
Sign up to save your podcasts
Or


Stand-up special Mens Rea Pandji Pragiwaksono bikin heboh soal batasan komedi dan brand safety. Di sisi lain, kasus Nadiem Makarim nunjukin brutalnya framing media pas mentalitas "startup" nabrak birokrasi negara. Ditambah KUHP baru & wacana larangan medsos buat anak, medan perang reputasi makin kompleks!
Di episode Proxemics kali ini, Mercy, Adwi, Sofyan dan Steph membedah irisan tajam antara hukum, budaya pop, dan strategi korporasi. Kita bahas gimana agensi harus bersikap hadapi influencer berisiko tinggi, kenapa narasi hukum sering kalah cepat dari opini publik, sampai strategi marketing kalau akses digital Gen Alpha beneran diputus negara!
🧠 Yang Kita Bedah (Q&A Highlight):
🎤 Brand Safety vs Pandji: Haruskah brand jauhin figur kontroversial? Nggak selalu! Kalau audiens brand lo menghargai keberanian & value-nya, kolaborasi tetap relevan.
📱 Kasus Nadiem & Isu "Grup WA": Kenapa isu ini merusak reputasi? Karena framing konspirasi nyebar duluan, padahal faktanya itu cuma persiapan kerja ala startup mindset. Di dunia PR, tuduhan awal sering lebih dipercaya dari fakta persidangan!
⚖️ Dampak KUHP Baru: Modernisasi hukum menuntut akuntabilitas tinggi. Brand & agensi nggak bisa lagi lepas tangan soal konten influencer, butuh manajemen risiko yang super ketat.
Lo berani hire figur kontroversial buat brand lo atau milih cari aman aja? Drop komentar kalian! 👇
⏱️ TIMESTAMPS: 00:00 - Intro: Jakarta, The Paddle Capital of the World? 01:35 - Bedah "Mens Rea" Pandji: Seni Komedi vs Ketersinggungan 16:44 - Strategi Brand: Masihkah Kami Meng-hire Pandji? 20:48 - KUHP Baru: Modernisasi Hukum atau Ancaman Agensi? 30:49 - Kasus Nadiem: Benturan "Startup Mindset" dengan Birokrasi 43:00 - Hoaks "Oplosan" Pertamina & Krisis Kepercayaan 46:00 - Wacana Larangan Medsos untuk Anak: Berkaca dari Australia 51:49 - Kasus Timothy Ronald & Bahaya Konten "Instant Success"
📌 Mentioned in this Episode: Pandji Pragiwaksono, Nadiem Makarim, Dave Chappelle, Agnez Mo, Hotman Paris, Timothy Ronald. (Brand/Institusi: Google, Netflix, Pertamina, GoTo).
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
#ProxemicsPodcast #PublicRelations #CrisisCommunication #ReputationManagement #PandjiPragiwaksono #NadiemMakarim
Sudah ready untuk di-copy-paste! Mau lanjut ke deskripsi episode berikutnya atau mau dibikinin caption medsosnya sekalian?
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Di episode kali ini, Mercy dan Steph ngobrol "daging" bareng Rachmadin Ismail (Madin), Editor-in-Chief Tirto.id. Madin bongkar dapur redaksi dan strategi media bertahan di era gempuran content creator. Alih-alih musuhan, kita bahas kenapa Tirto sekarang justru ngerangkul Homeless Media (akun info daerah)! Buat lo praktisi PR, Brand, dan Marketing, ini sesi real talk yang nggak boleh di-skip.
🧠 Yang Kita Bedah (Q&A Highlight):
Lo sering kewalahan ngadepin krisis brand atau nembus media? Drop keluh kesah kalian di komentar! 👇
⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Teaser: Cara efektif mendeteksi hoaks 01:46 - Tantangan media hari ini: Layoff & Konsolidasi 03:39 - USP Baru Tirto.id: Shifting dari Reporter ke Kurator 14:40 - Pola serangan Black Campaign & Disinformasi pada Brand 21:47 - Prinsip "Cover Both Sides" vs Influencer 24:38 - Strategi Survival: Kolaborasi dengan "Homeless Media" 27:21 - Ketegangan Media vs Influencer 31:29 - Insight Wamen: Belajar bikin hoaks untuk mendeteksi hoaks 35:16 - Masa Depan Bisnis Media: Subscription atau Donasi? 56:09 - Real Talk: Kenapa Press Release sering ditolak media? 01:02:08 - The Next Big Thing: Evolusi ke "Fact Shopping"
📌 Mentioned in this Episode: Rachmadin Ismail. (Brand/Institusi: Tirto.id).
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
#ProxemicsPodcast #PublicRelations #MediaRelations #TirtoID #FactShopping #CrisisCommunication #HomelessMedia
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Episode kali ini agak beda! Steph lagi liburan, jadi Mercy ditemenin Reza sebagai co-host dadakan buat ngobrol bareng tamu spesial: Alexander Wibisono (Wapemred Kompas TV).
Kita bedah dapur redaksi media besar yang lagi survive di era digital. Alex blak-blakan soal strategi Kompas TV ubah mindset kaku produser jadi "Content Creator", fenomena Citizen Journalism, sampai strategi "Digital First" (tayang YouTube duluan sebelum masuk TV). Penasaran nasib media massa ke depan, atau lo Gen Z yang mau jadi jurnalis tapi takut jam kerja gila? Obrolan ini daging semua!
🧠 Yang Kita Bedah:
Lo tertarik jadi jurnalis atau mending jadi content creator aja? Drop komentar kalian! 👇
⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Steph Liburan, Reza Menggantikan 1:40 - Jurnalisme Gak Akan Mati, Cuma Ganti Kulit 7:12 - Bedanya "Informasi" vs "Berita" (Verifikasi) 19:35 - Model Bisnis Media: Ads, Subscription & Programmatic 26:45 - Strategi "Digital First" Kompas TV 29:22 - Mengubah Mindset "Produser" jadi "Content Creator" 36:15 - Citizen Journalism & Fenomena "Wartawan Tuyul" 41:04 - Mobile Journalism: Keliling Dunia Modal iPhone 51:00 - Gen Z di Media: Sprinter vs Marathon Runner 56:30 - Bahaya Medsos & Regulasi untuk Anak 1:08:32 - 3 Skill Wajib Jurnalis (Networking, Curiosity, Endurance) 1:12:06 - Siap Putus Pacar Demi Liputan?
Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara
📌 Mentioned in this Episode: Alexander Wibisono, Jakob Oetama, Rosiana Silalahi, Prita Laura, Frisca Clarissa, Deddy Corbuzier, Timothy Ronald, Joko Widodo, Retno Marsudi. (Brand/Institusi: Kompas TV, Harian Kompas, YouTube, TikTok, Google, Apple/iPhone).
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru! (Note: Mercy ditemani Guest Host Reza di episode ini)
#ProxemicsPodcast #KompasTV #Jurnalisme #DigitalTransformation #MediaIndustry #ContentCreator #CitizenJournalism #GenZ
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Menutup tahun dengan diskusi berat tapi necessary, Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph kumpul di edisi Year End Wrap Up!
Kita mulai dari apresiasi buat jurnalisme data Harian Kompas yang "menampar" kita—1,4 juta hektar hutan hilang di 2023. Episode ini juga membedah gaya komunikasi pemerintah soal bencana di Sumatera yang tone deaf dan penuh "Selected Reality", fenomena jurnalis menangis yang videonya di-take down, hingga debat filosofis: Apakah Social Contract antara rakyat dan negara udah batal?
Ditambah bedah pidato Dedi Mulyadi, obrolan viral Roti O tolak uang tunai, kritik Dino Patti Djalal buat Menlu Sugiono, sampai insight daging buat agency owners hadapi tahun 2026!
🧠 Yang Kita Bedah:
Lo tim cashless garis keras atau tim bawa uang tunai buat jaga-jaga? Drop komentar kalian! 👇
⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Apresiasi Jurnalisme Data Kompas 0:44 - Data Deforestasi: 1,4 Juta Hektar Hilang di 2023 2:48 - Komunikasi Bencana: "Selected Reality" Pejabat 19:05 - Jurnalis Menangis & Sensor Media 23:00 - Birokrasi Bantuan: Izin Kayu & Donasi 37:30 - Teori "Social Contract": #BatalKontrak? 41:46 - Bedah Pidato Dedi Mulyadi (KDM) 45:30 - Refleksi Dirty Vote: Otot, Otak, Ongkos 50:50 - SEA Games 2025: Skateboarder Emas Tanpa Sambutan 53:40 - Debat Viral: Roti O & Cashless Society 1:00:14 - Kritik Dino Patti Djalal ke Menlu Sugiono 1:05:40 - Agency Life: Tips & Outlook 2026
📌 Mentioned in this Episode: Dedi Mulyadi (KDM), Prabowo Subianto, Dino Patti Djalal, Sugiono, Mayor Teddy, Maruli Simanjuntak, Prof. Arif Satria. (Brand/Institusi: Harian Kompas, BNPB, Dirty Vote, Roti O, IPB University, Praxis).
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!
#ProxemicsPodcast #Deforestasi #KompasData #SocialContract #CashlessSociety #AgencyLife #MenluSugiono #PolitikIndonesia
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Dari tragedi bencana alam di Sumatera yang minim empati pejabat, drama viral tumbler Tuku, hingga teori konspirasi "Negara Fiktif" di mana hukum bisa dibeli paketan, Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph kumpul bareng di edisi penghujung tahun ini!
Episode ini membahas kontras yang tajam: kenapa publik lebih sibuk ngurusin tumbler ketinggalan di kereta dibanding chaos penanganan bencana? Kita juga bedah strategi PR buat brand yang terseret arus viral—apakah harus ride the waveatau silent is golden? Ditambah obrolan "ngeri-ngeri sedap" soal Bea Cukai dan peluncuran kembali media cetak. Buat lo praktisi komunikasi atau sekadar pengamat fenomena sosial, episode ini packed banget!
🧠 Yang Kita Bedah:
Kalian tim emosi soal tumbler atau pusing mikirin "Negara Fiktif"? Drop komentar kalian! 👇
⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Bencana Sumatera & Refleksi Akhir Tahun 2:48 - Kritik Komunikasi Krisis: Pejabat yang "Tone Deaf" 9:05 - Di Mana Brand Saat Bencana Terjadi? 14:33 - Drama Viral: Tumbler Tuku vs Petugas KAI 24:58 - PR Strategy: Haruskah Brand "Ride the Wave"? 28:30 - Event Bloomberg Businessweek & Masa Depan Media Cetak 33:33 - Isu Bea Cukai & Mafia Hukum 42:54 - Satir "Negara Fiktif": Hukum Paket Hemat 51:43 - Thanksgiving: 14 Tahun Perjalanan Agency 57:15 - Teaser PR & Public Affairs Outlook
📌 Mentioned in this Episode: Purbaya Yudhi Sadewa, Tom Lembong, Mario Dandy, Agung Laksamana. (Brand & Institusi: Tuku, KAI, BNPB, Bloomberg Businessweek, Bea Cukai, PAFI).
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!
#ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicRelations #Tuku #BeaCukai #HukumIndonesia #BloombergBusinessweek #AgencyLife
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Dari debat panas EV vs. hybrid, gempuran brand China, hingga realita "Charge Anxiety" di Indonesia, Danang Aradian (Cak Dan) balik lagi ke Proxemics!
Kita bedah tuntas industri otomotif: kenapa EV Rp250 juta bikin geger pasar dan gimana raksasa Jepang (Honda) merespons dengan strategi beda. Kita juga bahas kenapa iPhone tetap laku keras meski minim inovasi, plus ngobrolin AI kayak Gemini Live yang makin mirip film Her. Tech enthusiast atau yang lagi galau beli EV wajib dengerin!
🧠 Yang Kita Bedah:
Lo tim EV China yang sat-set atau hybrid Jepang yang fun to drive? Drop komentar kalian! 👇
⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: SUV Seharga 250 Juta 1:12 - Kembalinya Danang Aradian (Cak Dan) 2:54 - Sorotan GJAW: Serbuan Brand Baru 5:40 - Fenomena "J5": SUV Listrik Seharga LCGC 11:39 - Debat Insentif Pajak EV: Apakah Adil? 16:05 - Japan Mobility Show: Strategi Hybrid Honda 18:28 - Bikin EV Jadi Seru: Gigi Manual & Suara Palsu 21:55 - Jepang vs China: Kesempurnaan vs Dominasi 29:43 - Stagnasi Industri Smartphone & Dominasi Apple 42:20 - Revolusi AI: Ngobrol Bareng Gemini Live 47:25 - Masa Depan Media: Bertahan di Tengah Ekuilibrium 54:00 - Realita Punya EV: "Charge Anxiety" 1:07:40 - Kenapa PHEV Sebenarnya Ideal untuk Indonesia
📌 Mentioned in this Episode: Danang Aradian, Elon Musk, Honda, BYD, Wuling, Toyota, Apple, Google, PLN, Voltron, Sindo News, Instagram. (Film/Konsep: Her, Data is Beautiful, Charge Anxiety).
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!
#ProxemicsPodcast #DanangAradian #Otomotif #EVIndonesia #AppleVsAndroid #ArtificialIntelligence
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Dari layar kaca sebagai news anchor hingga masuk ke jantung komunikasi istana, Prita Laura hadir di Proxemics membedah dunia Crisis Communication.
Episode ini mengupas tuntas kenapa "memadamkan api" saja tidak cukup saat krisis brand melanda. Prita membagikan pengalamannya memakai "kacamata jurnalis" untuk melihat realita lapangan, bukan sekadar laporan di atas meja. Kita juga bahas The Psychology of Stupidity, bahaya Dunning-Kruger Effect, hingga analisis gaya komunikasi Presiden Jokowi vs. Prabowo. Ini adalah "kuliah" gratis soal strategi, mitigasi, dan critical thinking!
🧠 Yang Kita Bedah:
Kalian tim gaya komunikasi yang mana? Kalem atau tegas to the point? Drop komentar kalian! 👇
⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro & Highlight 0:51 - Prita Laura: From Anchor to Crisis Expert 2:34 - Switching Sides: Journalist to Gov PR 4:45 - Ground Reality vs. Reports 7:40 - The "X-Ray" Vision 13:12 - Biggest Mistake in Crisis Comms 17:52 - Skyscrapers without Fire Exits (Mitigation) 20:13 - Critical Thinking & Psychology of Stupidity 23:38 - Spiral of Silence & Social Pressure 27:33 - Dunning-Kruger Effect 32:15 - Gen Z in the Workplace 37:54 - Media Relations 101 41:39 - Jokowi vs. Prabowo: Comms Style Analysis 45:41 - 3 Traits for Success in Crisis Comms
📌 Mentioned in this Episode: Prita Laura, Joko Widodo, Prabowo Subianto, Sri Mulyani, Donald Trump, Jeffrey Rachmat, KSP, Metro TV, Taco Bell, Instagram. (Buku: The Psychology of Stupidity, Thinking, Fast and Slow).
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi komunikasi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!
#ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicRelations #PritaLaura #CriticalThinking
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Dari koridor kementerian hingga viral di media sosial, komunikasi adalah pedang bermata dua. Episode Proxemics kali ini membedah tiga spektrum komunikasi yang berbeda: gaya kepemimpinan politik, manajemen reputasi infrastruktur negara, dan penanganan krisis FMCG.
Kami menganalisis gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya yang memicu perdebatan: apakah ketegasannya adalah "obat kuat" bagi birokrasi atau sekadar gimik tanpa akuntabilitas? Kami juga menyoroti proyek Kereta Cepat Whoosh—bukan dari sisi teknis, melainkan dari kacamata legacy sejarah (Dinasti Syailendra) vs realitas utang negara. Tak ketinggalan, bedah kasus krisis viral Aqua dan oleh-oleh ilmu Neuromarketing langsung dari SXSW Sydney.
Berikut adalah rangkuman analisis strategis dari diskusi ini:
Q: Apakah gaya komunikasi "Koboy" Menkeu Purbaya efektif untuk birokrasi Indonesia? A: Gaya komunikasi maskulin dan direct ala Purbaya memang efektif untuk memotong rantai birokrasi dan menciptakan persepsi "kerja cepat". Namun, dalam konteks budaya Indonesia yang cenderung high-context dan feminim (mengutamakan harmoni), gaya ini berisiko dianggap arogan jika tidak diimbangi dengan accountability yang transparan.
Q: Bagaimana menyeimbangkan narasi "Legacy Peradaban" Whoosh dengan isu beban utang? A: Proyek Whoosh sering dibandingkan dengan pembangunan Borobudur oleh Dinasti Syailendra—sebuah legacy peradaban jangka panjang. Namun, untuk meredam isu utang, narasi PR harus bergeser ke solusi tata kelola konkret, seperti skema BOT (Build-Operate-Transfer) atau Transfer of Technology, agar proyek ini tidak menjadi beban APBN yang mencederai reputasi pemerintah.
Q: Apa pelajaran PR utama dari kasus viral "Sidak Aqua"? A: Kasus ini adalah contoh klasik kegagalan PR Onsite. Dalam era digital, setiap karyawan lapangan adalah brand ambassador. Ketidaksiapan tim di lapangan menghadapi konfrontasi kamera menyebabkan framing negatif menyebar liar, merusak branding yang dibangun puluhan tahun.
Q: Apa insight Neuromarketing dari SXSW Sydney untuk campaign yang sukses? A: Kuncinya adalah keseimbangan antara Novelty (kebaruan) dan Mere Exposure Effect (familiaritas). Otak manusia menyukai hal baru, tapi lebih mempercayai hal yang familiar. Campaign yang sukses harus memiliki unsur kejutan namun tetap terasa dekat dengan audiens.
Timestamps Topik Penting: (00:00:52) Analisis Gaya "Koboy" Menkeu Purbaya & Budaya Komunikasi (00:13:35) Whoosh: Antara Simbol Peradaban & Jeratan Utang (00:22:18) Solusi Tata Kelola: BOT & Transfer Teknologi (00:29:42) Bedah Krisis Komunikasi Aqua: Pentingnya PR Onsite (00:39:01) Fenomena Apple: Ketika Brand Prestige Mengalahkan Kritik Produk (00:48:33) Laporan SXSW Sydney: Neuromarketing & AI
Narasumber & Brand:
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#PublicAffairs #CrisisCommunication #PoliticalPR #Whoosh #MenkeuPurbaya #AquaDanone #SXSW #Neuromarketing #ProxemicsPodcast #CorporateAffairs
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
Bagaimana Kopi Kenangan bertransformasi dari kedai kopi lokal menjadi Unicorn F&B pertama di Asia Tenggara dengan valuasi miliaran dolar? Di pasar yang sangat price-sensitive dan penuh persaingan, strategi apa yang membuat mereka bertahan?
Di episode ini, Proxemics berbincang dengan Ananditha Mayasari (Ditha), VP of Marketing Kenangan Brands. Dengan latar belakang unik (Lulusan Fisika UI yang banting setir ke Sales B2C), Ditha membedah realita industri kopi: dari menghadapi loyalitas ganda (dualism) Gen Z, hingga seni memimpin tim tanpa drama.
Berikut adalah rangkuman insight strategis dari diskusi ini:
Q: Bagaimana strategi Kopi Kenangan menghadapi kompetitor lokal dan loyalitas Gen Z yang tidak setia? A: Gen Z memiliki karakter "Dualism Loyalty" (setia pada beberapa brand sekaligus). Alih-alih memusuhi kompetitor seperti Tuku, Fore, atau Janji Jiwa, Kopi Kenangan justru merangkul mereka sebagai "Kolektif" melalui kampanye Indonesian Pride. Tujuannya adalah membesarkan market share kopi lokal melawan raksasa global, bukan saling mematikan.
Q: Mengapa pengalaman Sales B2C dianggap fondasi terbaik untuk karier Marketing? A: Ditha menekankan bahwa Sales mengajarkan Resiliensi (ketahanan mental) dan Human Psychology (kemampuan membaca orang) yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Kemampuan menerima penolakan dan memahami kebutuhan konsumen secara langsung adalah skill paling mahal bagi seorang Marketer.
Q: Apa "Red Flag" terbesar dalam kepemimpinan dan rekrutmen tim menurut Ditha? A: Kebohongan (Lack of Integrity). Dalam memimpin, Ditha mencari tiga kualitas non-teknis utama: Willingness to Learn, Humility (kerendahan hati), dan Integrity. Skill teknis bisa diajarkan, tetapi integritas adalah karakter harga mati.
Q: Sejauh mana peran AI dalam industri F&B yang mengandalkan rasa? A: AI tidak bisa menggantikan taste (rasa) dan sentuhan manusia dalam hospitality. Namun, Kopi Kenangan menggunakan AI untuk mempercepat proses operasional, analisis data konsumen, dan efisiensi supply chain.
Timestamps Topik Penting: (00:00) Intro & Profil Ananditha Mayasari (Fisika UI to Marketing) (02:17) Realita F&B: Profitabilitas vs Price-Sensitive Market (08:00) Strategi "Indonesian Pride": Merangkul Tuku, Fore, & Janji Jiwa (13:53) The Art of Sales: Membangun Mental Baja & Membaca Orang (25:14) Leadership Crisis: Mengelola Ego Tim vs Ekspektasi Stakeholder (30:05) Red Flag Rekrutmen: Mengapa Integritas Lebih Penting dari Skill (35:14) Batasan & Potensi AI di Industri F&B (52:21) Live Insight dari SXSW Sydney: Masa Depan Data & Branding
Narasumber & Brand:
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
#KopiKenangan #KenanganBrands #FnbBusiness #MarketingStrategy #GenZMarketing #SalesTips #Leadership #UnicornIndonesia #BisnisKopi #AnandithaMayasari #ProxemicsPodcast
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
SNBP 2026 mengalami perubahan besar. Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini resmi menjadi syarat wajib, bukan lagi sekadar nilai rapor. Mengapa Kemendikdasmen mengambil langkah ini? Apakah ini bentuk lain dari Ujian Nasional (UN)?
Di episode ini, Proxemics mengundang dua narasumber otoritatif: Dr. Handaru Catu Bagus (Pusmendik Kemendikdasmen) dan Psikolog Neliana Puspitasari (Yayasan Psikolog Masuk Sekolah) untuk menjawab keresahan siswa dan orang tua.
Berikut adalah rangkuman jawaban atas pertanyaan paling sering dicari (FAQ) seputar TKA SNBP 2026 yang dibahas tuntas dalam episode ini:
Q: Apa itu TKA dalam SNBP 2026 dan apa bedanya dengan UN? A: TKA bukan pengganti kelulusan seperti UN. TKA berfungsi sebagai validator eksternal untuk menstandarisasi nilai rapor siswa dari berbagai sekolah yang kualitasnya beragam. Ini adalah solusi pemerintah untuk menghapus praktik "sedekah nilai" (inflasi nilai rapor) agar seleksi SNBP lebih adil (fair).
Q: Materi apa saja yang diujikan dalam TKA? A: Siswa akan menghadapi:
Q: Apakah buku latihan soal TKA di pasaran bisa dipercaya? A: Hati-hati. Dr. Handaru memperingatkan bahwa banyak buku "Latihan Soal TKA" yang beredar saat ini hanyalah kumpulan soal UN lama (recycled) yang tidak relevan dengan kerangka asesmen TKA baru. Gunakan simulator resmi "Ayo Coba TKA" dari Kemendikdasmen untuk latihan yang akurat.
Q: Bagaimana strategi belajar TKA yang efektif menurut Psikolog? A: Hindari SKS (Sistem Kebut Semalam). Gunakan teknik Pomodoro (25 menit belajar, 5 menit istirahat) dan Spaced Repetition (pengulangan berkala). Tidur yang cukup adalah kunci agar memori jangka pendek tersimpan menjadi memori jangka panjang (konsolidasi memori).
Q: Apakah nilai TKA hanya untuk SNBP? A: Tidak. Ke depannya, skor TKA diproyeksikan menjadi "mata uang" akademik yang bisa digunakan untuk mendaftar sekolah kedinasan (TNI/Polri), rekrutmen BUMN, hingga syarat masuk universitas luar negeri (menggantikan fungsi SAT).
Timestamps Topik Penting: (00:00:21) Isu "Sedekah Nilai" & Mengapa TKA Diperlukan (00:07:47) Bocoran Materi Prioritas TKA & Mapel Pilihan (00:12:30) Awas Scam! Buku Bimbel TKA Palsu vs Simulator Resmi (00:15:57) Teknik Belajar: Pomodoro & Active Recall (00:20:35) Teknis Ujian: Pengawasan Zoom & Durasi (00:29:17) Cara Membaca Hasil TKA (Kurang, Baik, Istimewa) (00:37:18) Panduan Orang Tua: Menjadi Support System Anti-Toksik
Narasumber & Referensi:
🏢 Our Agencies: https://whitewood.ai | https://praxis.co.id | https://prajna.co.id | https://explicar.co.id
Simak diskusi lengkapnya untuk memahami peta jalan baru pendidikan Indonesia.
#SNBP2026 #TKA2026 #TesKemampuanAkademik #TipsBelajar #Kemendikdasmen #Pusmendik #MasukPTN #PendidikanIndonesia #ParentingRemaja
Proxemics Podcast is produced by White Wood.
From the publisher's feed
Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.
Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art…
Instagram: @proxemics.podcast
Business Inquiries: [email protected]