
Sign up to save your podcasts
Or


Some people sell products. Our guest sells trust — dan dia ngelakuinnya di salah satu industri paling susah dipercaya: fintech.
Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Yosua Tanuwiria — seasoned marketing professional, dengan 15 tahun pengalaman lintas industri dari hospitality sampai financial services. Topik besarnya: marketing di era AI, literasi keuangan, dan apakah AI beneran bakal menggantikan marketer & agency.
Kami membedah apa yang berubah saat "democratized virality" bikin siapa pun bisa viral, kenapa financial literacy orang Indonesia masih ketinggalan, dan kenapa AI justru bikin jurang antara yang "intuit" dan yang gaptek makin lebar — bukan makin rata.
Buat kamu yang kerja di marketing, PR, branding, atau agency — dan first-jobber yang lagi cari pijakan — ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk.
💡 KEY INSIGHTS
▸ KYC = fondasi marketing (bukan yang compliance itu)
Bukan "Know Your Customer" versi verifikasi data — tapi seberapa beneran kamu paham siapa yang kamu ajak bicara. Brand sering bikin sesuatu yang nggak menjawab masalah siapa pun, dan itu kerja multi-divisi — bukan tugas marketing sendirian.
▸ "Knowledge bisa diajarin. Karakter nggak bisa dirubah."
Tiga hal yang dicari Yos saat hiring: karakter, rasa kepemilikan (ownership), dan kemampuan untuk unlearn. Skill nomor sekian.
▸ AI tidak menggantikan — AI memperkuat (kalau kamu tahu caranya)
Bedanya agency yang menang dan yang tergusur: yang menang pakai AI untuk jadi konsultan yang lebih baik, bukan untuk produksi barang yang klien juga bisa bikin sendiri. Relationship dengan media, regulator, dan stakeholder — itu yang nggak bisa di-prompt.
▸ Kenapa AI justru bikin lapangan makin timpang
Kalau kamu sudah perform DAN melek AI, kamu seperti "Barry Bonds on steroids." Tapi kalau ketinggalan, jaraknya makin jauh. Era AI bukan pemerataan — ini amplifier.
▸ Trust di fintech: kamu harus go above and beyond
Saat terjadi glitch harga forex, CEO mereka langsung live interview dan membiarkan customer menikmati keuntungan dari error itu — walau itu kesalahan partner, bukan internal. Walk the talk, atau kehilangan kepercayaan selamanya.
🎧 Dengerin full episode-nya, dan subscribe buat diskusi praktisi marketing & PR lainnya tiap minggu.
⏱️ TIMESTAMPS
0:00 Teaser & Bumper in
01:01 Intro: Bisnis Jualan Trust
02:16 Democratized Virality Era
06:11 Realita Know Your Customer
19:23 Jebakan Ilusi Cepat Kaya
28:59 The Ability To Unlearn
41:05 Adaptasi Agensi Era AI
53:13 Masterclass Crisis Management
58:07 Red Flag: Drama Queen
01:00:48 Outro: Closing Statement
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #AIMarketing #PublicRelations #FinancialLiteracy #LiterasiKeuangan #GEO #Branding #Fintech #DigitalMarketing #AgencyLife #FOMO #Investasi #KYC #PromptEngineering
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Isu tata kelola program pemerintah dan investasi *startup* sering kali diselimuti kontroversi dan perdebatan publik—mulai dari kekisruhan logistik Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga tuduhan korupsi yang menjerat *Venture Capital* BUMN akibat gagalnya investasi di *startup*. Namun, realita di balik layar menunjukkan adanya tantangan struktural yang kompleks, seperti birokrasi yang kaku dan lambatnya pemahaman hukum terhadap manajemen risiko investasi *high-risk*. Di tengah era di mana disrupsi AI terjadi sangat cepat, institusi publik dan swasta dituntut untuk memiliki strategi komunikasi krisis yang tangguh dan tidak reaktif.
In this episode of Proxemics Podcast, kita membedah dinamika komunikasi politik dan krisis ekosistem bisnis digital. Anda akan mempelajari apa itu strategi *Dead Cat Theory* dalam lanskap komunikasi pemerintah, pelajaran *Public Relations* dari blunder viral promotor konser, serta ancaman di balik kriminalisasi kerugian investasi *Venture Capital* yang secara sistemik memaksa talenta *startup* lokal untuk eksodus dan berkarya di luar negeri.
### Key PR Insights & Analysis
* **Q: Apakah evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) murni soal tata kelola atau sekadar pengalihan isu?**
* **A:** Selain adanya evaluasi nyata terhadap tata kelola dan pencopotan kepala BGN, diskusi membedah spekulasi terkait penggunaan strategi "Dead Cat Theory" dalam komunikasi politik, yakni taktik melempar isu sensasional untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah yang lebih esensial.
* **Q: Mengapa menyamakan kerugian Venture Capital BUMN di startup dengan tindak korupsi dianggap berbahaya?**
* **A:** Secara natural, investasi *startup* adalah perjudian berisiko tinggi (*high risk, high reward*). Menjerat kegagalan investasi komersial dengan pidana kerugian negara dapat menciptakan preseden buruk, mematikan ekosistem inovasi, dan mendorong talenta lokal untuk mencari pendanaan di negara dengan birokrasi yang lebih adaptif.
* **Q: Apa pelajaran PR yang bisa diambil dari krisis promotor konser yang viral baru-baru ini?**
* **A:** Di era media sosial, respons yang reaktif dan emosional langsung dari *brand* adalah sebuah blunder PR. Pendekatan terbaik adalah menyelesaikan keluhan secara privat di belakang layar terlebih dahulu, kemudian menggunakan konsumen tersebut sebagai validator pihak ketiga untuk mengklarifikasi bahwa masalah telah terselesaikan.
---
### Timestamps
00:00 - Opening & Highlights
00:59 - Intro & Blunder PR Politik
16:18 - Evaluasi program makan bergizi (MBG)
23:02 - Apa itu Dead Cat Theory
25:57 - Krisis PR Konser F4
34:14 - Kasus TANI HUB & VC BUMN
40:18 - Risiko startup vs tindak korupsi
51:31 - Startup Lokal Terjegal Birokrasi
54:08 - Ancaman AI Prompting di 2026
55:35 - Outro & Closing
---
Brands/People Mentioned:
Dinopati Jalal, Tedy Indrawijaya, Ferry Irwandi, BGN, F4/FSE, TaniHub, BRI Ventures, MDI Ventures, Telkom Indonesia, Temasek, Google, OpenAI.
Produced by White Wood
Hosts: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#ProxemicsPodcast #DeadCatTheory #StartupIndonesia #TaniHub #VentureCapital #KrisisKomunikasi #Birokrasi #PublicRelations #MakanBergiziGratis #MarketingIndonesia
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Bekerja di industri Public Relations (PR) hospitality dan lifestyle sering kali diselimuti ilusi kemewahan—fine dining, hotel bintang lima, dan kehidupan serba glamor. Namun, realita di balik layar menuntut kedisiplinan tingkat tinggi, manajemen klien yang kompleks, dan kerja keras yang sering kali tersembunyi dari publik. Di tengah era di mana AI mulai menggantikan peran tradisional dan fenomena "Conscious Unbossing" melanda talenta muda, agensi PR menghadapi tantangan regenerasi SDM dan tuntutan added value yang belum pernah terjadi sebelumnya.
In this episode of Proxemics Podcast, Stef (Praxis) membedah dinamika bisnis agensi komunikasi bersama Viana Igah, Founder Prefinite dan Askara Group. Anda akan mempelajari bagaimana strategi membangun agensi PR berkaliber premium, pentingnya transisi ke Hybrid PR, dan bagaimana pemimpin agensi menavigasi krisis SDM ketika generasi muda secara sadar menolak promosi jabatan demi kesejahteraan mental.
Key PR Insights & Analysis
Q: Apakah industri PR benar-benar seglamor yang terlihat di media sosial?
A: Sama sekali tidak. Mitos kemewahan di Instagram hanyalah hasil akhir dari "tangis dan air mata" di balik layar. Praktisi PR hospitality bekerja dengan jam kerja yang tidak menentu dan dituntut memiliki kedisiplinan operasional yang sangat tinggi, layaknya standar perhotelan bintang lima.
Q: Mengapa strategi organik saja tidak lagi cukup, dan apa itu Hybrid PR?
A: Di ekosistem media yang tersaturasi, strategi Hybrid PR—menggabungkan relasi organik dengan investasi berbayar (paid media/KOL)—menjadi sebuah keharusan. Brand dan klien harus diedukasi bahwa lanskap media dan kreator konten juga membutuhkan investasi (bukan hanya barter) agar ekosistem komunikasi tetap berjalan sehat.
Q: Apa itu fenomena "Conscious Unbossing" dan dampaknya bagi agensi?
A: Ini adalah fenomena di mana pekerja muda secara sadar menolak promosi ke tingkat manajerial. Mereka enggan memikul beban mental dan tanggung jawab lebih, dan lebih memilih menjaga work-life balance. Hal ini menciptakan tantangan retensi dan regenerasi SDM yang signifikan, memaksa agensi untuk terus mendefinisikan ulang corporate culture yang positif.
Timestamps
00:00 - Intro: Realita Agensi PR & Mitos Kemewahan
02:23 - Awal Karier Viana Igah di Industri Perhotelan
07:55 - Turning Point: Memilih Keluarga & Awal Mula Berdirinya Prefinite
17:36 - Ekspektasi vs Realita: Sisi Gelap Dunia PR & Influencer
21:26 - Hybrid PR: Kenapa Media Organik Saja Tidak Cukup?
31:55 - Bedah Fenomena "Conscious Unbossing" di Agensi Komunikasi
39:23 - Ancaman AI & Tantangan Terbesar Regenerasi SDM
46:50 - Ekspansi Askara Group & Peluncuran TFL Paper
50:19 - Mengeksplorasi Ekosistem Seni Lewat Art Moments Jakarta
Brands/People Mentioned
Viana Igah, Prefinite, Askara Group, Praxis, Hotel Indonesia Kempinski, Raffles Jakarta, St. Regis Bali, Aman Group, Harumi, Art Moments Jakarta, TFL Paper, Zilo.
Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #PRAgency #ManajemenReputasi #VianaIgah #ConsciousUnbossing #HybridPR #BisnisAgensi
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Di episode kali ini, kita membedah berbagai isu panas dari kacamata Public Relations (PR) dan tata kelola krisis. Mulai dari tabrakan taksi EV yang memicu perdebatan komunikasi brand, hingga skandal proyek fiktif kementerian yang merugikan industri Event Organizer (EO) ratusan miliar rupiah! Jangan lewatkan juga diskusi mendalam tentang inkonsistensi kebijakan insentif kendaraan listrik dan fenomena meresahkan di mana publik harus viral dulu di podcast untuk mendapat keadilan.
Dengarkan terus untuk mendapatkan wawasan tajam seputar strategi komunikasi dan public affairs! Jangan lupa Subscribe dan Like untuk mendukung diskusi kami. 🎧 Dengarkan juga di Spotify:https://open.spotify.com/show/5hj7EcLAUfoS5hvuBVhaaf?si=6b4a45bde6ea45b3
🎙️ Executive Summary (TL;DR)
Episode Proxemics Podcast ini menyoroti analisis krisis komunikasi pada kasus kecelakaan taksi listrik (EV) di mana pernyataan resmi brand dinilai kurang empatis. Diskusi berlanjut pada polemik insentif EV, mempertanyakan apakah kebijakan ini stimulus industri atau sekadar subsidi bagi masyarakat menengah ke atas. Kami juga membedah kelemahan tata kelola pengawasan dalam kasus SPK fiktif oknum Kemenperin yang merugikan vendor EO hingga Rp124,8 miliar, ancaman krisis kepercayaan perbankan, serta pesan kritik sosial dalam film terbaru Joko Anwar.
💡 Key Takeaways
❓ Q&A Strategis
Apa yang salah dari komunikasi krisis brand taksi EV pasca kecelakaan? Pernyataan awal mereka dinilai hanya fokus pada perlindungan hukum dan factual update untuk meredam spekulasi, namun gagal menunjukkan empati dan simpati mendalam terhadap situasi korban.
Mengapa kasus SPK fiktif di Kemenperin bisa terjadi dan sangat merugikan EO? Oknum pejabat memanfaatkan wewenangnya untuk membuat proyek tanpa dasar anggaran. EO yang percaya pada relasi atau proses formalitas terjebak mengeluarkan modal sendiri (menalangi) untuk acara yang secara resmi tidak terdaftar.
Bagaimana tanggapan terkait kebijakan pajak EV saat ini? Terdapat dua pandangan: insentif EV krusial untuk menarik investasi asing (FDI), namun di sisi lain bisa dianggap tidak adil atau menjadi subsidi kelas menengah atas jika diterapkan tanpa batasan/kuota yang jelas.
⏱️ Timestamps
00:00 - Highlight & Pengantar Episode 01:42 - Kecelakaan Taksi EV: Analisis Statement Krisis & Empati 16:25 - Polemik Insentif EV: Stimulus Industri vs Subsidi Orang Kaya? 32:37 - Kasus SPK Fiktif Kemenperin 124 Miliar & Nasib Agensi 49:32 - Kasus Penipuan Bank & Bahaya Era "Viral Justice" 55:34 - Pesan Terselubung & Kritik Sosial di Film Joko Anwar 01:01:52 - Lelang Spektrum 700 MHz: Infrastruktur Penting untuk Era AI
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Industri kecantikan Indonesia memiliki 7.500 brand yang bersaing ketat. Bagaimana Paragon Corp dengan 16 brand-nya seperti Wardah dan Emina memenangkan persaingan menggunakan AI dan Generative Engine Optimization (GEO)? Tonton episode ini sampai habis untuk mengetahui rahasia dapurnya, dan jangan lupa untuk Subscribe serta tinggalkan Like Anda!
🎙️ Executive Summary (TL;DR)
Episode podcast Proxemics kali ini menghadirkan Tessi Fathia Adam, Senior Group Head Global Technology Business Accelerator di Paragon Corp. Diskusi strategis ini membedah transformasi digital dalam ekosistem beauty brand, mencakup peluncuran Wardah GPT, transisi dari SEO konvensional ke GEO, serta penerapan prinsip Ethical AI.
💡 Key Takeaways
❓ Q&A Strategis
Apa itu prinsip Ethical AI di Paragon Corp? Penggabungan strategis antara kecerdasan buatan dan kontrol manusia. Manusia bertindak sebagai konseptor, sedangkan AI difungsikan sebagai eksekutor agar pekerjaan operasional menjadi lebih terskala dan efisien tanpa kehilangan akurasi.
Mengapa brand harus mulai beralih dari SEO ke GEO? Pergeseran perilaku konsumen adalah kunci utamanya. Audiens mulai beralih ke layanan konsultasi berbasis AI (seperti ChatGPT) untuk mencari produk. Marketer harus mengoptimalkan informasi produk (GEO) agar muncul dalam algoritma rekomendasi mesin generatif tersebut.
⏱️ Timestamps
00:00 - Persaingan Ketat 7.500 Brand Kecantikan di Indonesia 02:08 - Siapa Tessi Fathia Adam & Perannya di Paragon04:24 - Transformasi Digital Era COVID & Customer Care via WhatsApp 08:55 - Strategi Hyper-Segmentation untuk 16 Brand 16:16 - Mencegah Kanibalisasi Produk Antar Brand Paragon 24:47 - Prinsip Ethical AI: Kombinasi Ekspertis Manusia & Skalabilitas AI 33:04 - Peran Mega KOL vs Kebutuhan Nano/Micro Influencer 36:42 - Ekosistem Afiliator Paragon Creator Hub 40:19 - Komunikasi & Orkestrasi Antar Brand Manager 51:44 - Evolusi Tren Pencarian: Beralih dari SEO ke GEO 55:48 - Budaya Kerja Organisasi: Iterasi, Agility, & Standar Hiring
👥 Credits & Links
Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
Tags: #PublicRelationsIndonesia #DigitalMarketingID #GenerativeEngineOptimization #StrategiBisnis #PodcastKomunikasi #BeautyIndustryID #MarketingStrategy #podcastpublicrelations #publicrelationspodcast
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Di episode kali ini, kita membongkar berbagai isu hangat dari kacamata Public Relations dan Public Affairs, mulai dari kacaunya komunikasi pemerintah soal BBM hingga ancaman AI yang menurunkan trafik media massa hingga 50%. Jangan lewatkan diskusi mendalam tentang bagaimana krisis ini mempengaruhi masa depan industri kreatif dan kebebasan pers di Indonesia!
Subscribe dan like untuk mendapatkan insights strategi komunikasi.
Poin-Poin Penting Episode Ini:
Krisis Komunikasi Pemerintah: Kurangnya transparansi, konsistensi, dan kejelasan arahan dari pembuat kebijakan terkait spekulasi kenaikan harga BBM menciptakan informasi yang berseliweran dan kebingungan masif di masyarakat.
Disrupsi AI & Ancaman Pers: Penggunaan AI yang melakukan crawling pada portal berita menyebabkan penurunan trafik kunjungan media secara drastis. Di sisi lain, intervensi pemilik modal yang mem-bypass ruang redaksi menjadi ancaman serius bagi independensi dan demokrasi pers.
Kriminalisasi Pelaku Kreatif: Kasus pekerja video Amsal Sitepu menyoroti minimnya pemahaman aparat terhadap proses bisnis production dan post-production. Tagihan biaya editing yang dianggap kerugian negara berpotensi membuat agensi swasta takut bermitra dengan instansi pemerintah.
Hegemoni Wacana Geopolitik: Perang modern adalah perang opini di mana aktor negara rela membayar influencer jutaan dolar untuk menjaga citra dan memutarbalikkan etika komunikasi publik.
Tanya Jawab Seputar Episode Ini:
Q: Apa penyebab utama penurunan trafik media siber saat ini?
A: Penyebab utamanya adalah pergeseran konsumsi audiens menuju AI. Mesin pencari berbasis AI secara otomatis merangkum berita dari berbagai media langsung ke layar pengguna, membuat audiens tidak perlu mengeklik atau mengunjungi situs asli media tersebut.
Q: Mengapa kasus Amsal Sitepu sangat mengkhawatirkan bagi pekerja agensi dan industri kreatif?
A: Kasus ini membuktikan bahwa aparat hukum tidak memahami wajar-tidaknya struktur biaya industri kreatif. Penagihan tahapan post-production seperti editing dan dubbing justru dikategorikan sebagai praktik yang merugikan negara, yang pada akhirnya dapat menghancurkan ekosistem bisnis dan menakuti vendor yang ingin membantu pemerintah.
Q: Bagaimana pakar PR memandang informasi yang beredar terkait konflik Timur Tengah?
A: Pakar PR melihatnya sebagai bentuk dominasi dan hegemoni wacana. Negara-negara yang berkonflik menggunakan taktik PR, media massa, hingga budaya pop (film) secara sistematis untuk menutupi realitas kejahatan dan merekayasa opini publik dunia.
Timestamps:
00:00 - Highlight & Pengantar Episode
01:17 - Isu Spekulasi BBM & Bias Kelas Menengah
06:10 - Subsidi Salah Sasaran: Solar & Transisi LPG
11:27 - Evaluasi Kritis Terhadap Komunikasi Publik Pemerintah
19:15 - Bahaya AI: Trafik Media Anjlok 50%
25:39 - Jurnalisme Kepiting & Ancaman Intervensi Pemilik Media
29:26 - Kasus Amsal Sitepu: Aparat Gagal Pahami Industri Video
34:11 - Alasan Utama Swasta Menghindari Proyek Pemerintah
42:47 - Kacamata PR: Perang Media & Hegemoni Geopolitik
55:36 - Manajemen Isu Industri Otomotif: Kasus Mobil Hybrid Terbakar
Entitas & Tokoh yang Disebut:
AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia), Amsal Sitepu, ChatGPT, Antonio Gramsci, Chery Tiggo, Wuling, BYD, Toyota, PBB.
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#PublicRelationsIndonesia #KomunikasiStrategis #PublicAffairs #IndustriKreatif #HegemoniMedia #PodcastIndonesia
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Gejolak geopolitik Timur Tengah, kontroversi beasiswa LPDP, hingga heboh impor ratusan ribu mobil dari India—ada apa dengan pembuat kebijakan dan ruang publik kita belakangan ini? 🤔 Tonton obrolan tajam dan seru ini sampai habis! 👇
Topik Utama yang Dibahas:
Geopolitik & Krisis Ekonomi: Dampak konflik Timur Tengah terhadap melonjaknya harga minyak dunia dan nasib subsidi BBM di Indonesia, serta crisis management secara real-time saat tim media terjebak penutupan airspace.
Kontroversi LPDP: Mengupas fenomena expectation gap antara penerima dana pajak publik dan ekspektasi masyarakat, serta bagaimana Algorithmic Gatekeeping Theory membentuk opini massal.
Kebijakan Impor & Iklim FDI: Analisis polemik impor 105.000 unit kendaraan niaga (Tata & Mahindra) dari India, dan ancamannya terhadap produsen lokal serta ekosistem investasi (FDI).
Social License to Operate: Bedah kasus menjamurnya lapangan Padel di area perumahan, benturan zonasi tata ruang, dan pentingnya externality cost bagi pelaku usaha.
Peluncuran Prognosa: Perkenalan layanan riset terbaru dari Praxis yang berfokus pada business forecasting, policy impact studies, dan market behavior.
Key PR Insights & Analysis:
Q: Apa dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia?
A: Dampak terbesarnya ada pada fluktuasi harga minyak mentah dunia yang secara instan membebani anggaran subsidi BBM dan gas negara. Selain itu, ini juga menyangkut kewajiban evakuasi dan keamanan pekerja migran Indonesia (PMI) di kawasan tersebut.
Q: Mengapa isu penerima beasiswa LPDP sangat memicu kemarahan publik?
A: Terjadi expectation gap (kesenjangan ekspektasi). Publik merasa kucuran dana pajak seharusnya diiringi dengan tanggung jawab moral (return of service) yang kuat kepada negara, bukan glorifikasi terhadap perolehan kewarganegaraan asing.
Q: Apa itu Algorithmic Gatekeeping Theory dalam ranah media sosial?
A: Ini adalah teori di mana algoritma platform menentukan konten apa yang visible, menjadi tren, dan suaranya diamplifikasi. Algoritma ini seringkali mengarahkan opini publik secara masif dan mempercepat polarisasi komentar.
Q: Mengapa izin resmi saja tidak cukup untuk bisnis seperti lapangan Padel di perumahan?
A: Selain izin teknis (Technical License to Operate) seperti IMB dan zonasi, bisnis modern wajib memiliki Social License to Operate. Ini berarti harus ada penerimaan dari warga sekitar dan kompensasi atas externality cost (dampak kerugian seperti kebisingan dan kemacetan parkir).
⏳ Timestamps:
00:00 Intro: Ketegangan Geopolitik & Efek Domino Harga Minyak
11:00 Crisis Management: Tim Terjebak Penutupan Airspace MWC
16:05 Fenomena Penerima LPDP, Expectation Gap & Agenda Setting
34:10 Polemik Impor 105.000 Mobil dari India (Tata & Mahindra)
41:50 Isu Lapangan Padel & Pentingnya Social License to Operate
48:00 Etika Pejabat Publik & Pembelian Mobil Dinas Miliaran
54:10 Peluncuran "Prognosa": Unit Riset Prediktif dari Praxis
Brands & Entities Mentioned:
Praxis, Proxemics Podcast, Explicar, Prognosa, LPDP, Tata Motors, Mahindra, MWC (Mobile World Congress), KPK, US-Indonesia Reciprocal Tariff.
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#PublicRelations #ProxemicsPodcast #Geopolitik #LPDP #KebijakanPublik #InvestasiIndonesia #Prognosa #PodcastIndonesia
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Industri Otomotif Kini Persis Industri Smartphone 15 Tahun Lalu
Industri otomotif saat ini sedang mengalami disrupsi besar-besaran, persis seperti industri smartphone 15 tahun lalu dengan masuknya berbagai brand China yang menawarkan harga agresif dan siklus pembaruan model yang sangat cepat. Kondisi ini memicu perang harga dan mengubah ekspektasi konsumen terhadap standar fitur, membuat loyalitas pelanggan dan strategi retensi menjadi arena pertarungan yang sesungguhnya bagi para pelaku industri.
In this episode of Proxemics Podcast...
Kita akan membedah strategi bertahan dan taktik pemasaran di tengah pasar otomotif yang sangat dinamis bersama Fahri Basalamah. Kamu akan mempelajari pentingnya konsistensi pesan dalam media mix yang solid, perbedaan fundamental antara pola pikir Public Relations (PR) dan Marketing, serta bagaimana merawat perjalanan konsumen (Customer Life Cycle) dari fase sebelum pembelian hingga tahapan kepemilikan jangka panjang.
Key PR Insights & Analysis
Timestamps:
0:00 - Intro & Analogi Otomotif vs Smartphone
5:18 - Fenomena Perang Harga & Ketahanan Raksasa Otomotif
15:32 - Strategi Konsistensi Pesan & Pentingnya Media Mix
33:49 - Dinamika Internal: PR sebagai Brand Guardian vs Marketing
42:27 - Pameran Otomotif: Ajang Jualan atau Entertainment?
51:18 - Urgensi Thought Leadership & Edukasi Keamanan EV
1:01:05 - Membedah Praktik Customer Life Cycle & CRM
Brands/People Mentioned:
Fahri Basalamah, Reza Amirul, Hyundai (Santa Fe, Creta, Ioniq 5 N, Palisade), BYD, Chery, Toyota (Alphard), Ford (Raptor F150), Xiaomi, IIMS & GIIAS.
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #IndustriOtomotif #CustomerLifeCycle #otomotifindonesia #marketingindonesia #publicrelationspodcast
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Apakah industri kreatif akan hancur dengan kemunculan generative AI? Di episode Proxemics Podcast kali ini, kita membedah evolusi peran pekerja kreatif di era kecerdasan buatan bersama Boss Kreatif Bank Jago, Alpine Pribadhy. Kami membahas cara kerja agency modern, benturan strategis antara manajemen risiko PR vs kebebasan kreatif, dan bagaimana "taste is the new currency".
💡 FAQ & Key Insights
Q: Apakah Generative AI akan menggantikan pekerjaan di industri kreatif? A: Tidak sepenuhnya. Meskipun toolsAI bisa mengeksekusi urusan teknis seperti pembuatan copy, gambar, dan ide dalam hitungan detik, ada celah yang tidak bisa diisi oleh AI: judgement (kemampuan menilai), kurasi, dan empati. AI tidak akan mengambil alih pekerjaan, tetapi pekerja yang bisa menggunakan AI sebagai partner brainstorming akan menggeser mereka yang menolak adaptasi.
Q: Mengapa tim PR dan Kreatif sering bentrok saat membuat marketing campaign? A: Bentrokan terjadi karena perbedaan prioritas dasar. Tim PR berfokus pada mitigasi risiko, kepatuhan bisnis, dan menghindari backlash publik. Di sisi lain, tim kreatif mengutamakan eksplorasi dan mencari ide paling berani untuk memaksimalkan impact. Solusinya terletak pada komunikasi strategis dan pemahaman batasan brand.
Q: Apa skill paling penting untuk pekerja kreatif di era AI? A: Taste (selera) dan judgement. AI bisa memproduksi aset secara instan, namun AI tidak memiliki hati atau empati untuk memvalidasi apakah karya tersebut bisa menyentuh audiens dan benar-benar mewakili persona brand.
Q: Apa bahayanya jika brand asal mengikuti tren viral di media sosial? A: Banyak tren viral (seperti di TikTok) yang konteks aslinya negatif, nonsense, atau bahkan berasal dari tragedi. Jika sebuah brand melakukan riding the wavetanpa critical thinking atau penyesuaian dengan brand archetype, mereka sangat berisiko merusak reputasi jangka panjang demi engagement sesaat.
⏱️ Episode Timestamps
🔗 Mentions & Connections
Brands/People Mentioned: Alvin Pribadi, Bank Jago, ChatGPT, Gemini, Nano Banana, Higfield, Taylor Swift, Donald Trump, Bruce Willis, Apple, Samsung, Burger King, McDonald's, BMW, Mercedes-Benz, Honda, Joko Anwar, Nirvana, Queen, The Beatles, Blink-182, Sensodyne, Adweek, Kaskus, One Piece, TikTok, Instagram.
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
Tags: #PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #IndustriKreatif #StrategiMarketing #ArtificialIntelligence
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Industri pemasaran kini menghadapi perubahan besar: terbelah antara pembangunan brand jangka panjang dan pemasaran digital berbasis performa yang berorientasi jangka pendek. Di saat yang sama, adopsi artificial intelligence (AI) menantang peran tradisional marketer dan memunculkan pertanyaan tentang masa depan profesi ini.
Di episode Proxemics Podcast kali ini, kami berbincang bersama veteran C-level marketer, Edward Kilian Suwignyo, membahas kebangkitan marketer yang well-rounded atau full-stack. Pelajari bagaimana memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, karakter utama dalam membangun tim marketing unggulan, serta bagaimana Blibli berhasil mengintegrasikan ekosistem online dan offline mereka.
Key PR Insights & Analysis
Q: Apakah AI akan menggantikan marketer?
A: AI tidak akan menggantikan marketer yang berpikir strategis, melainkan membantu mereka bekerja lebih cepat dan efisien. Sebaliknya, pekerjaan yang hanya mengandalkan eksekusi manual dan repetitif semakin berisiko tergantikan.
Q: Apa kriteria terpenting saat merekrut talenta marketing?
A: Mindset adalah prioritas utama. Keahlian, pengalaman, dan leadership dapat dikembangkan, tetapi pola pikir yang salah sulit diperbaiki.
Q: Bagaimana Blibli membangun ekosistem omnichannel?
A: Blibli menyatukan seluruh basis data pelanggan dalam sistem unified member, sehingga pengguna Blibli, tiket.com, dan Ranch Market dapat menikmati rewards yang terintegrasi di seluruh platform online maupun offline.
Timestamps
0:00 – Intro & Mengenal Edward Kilian Suwignyo
2:57 – Brand Marketers vs Digital Marketers
7:06 – Mengapa Mindset Lebih Penting dari Skill
10:42 – Skill yang Bagus di Atas Kertas, Tapi Tidak Berdampak
14:12 – Spesialis vs Generalis
18:13 – AI dan Produktivitas Marketer
26:04 – Leadership & Kemampuan Memengaruhi Orang
34:39 – Struktur Tim Marketing Modern
46:12 – Budaya Bisnis Grup Djarum
56:59 – Masa Depan Marketing Terintegrasi
1:03:25 – Risiko Menyerahkan Pemikiran Strategis ke ChatGPT
1:07:48 – Strategi Omnichannel Blibli
1:14:08 – Tantangan "2 Hours Delivery"
Brands/People Mentioned
Edward Kilian Suwignyo (Kiki) • Jonathan Tenggara (Jonte) • Blibli • LinkAja • elevenia • OLX • tiket.com • Ranch Market • Farmers Market • Dekoruma • Djarum • ChatGPT
Hashtags
#PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #MarketingLeadership #AIinMarketing
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
From the publisher's feed
Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.
Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art…
Instagram: @proxemics.podcast
Business Inquiries: [email protected]