). Selain itu, customer journey pria dan wanita memiliki pola yang sangat berbeda saat berhadapan dengan tenaga penjual.
βΈ Leadership Tanpa Ego: Inherit the Team
Seorang leader jarang sekali bisa membentuk tim dari nol; seringnya mereka "mewarisi" (inherit) tim yang sudah ada. Tugas utama leader bukanlah untuk bersinar paling terang, melainkan menekan ego dan memastikan anggota timnya bisa bersinar lebih dari dirinya.
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 - Intro & Teaser: Mengenal Kiprah Yusuf SetoΒ
04:39 - Bedah Bisnis Cambridge & Miskonsepsi Label "Sekolah Internasional"Β
13:36 - Analisis Komparasi Mutu Pendidikan: Indonesia vs ASEANΒ
23:49 - Mentalitas Sales Sukses: The Power of Desperation & Jam TerbangΒ
31:19 - Disrupsi Teknologi: Tantangan Mendidik Gen Z di Era AI NativeΒ
50:51 - Komunikasi Persuasif: Teknik Ethos, Logos, Pathos dalam PenjualanΒ
56:22 - Consumer Behavior: Efek Reciprocity & Pola Belanja Pria vs WanitaΒ
1:02:08 - Filosofi Leadership: Strategi Inherit Team & Manajemen EgoΒ
1:07:06 - Closing & Kesimpulan Episode
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
Cambridge International Education β’ Cambridge University Press and Assessment β’ Celebrity Fitness β’ Wall Street English β’ Outliers (Malcolm Gladwell) β’ Bill Gates β’ 10,000 Hours Rule β’ AI Native β’ ChatGPT β’ Gemini β’ Psychology of Influence β’ Reciprocity β’ Ethos, Logos, Pathos β’ B2B Sales β’ Consumer Behavior β’ SPG β’ Ojek PayungΒ
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White Wood
Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia
Our Agencies:
βΈ www.praxis.co.id
βΈ www.prajna.co.id
βΈ www.explicar.co.id
βΈ www.whitewood.ai
ββββββββββββββββββββββ
#ProxemicsPodcast #CambridgeEducation #PublicRelations #StrategiMarketing #AIMarketing #DuniaSales #ConsumerBehavior #LeadershipTips #EdukasiAnak #AgencyLife
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Banyak institusi menjual nama besar. Tamu kita hari ini menjaga standar globalnya.
Di episode Proxemics Podcast kali ini, kami ngobrol dengan Yusuf Seto β Head of Business Development Southeast Asia & Pacific di Cambridge International Education. Dengan pengalaman lintas industri, dari digembleng keras di dunia sales hingga kini mengawal standar pendidikan internasional di Asia Tenggara dan Pasifik.
Kami membedah miskonsepsi publik tentang label "Sekolah Cambridge" yang sering hanya dijadikan buzzword marketing, membandingkan kualitas edukasi Indonesia dengan negara ASEAN lainnya, dan mendiskusikan fenomena Gen-Z yang ketakutan digantikan AI hingga banting setir mempelajari skill manual.Β
Buat kamu para praktisi PR, marketing, orang tua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk anak, atau profesional yang ingin mengerti psikologi di balik sebuah penjualan β ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk.
ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTS
βΈ Label "Cambridge" sering jadi Buzzword Marketing
Banyak sekolah mengklaim menggunakan sistem Cambridge padahal hanya meminjam resource atau bukunya saja, tanpa mengadopsi kurikulum penuh. Edukasi konsumen sangat penting agar parents tahu bedanya sekadar "gimik logo" dengan standar asesmen global yang sebenarnya.
βΈ Mentalitas Sales: The Power of Desperation
Sales sejati bukan sekadar bakat bawaan lahir. High achiever di dunia sales sering kali lahir dari rasa keputusasaan (desperation) yang mendorong mereka untuk melakukan repetisi hingga ribuan jam demi menguasai skill tersebut.Β
βΈ AI: Tongkat Ketiak vs Tangga Elevasi
Di dunia pendidikan dan profesional, AI sering disalahgunakan sebagai "tongkat" yang membuat otak tumpul karena malas berpikir. Padahal, AI seharusnya digunakan sebagai "tangga" untuk menstrukturkan pemikiran dan mengeksekusi ide yang sudah ada.
βΈ Consumer Behavior & Efek Reciprocity
Sering kali konsumen membeli barang bukan karena butuh, melainkan karena efek psikologis "Reciprocity" (rasa tidak enak/berhutang budi setelah dilayani). Selain itu, customer journey pria dan wanita memiliki pola yang sangat berbeda saat berhadapan dengan tenaga penjual.
βΈ Leadership Tanpa Ego: Inherit the Team
Seorang leader jarang sekali bisa membentuk tim dari nol; seringnya mereka "mewarisi" (inherit) tim yang sudah ada. Tugas utama leader bukanlah untuk bersinar paling terang, melainkan menekan ego dan memastikan anggota timnya bisa bersinar lebih dari dirinya.
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 - Intro & Teaser: Mengenal Kiprah Yusuf SetoΒ
04:39 - Bedah Bisnis Cambridge & Miskonsepsi Label "Sekolah Internasional"Β
13:36 - Analisis Komparasi Mutu Pendidikan: Indonesia vs ASEANΒ
23:49 - Mentalitas Sales Sukses: The Power of Desperation & Jam TerbangΒ
31:19 - Disrupsi Teknologi: Tantangan Mendidik Gen Z di Era AI NativeΒ
50:51 - Komunikasi Persuasif: Teknik Ethos, Logos, Pathos dalam PenjualanΒ
56:22 - Consumer Behavior: Efek Reciprocity & Pola Belanja Pria vs WanitaΒ
1:02:08 - Filosofi Leadership: Strategi Inherit Team & Manajemen EgoΒ
1:07:06 - Closing & Kesimpulan Episode
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
Cambridge International Education β’ Cambridge University Press and Assessment β’ Celebrity Fitness β’ Wall Street English β’ Outliers (Malcolm Gladwell) β’ Bill Gates β’ 10,000 Hours Rule β’ AI Native β’ ChatGPT β’ Gemini β’ Psychology of Influence β’ Reciprocity β’ Ethos, Logos, Pathos β’ B2B Sales β’ Consumer Behavior β’ SPG β’ Ojek PayungΒ
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White Wood
Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia
Our Agencies:
βΈ www.praxis.co.id
βΈ www.prajna.co.id
βΈ www.explicar.co.id
βΈ www.whitewood.ai
ββββββββββββββββββββββ
#ProxemicsPodcast #CambridgeEducation #PublicRelations #StrategiMarketing #AIMarketing #DuniaSales #ConsumerBehavior #LeadershipTips #EdukasiAnak #AgencyLife
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Some communicators distract the message. We dissect the message.
Di episode Proxemics "Full House" kali ini, Mercy, Awi, Sofyan, dan Steph berkumpul untuk membedah berbagai studi kasus komunikasi publik, Public Relations (PR), dan marketing tanpa filter.
Kami membedah kenapa merespons krisis dengan serangan personal (Ad Hominem) adalah mimpi buruk konsultan PR, bagaimana "stamina" campaign banyak praktisi PR masih sangat lemah, perdebatan etika content creator yang merekam diam-diam, hingga kontrasnya strategi marketing raksasa Spider-Man vs Christopher Nolan.
Buat kamu yang kerja di corporate comms, agency, marketing, branding β atau first-jobber yang ingin tahu cara kerja industri media yang sebenarnya β ini adalah diskusi praktisi, bukan teori kelas. Real analysis, real ethics, real talk.
ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTS
βΈ Krisis PR & Message Destruction
Ketika publik atau stakeholder meminta data, membalasnya dengan personal attack (Ad Hominem) adalah blunder terbesar. Ini menciptakan "message destruction" di mana substansi pesan utama yang baik justru hancur karena cara penyampaian yang reaktif.
βΈ Penyakit Praktisi PR: Stamina Lemah & Transaksional
Banyak praktisi PR hanya mengejar "one-off event" (seperti pemecahan rekor MURI) tanpa evaluasi jangka panjang (perception audit). Selain itu, memperlakukan media relations hanya sebagai transaksi belaka (hanya untuk naikin rilis) adalah kesalahan. Relasi itu harus berbasis irisan mutualisme antara publik, brand, dan media.
βΈ Strategi Marketing Kontras: Marvel vs Nolan
Bagaimana Spider-Man bisa mengintegrasikan 165 brands (senilai $300 Juta) secara smooth tanpa membuat filmnya terasa seperti iklan murahan? Sangat bertolak belakang dengan gaya idealis Christopher Nolan yang menolak gimmick marketing berlebihan dan mengandalkan organic word-of-mouth.
βΈ Etika Content Creator & Ruang Publik
Merekam orang di ruang publik menggunakan smart glasses untuk kepentingan komersialisasi konten tanpa consent adalah pelanggaran etika. Minta maaf di video tidak akan menyelesaikan akar masalah jika sang kreator tidak paham batas antara "kepentingan publik" dan "kepentingan komersial".
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 Intro Podcast
00:56 Pidato Londo Ireng
08:05 Serangan Ad Hominem
12:53 Kepercayaan Publik Turun
20:55 Evaluasi Praktisi PR
32:04 Strategi Marketing Film
40:09 Etika Content Creator
57:58 Isu Demo Agustus
1:04:35 Closing Podcast
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
SMRC β’ Ad Hominem β’ Message Destruction β’ Perception Audit β’ Spider-Man Marvel β’ Christopher Nolan β’ BMW vs Mercedes Ads β’ Burger King vs McDonald's β’ Etika Pariwara Indonesia (EPI) β’ Content Creator Ethics β’ Meta Glasses β’ BYD β’ Telkomsel β’ XL
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White Wood
Host: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia, Sofyan Herbowo, Adwi Yudiansyah
Our Agencies:
βΈ www.praxis.co.id
βΈ www.prajna.co.id
βΈ www.explicar.co.id
βΈ www.whitewood.ai
ββββββββββββββββββββββ
#ProxemicsPodcast #PublicRelations #CorporateComms #StrategiMarketing #MediaRelations #KrisisKomunikasi #AgencyLife #DigitalMarketing #LiterasiMedia #EtikaKreator
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Sebagian financial influencer jualan profit hijau. Tamu kita jualan kerugian sahamnya. Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Yudha Keling β stand-up comedian yang banting setir menjadi financial influencer bersertifikat resmi, dengan pendekatan konten yang mendobrak pakem industri keuangan. Ia membuktikan bahwa membuat orang tertawa dan percaya tidak selalu butuh jas rapi atau pamer kekayaan. Kami membedah bagaimana ia mengubah kerugian saham hingga 70% dan mahar saham GOTO yang nyangkut menjadi "Project Tidak Miskin" β sebuah masterclass dalam authentic branding. Kami juga membahas aturan ketat OJK (WPPE) bagi influencer keuangan, serta bagaimana Yudha menggunakan ChatGPT sebagai partner menulis materi komedi. Buat kamu yang kerja di marketing, PR, agensi, atau siapa pun yang ingin meningkatkan skill public speaking β ini adalah diskusi praktisi tentang strategi persuasi, meracik komedi lewat "rumus matematika", dan cara nyambung dengan audiens. Real examples, real frameworks, real laughs.Β
ββββββββββββββββββββββΒ
π‘ KEY INSIGHTSΒ
βΈ Authentic Branding: "Project Tidak Miskin" Di tengah tren flexing dan janji manis investasi, Yudha justru membangun brand-nya dengan menceritakan kesialannya di bursa saham. Ia memvalidasi keresahan audiens (investor ritel) bahwa 97% orang di market sering boncos, sehingga pendekatannya terasa jauh lebih relevan dan dipercaya.Β
βΈ Stand-up Comedy Punya "Rumus Matematika" Bikin jokes bukan soal wangsit. Ada formulanya: Argumen β‘οΈ Kenapa ini jadi masalah β‘οΈ Punchline[cite: 8]. Framework ini adalah senjata rahasia public speaker atau eksekutif untuk mencairkan suasana meeting yang tegang (addressing the elephant in the room).Β
βΈ Compliance Era Digital: Kenapa Influencer Butuh Sertifikasi (WPPE)? Berdasarkan aturan POJK, kreator yang menerima endorsement dari institusi keuangan kini dianggap sebagai "perpanjangan tangan" alias tim sales perusahaan. Sertifikasi wajib dimiliki untuk melindungi masyarakat dari misinformasi dan investasi bodong.Β
βΈ Disrupsi AI: ChatGPT sebagai "Writer's Room" Yudha menggunakan AI untuk brainstorming setup komedi ala Ronny Chieng. Namun ia menegaskan batasannya: AI bisa menstruktur kalimat dengan sempurna, tapi tidak bisa menggantikan delivery, emosi, dan relatability (kedekatan) dengan audiens manusia.
ββββββββββββββββββββββ Β
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONEDΒ
Saham GOTO β’ OJK β’ POJK β’ WPPE (Wakil Perantara Pedagang Efek) β’ Bursa Efek Indonesia β’ ChatGPT / OpenAI β’ Raditya Dika β’ Pandji Pragiwaksono β’ Pras Teguh β’ Arif Brata β’ Taylor Tomlinson β’ Ronny Chieng β’ Dave Chappelle β’ Project Tidak Miskin β’ Gerakan Memutus Rantai (GMR) β’ David Wijaya β’ Felicia Putri Tjiasaka β’ Stand-up Comedy β’ Authentic Branding β’ Public SpeakingΒ
ββββββββββββββββββββββΒ
ποΈ Produced by White WoodΒ
Host: Mercy Tahitoe & Jonathan Tenggara
Our Agencies:Β
βΈ www.praxis.co.idΒ
βΈ www.prajna.co.idΒ
βΈ www.explicar.co.id
βΈ www.whitewood.aiΒ
ββββββββββββββββββββββΒ
#ProxemicsPodcast #YudhaKeling #MarketingIndonesia #PublicRelations #FinancialInfluencer #StandUpComedy #AuthenticBranding #LiterasiKeuangan #ChatGPT
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Di era disrupsi, memenangkan persaingan bukan lagi soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang memiliki struktur fondasi paling solid.
Di episode Proxemics Podcast kali ini FULLHOUSE duduk bersama untuk mendekonstruksi lanskap industri komunikasi, PR, dan marketing yang tengah diacak-acak oleh AI. Kami membongkar kerangka kerja (framework) level eksekutif yang menjadi pegangan top management saat ini.
Mulai dari urgensi Public Affairs dan pentingnya mengamankan Social License to Operate (SLO) di luar izin legal, pergeseran paradigma dari CSR menuju Corporate Shared Value (CSV), hingga krisis eksistensial media massa akibat fenomena AI Crawler & "Zero-Click Search".
Bagi Anda para C-Level, praktisi PR, Marketer, atau strategis B2B, episode ini juga membedah transisi krusial dari SEO konvensional menuju GEO (Generative Engine Optimization). Siapkan catatan, ini adalah "Executive Playbook" untuk mempertahankan relevansi brand Anda!
ββββββββββββββββββββββ
π‘ KEY INSIGHTS
βΈ Izin Legal Bukan Jaminan Tanpa SLO
Bisnis raksasa sering terganjal konflik dengan masyarakat sipil karena perbedaan orientasi. Public Affairs bertugas mengelola "Externality Cost" agar perusahaan tidak hanya sah secara hukum (Technical License), tapi juga mengantongi restu sosial (Social License to Operate).
βΈ Matinya CSR & Lahirnya CSV
Korporasi cerdas tidak lagi membuang uang untuk donasi karikatif (CSR) yang tidak relevan dengan core bisnis. Mereka mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat ke dalam OPEX operasional (Creating Shared Value), memastikan ekosistem tumbuh bersamaan dengan laba perusahaan.
βΈ Kematian Senyap Media Konvensional
Perilaku pengguna bergeser ke arah "Zero-Click Search" di mana AI langsung merangkum jawaban di halaman pencarian. Kehilangan traffic berarti kehilangan nafas bagi media independen, berujung pada kolapsnya bisnis pers dan darurat literasi digital.
βΈ SEO Bertransformasi Menjadi GEO
Konten yang relevan bagi manusia saja sudah tidak cukup. Brand harus menguasai "Dual Legibility Tension" dan merancang "Narrative Architecture" agar informasi mereka dapat dipindai, dipahami, dan direferensikan oleh mesin Generative AI.
ββββββββββββββββββββββ
β±οΈ TIMESTAMPS
00:00 - Highlights
01:00 - Intro & Taktik Ambush Marketing
06:26 - Dinamika Bisnis Media
13:05 - Konsep Public Affairs
18:22 - Evolusi CSR ke CSV
24:30 - Etika & Regulasi Influencer
37:11 - Era Zero Click Search
46:27 - AI Sebagai Alat Bantu
57:34 - SEO Masa Depan (GEO)
59:08 - Kesimpulan dan Outro
ββββββββββββββββββββββ
π·οΈ BRANDS, PEOPLE & TERMS MENTIONED
Levi's β’ Coca-Cola β’ DBS β’ Nestle β’ Public Affairs β’ Social License to Operate (SLO) β’ Corporate Shared Value (CSV) β’ Generative Engine Optimization (GEO) β’ Narrative Architecture β’ Dual Legibility Tension β’ AI Crawler β’ Zero-Click Search β’ Externality Cost β’ Opex β’ Jim Collins (Good to Great) β’ Alvin Toffler β’ The Genius of AND
ββββββββββββββββββββββ
ποΈ Produced by White Wood
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
π’ Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.idΒ
ββββββββββββββββββββββ
#ProxemicsPodcast #ExecutivePlaybook #PublicAffairs #GenerativeEngineOptimization #DisrupsiAI #PublicRelations #B2BMarketing #IndustriMedia #CorporateSharedValue #MarketingStrategy
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Content is King itu udah basi. Di era digital yang hyper-accelerated sekarang, kalau lu cuma bikin konten yang cantik tanpa ngerti data, lu bakal tenggelam.
Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Maria Ramona (Mona) β Head of Creative di SIRCLO. Dari anak agency tulen yang biasa ngurusin TVC dan guideline brand, sekarang dia nge-lead tim raksasa untuk ngurusin ribuan sesi live streaming dan social commerce harian. Topik besarnya: Creative Commerce, Anatomi Live Streaming yang sukses, bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara efektif dalam proses kreatif, dan cara mengelola tim kreatif dalam skala besar.
Kami membedah kenapa host live stream nggak bisa cuma modal cantik/ganteng, kenapa desainer grafis sekarang wajib melototin data penjualan, dan bahayanya karyawan yang punya sindrom "Iya, ngerti bos" padahal zonk.
Buat kamu yang punya brand, kerja di agency, tim kreatif, atau lagi pusing kenapa jualan di TikTok/Shopee mentok terus β ini ilmu daging dari dapurnya enabler e-commerce raksasa. Realita, bukan teori.
π‘ KEY INSIGHTS
βΈ Kreatif + Data = Creative Commerce Visual bagus aja nggak cukup. Desainer dan tim kreatif sekarang wajib paham matriks: Entrance Rate, Average View Duration (AVD), sampai GMV. Karya lu divalidasi oleh angka, bukan sekadar selera bos.
βΈ Host Live Stream bukan sekadar "Talking Head" Mau jualan laku? Product knowledge yang mendalam adalah kunci. Host yang sukses adalah mereka yang ngerti pain points audiens dan bisa ngasih konteks psikologis secara spontan, bukan cuma baca script hafalan.
βΈ AI bikin efisien, tapi bahaya bikin "Nyampah" AI memang dipakai untuk short video dan bikin desain massal. Tapi ingat, AI itu untuk volume. Kalau brand cuma bombardir tanpa master visual yang kuat dan QC manusia, lu bukan lagi marketing, lu cuma nyampah dan bikin audiens muak.
βΈ Red Flag: Karyawan "The Yes Men" Dalam manajemen tim skala besar, penyakit paling bahaya adalah karyawan yang bilang "iya, ngerti" cuma buat impress atau takut kelihatan bodoh, tapi hasil akhirnya meleset. Meleset 1 milimeter di atas, bakal jadi ratusan meter di bawah.
π§ Dengerin full episode-nya, dan subscribe buat diskusi praktisi marketing & PR lainnya.
β±οΈ TIMESTAMPS
0:00 Intro: Era Creative Commerce
01:57 Dari Agency Ke Tech Company (SIRCLO)
06:49 Matriks Rahasia Live Streaming
13:36 Evolusi Tim Kreatif : Wajib Melek Data
22:58 Kunci Sukses Host : Product Knowledge & Konteks
31:21 Dibalik Layar Casting & Evaluasi Host
42:56 AI di E-commerce & Jebakan βNyampahβ
55:18 Red Flag Tim Besar: Bahaya Si βSok Ngertiβ
01:04:49 Outro: Cerita Bisnis Playdou Pizza & Closing
ποΈ Produced by White Wood
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
π’ Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.idΒ
#ProxemicsPodcast #CreativeCommerce #LiveStreaming #MarketingIndonesia #SIRCLO #DigitalMarketing #ECommerceIndonesia #KecerdasanBuatan #AgencyLife #TikTokLive #ShopeeLive
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
From the publisher's feed
Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.
Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the artβ¦
Instagram: @proxemics.podcast
Business Inquiries: [email protected]